Mengenal Pembengkakan Amandel atau Penyakit Tonsilitis, Sempat Diderita Cita Citata

Tonsilitis atau pembengkakan amandel adalah kondisi di mana dua bantalan jaringan berbentuk oval di bagian belakang tenggorokan mengalami radang dan bengkak. Mengutip dari Mayo Clinic, berikut adalah penjelasan selengkapnya mengenai pembengkakan amandel dan penyebab serta gejalanya.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
Mengenal Pembengkakan Amandel atau Penyakit Tonsilitis, Sempat Diderita Cita Citata
Ilustrasi Amandel. Liputan6 ©2020 Merdeka.com

Tonsilitis atau pembengkakan amandel adalah kondisi di mana dua bantalan jaringan berbentuk oval di bagian belakang tenggorokan mengalami radang dan bengkak. Tanda dan gejala tonsilitis termasuk amandel yang membengkak, sakit tenggorokan, kesulitan menelan, dan kelenjar getah bening yang lunak di sisi leher.

Kebanyakan kasus tonsilitis atau pembengkakan amandel disebabkan oleh infeksi virus yang umum, tetapi infeksi bakteri juga dapat menyebabkan amandel menjadi bengkak. Karena pengobatan yang tepat untuk tonsilitis tergantung pada penyebabnya, penting untuk mendapatkan diagnosis yang cepat dan akurat.

Pembedahan atau operasi untuk mengangkat amandel, yang pernah menjadi prosedur umum untuk mengobati tonsilitis, biasanya dilakukan hanya jika tonsilitis bakteri sering terjadi, tidak merespons pengobatan lain atau menyebabkan komplikasi serius.

Penyakit ini juga sempat diderita penyanyi cantik Cita Citata. Pedangdut ini mengaku baru selesai menjalani operasi pengangkatan penyakitnya ini.

Mengutip dari Mayo Clinic, berikut adalah penjelasan selengkapnya mengenai pembengkakan amandel atau tonsilitis dan penyebab serta gejalanya.

Mengenal Tonsilitis

Tonsilitis atau pembengkakan amandel adalah infeksi dua massa jaringan di bagian belakang tenggorokan. Amandel bertindak sebagai filter, menjebak kuman yang masuk ke saluran udara dan menyebabkan infeksi.

Mereka juga membuat antibodi untuk melawan infeksi. Tapi terkadang menjadi kewalahan oleh bakteri atau virus. Hal ini lalu membuatnya bengkak dan meradang.

Tonsilitis sering terjadi, terutama pada anak-anak. Itu bisa terjadi sesekali atau berulang kali dalam waktu singkat. Mengutip dari webmd.com, terdapat tiga jenis tonsilitis yang bisa terjadi, yaitu:

  1. Tonsillitis akut. Gejala ini biasanya berlangsung selama 3 atau 4 hari, tetapi dapat bertahan hingga 2 minggu.
  2. Tonsilitis berulang. Artinya Anda terkena tonsilitis beberapa kali dalam setahun.
  3. Tonsilitis kronis. Adalah infeksi tonsil jangka panjang.

Gejala Tonsilitis

Tonsilitis paling sering menyerang anak-anak antara usia prasekolah dan pertengahan remaja. Mengutip mayoclinic.org, tanda dan gejala umum tonsilitis meliputi:

  • Amandel merah dan bengkak
  • Lapisan atau bercak putih atau kuning pada amandel
  • Sakit tenggorokan
  • Sulit atau sakit saat menelan
  • Demam
  • Kelenjar lunak yang membesar (kelenjar getah bening) di leher
  • Suara serak, teredam
  • Bau mulut
  • Sakit perut, terutama pada anak kecil
  • Leher kaku
  • Sakit kepala

Pada anak kecil yang tidak dapat menggambarkan bagaimana perasaan mereka ketika terkena tonsilitis, tanda-tanda tonsilitis yang mereka alami termasuk:

  • Mengiler karena sulit atau nyeri menelan
  • Penolakan untuk makan
  • Kerewelan yang tidak biasa

Penyebab Tonsilitis

Tonsilitis paling sering disebabkan oleh virus yang umum, tetapi infeksi bakteri juga bisa menjadi penyebabnya. Bakteri penyebab tonsilitis yang paling umum adalah Streptococcus pyogenes (grup A streptococcus), bakteri yang menyebabkan radang tenggorokan. Strain strep lain dan bakteri lain juga dapat menyebabkan tonsilitis.

Lalu, mengapa amandel bisa terinfeksi? Amandel adalah garis pertahanan pertama sistem kekebalan melawan bakteri dan virus yang masuk ke mulut. Fungsi ini dapat membuat amandel sangat rentan terhadap infeksi dan peradangan. Namun, fungsi sistem kekebalan amandel menurun setelah pubertas, faktor yang mungkin menyebabkan kasus tonsilitis jarang terjadi pada orang dewasa.

Faktor Risiko Tonsilitis

Faktor risiko tonsilitis meliputi:

  • Usia muda. Tonsilitis paling sering terjadi pada anak-anak, tetapi jarang pada mereka yang berusia di bawah 2 tahun. Tonsilitis yang disebabkan oleh bakteri paling sering terjadi pada anak-anak berusia 5 hingga 15 tahun, sedangkan tonsilitis virus lebih sering terjadi pada anak-anak yang lebih muda.
  • Sering terpapar kuman. Anak usia sekolah berhubungan dekat dengan teman sebayanya dan sering terpapar virus atau bakteri yang dapat menyebabkan tonsilitis.

Komplikasi Tonsilitis

Peradangan atau pembengkakan amandel akibat tonsilitis yang sering atau berkelanjutan (kronis) dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Sulit bernafas
  • Gangguan pernapasan saat tidur (apnea tidur obstruktif)
  • Infeksi yang menyebar jauh ke dalam jaringan sekitarnya (selulitis tonsil)
  • Infeksi yang menghasilkan kumpulan nanah di belakang tonsil (abses peritonsillar)

Infeksi Strep

Jika tonsilitis yang disebabkan oleh streptokokus grup A atau strain bakteri streptokokus lainnya tidak diobati, atau jika pengobatan antibiotik tidak lengkap, penderita akan memiliki peningkatan risiko gangguan langka seperti:

  • Demam rematik, gangguan inflamasi yang memengaruhi jantung, persendian, dan jaringan lain.
  • Glomerulonefritis poststreptokokus, gangguan inflamasi pada ginjal yang mengakibatkan pembuangan limbah dan cairan berlebih dari darah yang tidak memadai.

Langkah Pencegahan

Kuman penyebab virus dan bakteri tonsilitis adalah jenis yang menular. Oleh karena itu, pencegahan terbaik adalah dengan mempraktikkan kebersihan yang baik. Ajari anak Anda untuk:

  1. Cuci tangannya secara menyeluruh dan sering, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum makan.
  2. Hindari berbagi makanan, gelas minum, botol air atau peralatan makan.
  3. Ganti sikat giginya setelah didiagnosis tonsilitis.

Agar infeksi ini tidak memperparah pembengkakan amandel, bisa dilakukan dengan berbagai cara. Untuk membantu mencegah penyebaran infeksi bakteri atau virus ke orang lain:

  1. Jaga penderita tetap di rumah saat dia sakit.
  2. Tanyakan kepada dokter Anda kapan anak Anda boleh kembali ke sekolah.
  3. Ajari anak Anda untuk batuk atau bersin ke tisu atau, bila perlu, ke sikunya.
  4. Ajari anak Anda untuk mencuci tangannya setelah bersin atau batuk.
Rekomendasi