Proses Terjadinya Hujan Es yang Menarik Dipelajari, Ketahui Penyebabnya
Merdeka.com - Proses terjadinya hujan es menarik untuk diketahui dan dipelajari. Hujan es termasuk dalam kategori fenomena ekstrim dan jarang terjadi di Indonesia. Sehingga, kemunculan fenomena ini biasanya akan langsung menarik minat masyarakat.
Terjadinya hujan es di Indonesia erat kaitannya dengan masalah perubahan lingkungan seperti suhu, tekanan udara, dan kelembapan. Proses terjadinya hujan es sebenarnya tak jauh berbeda dengan hujan air biasa. Yang membedakannya adalah pada proses kondensasi atau penguapan.
Proses kondensasi adalah saat uap air berubah menjadi partikel-partikel es yang dipengaruhi oleh suhu udara rendah di ketinggian. Faktor penyebab hujan es biasanya adalah peralihan musim atau pancaroba, dan adanya awan Cumulonimbus di suatu wilayah tertentu.
Berikut penjelasan selengkapnya mengenai proses terjadinya hujan es beserta penyebab utamanya yang menarik diketahui.
Penyebab Terjadinya Hujan Es
Indonesia sebagai wilayah tropis mendapatkan bonus geografis berupa surplus penyinaran matahari sepanjang tahun. Hal ini membuat wilayah freezing level di wilayah khatulistiwa (tropis) lebih tinggi dibanding wilayah lintang menengah dan tinggi, sehingga kejadian hujan es menjadi jarang terjadi.
Fenomena hujan es merupakan salah satu kejadian cuaca ekstrem yang disebabkan oleh anomali cuaca berupa jatuhan hidrometeor padat (butiran es/salju) ke permukaan bumi dan memiliki diameter antara 5-50 mm. Namun dalam beberapa kejadian ekstrem, diamater butiran es bisa lebih besar lagi.
Dalam istilah meteorologi, hujan es biasa disebut sebagai hail. Kejadian hail umumnya sangat singkat, yaitu kurang dari satu jam. Mengutip dari sinasinderaja.lapan.go.id, hujan es biasanya terjadi di wilayah ekstratropis, tetapi dapat juga terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia (Hidayati, 2015).
Penyebab hujan es adalah karena tumbuhnya jenis awan bersel tunggal berlapis-lapis (kumulonimbus) yang dekat dengan permukaan tanah atau dapat juga berasal dari multisel awan dengan luasan area horizontal sekitar 3-5 km yang tumbuh vertikal ke atas dengan ketinggian mencapai 30.000 feet atau lebih (Fadholi, 2012).
Hujan es disebabkan oleh pembekuan pada proses kondensasi. Tepatnya saat ada pengembunan mendadak akibat pergerakan massa udara naik dan turun sangat kuat di dalam awan Cumulo Nimbus. Hingga massa udara yang sangat kuat membentuk partikel es yang besar.
Proses Terjadinya Hujan Es
Hujan es adalah sebuah fenomena alam, dan proses terjadinya hujan es tak terjadi begitu saja. Melansir laman lapan.go.id, dalam ilmu meteorologi hujan es (hail) adalah presipitasi atau produk kondensasi uap air di atmosfer dalam bentuk bola-bola es.
Proses hujan diawali dengan kondensasi uap air teramat dingin melewati atmosfer di lapisan atas level beku. Es yang terbentuk umumnya memiliki ukuran besar. Dari proses tersebut, hujan es bisa muncul dengan dua cara.
Pertama, saat kumpulan es yang besar di atmosfer turun ke area lebih rendah dan hangat, maka terjadi hujan. Hanya saja, kadang tidak semua es akan mencair sempurna dan menjadikannya hujan es.
Kedua, proses lain munculnya hujan es melalui kejadian riming. Ini adalah keadaan saat uap air yang dingin tertarik ke permukaan benih-benih es. Proses mengembun yang mendadak ini memicu terbentuknya es dengan ukuran yang besar dan jatuh ke bumi sebagai hujan es.
Hujan es terbentuk apabila partikel es atau butir air hujan yang membeku, mengalami perkembangan dengan menyerap butir-butir awan yang teramat dingin pada awan cumulonimbus. Butiran tersebut melewati ketinggian level beku dengan suhu di bawah 0 derajat Celcius atau di ketinggian sekira 16.000 kaki.
Dari liputan6.com, proses terjadinya hujan es dirangkum sebagai berikut;
1. Energi panas yang dimiliki oleh matahari membuat air yang berada di laut, sungai, danau, dan sumber air dipermukaan bumi lainnya mengalami proses evaporasi atau penguapan. Semakin tinggi panas matahari, jumlah air yang menjadi uap air dan naik ke atmosfer bumi semakin banyak.
2. Uap-uap air yang naik pada ketinggian tertentu akan mengalami proses pengembunan atau kondensasi. Proses kondensasi adalah saat uap air berubah menjadi partikel-partikel es yang dipengaruhi oleh suhu udara rendah di ketinggian.
3. Fenomena hujan es terjadi saat ada pergerakan massa udara naik dan turun sangat kuat di dalam awan Cumulo Nimbus. Inilah yang membuat massa udara naik cukup kuat membawa uap air sampai ketinggian dengan udara sangat dingin.
4. Di sini ada proses naik turun massa udara yang sangat kuat hingga membentuk partikel es yang terus membesar. Ketika sudah terlalu besar, pergerakan naik tidak akan mampu dilakukan dan membuat butiran es berukuran besar jatuh ke permukaan bumi.
5. Hal ini dipengaruhi tingkat pembekuan yang turun lebih rendah dari ketinggian normal. Sehingga membuat butiran es yang jatuh ke permukaan bumi tidak mencair dengan sempurna, masih dalam bentuk bongkahan.
6. Lapisan pembekuan (freezing level) adalah lapisan pada ketinggian tertentu di atas permukaan bumi yang suhu udaranya bernilai nol derajat celcius. Pada ketinggian ini butiran air akan membeku.
7. Untuk lapisan tingkat pembekuan di Indonesia berada di kisaran ketinggian 4 km sampai 5 km di atas permukaan air laut.
(mdk/edl)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya