Pasutri di Trenggalek Ini Pernah Tak Punya Uang Sama Sekali, Kini Punya Toko Roti Terkenal yang Gratis Cicipi Sepuasnya

Para pembeli bebas mencicipi roti sepuasnya tanpa bayar

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Pasutri di Trenggalek  Ini Pernah Tak Punya Uang Sama Sekali, Kini Punya Toko Roti Terkenal yang Gratis Cicipi Sepuasnya
Pasutri di Trenggalek Ini Pernah Tak Punya Uang Sama Sekali, Kini Punya Toko Roti Terkenal yang Gratis Cicipi Sepuasnya (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pria asal Trenggalek yang akrab disapa Cak O ini sudah kenyang dengan asam garam kehidupan berkarier. Ia pernah merantau ke Jakarta hingga Kalimantan, namun uangnya selalu habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Kecintaannya pada kampung halaman membuat Cak O memutuskan pulang ke Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Di sini, ia pernah menjajal berbagai usaha dan bolak-balik gagal.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Ia kemudian bertekad  memulai membuat roti untuk dijajakan keliling. Pengalamannya di bidang roti dimulai saat ia bekerja sebagai office boy di sebuat toko roti di Jakarta pada tahun 1990-an.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Selama menjadi office boy, Cak O juga diberi tugas menimbang bahan-bahan roti. Tugas ini menjadi pintu gerbang dirinya belajar seluk-beluk roti. Kemampuannya semakin terasah saat dirinya bekerja di toko roti terkenal di Jakarta.

Pertama kali berjualan roti, Cak O membuat beragam jenis roti dengan bahan lima kilogram tepung. Saat itu, ia belum tahu siapa yang akan membeli rotinya. Sang istri pun menyaksikan kemampuan Cak O membuat Roti.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Tak disangka, pada hari pertama keliling Trenggalek, roti buatan Cak O habis terjual. Pada hari-hari berikutnya, ia menambah jumlah roti dan selalu habis terjual.

Usaha Berkembang
Dok. Istimewa

Memulai usaha roti dengan jualan keliling sekitar tahun 2020, kini Cak O sudah punya oulet tetap. Menariknya, ia memberdayakan saudara-saudara terdekatnya untuk menjalankan usaha itu.

Kini, setiap hari ia memproduksi satu karung tepung terigu. Pada saat-saat tertentu seperti ada pesanan, Cak O bisa menghabiskan tiga karung tepung terigu. Cak O dan istrinya bisa menjual 1.000 hingga 4.000 roti. 

Pasutri ini punya prinsip berbisnis tidak perlu mencari untung terlalu besar. Selain itu, keduanya juga tidak pernah lupa untuk berbagi kepada orang lain. Hal ini menjadi bentuk syukur atas rezeki yang mereka dapatkan. 

"Paling banyak sehari dapat Rp10 juta karena ada pesanan. Rata-rata harian ya Rp1 juta lebih," tutur istri Cak O. 

Gratis Cicipi Sepuasnya
Dok. Istimewa

Salah satu cara unik yang diberlakukan pasutri ini adalah membebaskan pengunjung mencicipi roti sepuasnya selama berada di Toko Roti Cak O. Pengunjung hanya perlu membeli roti yang mereka bawa pulang.

Rekomendasi