Perkembangan Otak Anak yang Sering Dimarahi, Perhatikan Dampak Buruknya

Rabu, 30 Juni 2021 14:34 Reporter : Edelweis Lararenjana
Perkembangan Otak Anak yang Sering Dimarahi, Perhatikan Dampak Buruknya ilustrasi anak belajar. © Dailymail.co.uk

Merdeka.com - Konsisten dalam hal mendisiplinkan anak adalah hal penting yang harus dipahami oleh para orang tua. Berapa pun usia anak, penting bagi orang tua untuk memiliki seperangkat aturan yang jelas dan mendidik dalam hal disiplin. Jika orang tua sendiri tidak mematuhi aturan dan konsekuensi yang mereka buat, anak-anak tentu akan mencontohnya.

Mendisiplinkan anak tidak harus dengan cara berteriak, mengomeli, atau memarahi anak. justru sebagai orang tua, Anda harus menjauhi praktik disiplin seperti itu. Karena, memarahi anak dengan suara yang kencang atau dengan nada yang tinggi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang otak anak.

Menurut Dokter Amir Zuhdi, seorang dokter otak dari Neuroscience Indonesia yang dilansir dari laman sunlife mengungkapkan jika teriakan orang tua jelas menakuti anak. Timbulnya rasa takut akan membuat tubuh anak memproduksi hormon kortisol dalam jumlah tinggi. Tingginya hormon kortisol dalam tubuh akan memutus koneksi neuron di otak. Dampak selanjutnya adalah neuron di otak anak lebih cepat mengalami kematian atau apoptosis.

Berikut uraian selengkapnya mengenai perkembangan otak anak yang sering dimarahi yang penting untuk disadari oleh para orang tua.

2 dari 4 halaman

Perkembangan Otak Anak yang Sering Dimarahi

Memarahi anak tentu bukanlah hal yang mengenakkan untuk dilakukan oleh para orang tua. Namun sebagai manusia biasa, terkadang para orang tua juga bisa lepas kontrol terhadap keadaan emosionalnya sendiri saat berhadapan dengan anak yang sulit diatur.

Adalah normal untuk terkadang merasa frustrasi terhadap perilaku anak-anak, terutama jika mereka berperilaku tidak baik. Tetapi cara orang tua mengekspresikan rasa frustrasi ini dan menghadapi situasi tersebut dapat memiliki implikasi besar pada perkembangan kepribadian dan kesehatan jangka panjang anak.

Faktanya, tindakan disiplin orang tua yang keras seperti berteriak atau marah-marah, dapat berdampak lebih besar pada perkembangan otak anak. Bahkan telah banyak dilakukan studi klinis tentang efek jangka panjang yang dapat ditimbulkan pada perkembangan otak anak yang sering dimarahi.

Dikutip dari webmd.com, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa memarahi anak bisa sama berbahayanya dengan memukul. Dalam studi ini, efek dari disiplin fisik dan verbal yang keras ditemukan sangat mirip. Seorang anak yang dimarahi lebih cenderung menunjukkan perilaku bermasalah, sehingga menimbulkan lebih banyak emosi negatif.

3 dari 4 halaman

Beberapa Alasan Orangtua Memarahi Anak

Sering memarahi anak dengan suara yang lantang dan nada yang tinggi tentu adalah siklus yang menyedihkan. Jika Anda adalah orang tua yang sering membentak atau memarahi anak-anak, lihat apakah ada alasan berikut yang sesuai dengan kondisi Anda, mengutip dari webmd.com. Jika ada, segeralah berupaya untuk menghentikan atau mengubahnya.

1. Anak Tidak Mendengarkan Saat Diberitahu

Tahukah Anda bahwa anak-anak sebenarnya akan lebih sulit untuk mendengarkan atau mematuhi perintah ketika diberitahu degan cara dibentak?

Joseph Shrand, Ph.D., instruktur psikiatri di Harvard Medical School mengatakan bahwa begitu orang tua mulai meninggikan suara atau marah, mereka mengaktifkan sistem limbik yang merupakan bagian kuno dari otak yang bertanggung jawab atas respons melawan-atau-lari.

Hasilnya mungkin kebalikan dari apa yang orang tua harapkan, karena anak-anak akan membeku, melawan, atau melarikan diri saat dimarahi atau dibentak. Untuk itu coba komunikasikan permintaan pada anak alih-alih memerintah, dan lihat apakah ada perbedaannya.

2. Memarahi Adalah Satu-Satunya Cara Agar Anak Menghormati Orangtua

Alasan ini adalah salah satu alasan paling berbahaya yang perlu untuk segera dihilangkan dari pola pikir dan pola asuh orang tua. Bersikap keras dengan memarahi atau membentak untuk mendapatkan rasa hormat dari anak justru akan membawa lebih banyak dampak negatif ke depannya.

3. Anak Tidak Akan Menurut Jika Tidak Dimarahi

Memarahi anak dengan cara berteriak menghasilkan rasa takut, bukan rasa hormat. Jadi, membentak anak sebenarnya bisa menjadi bentuk intimidasi. Sebagai gantinya, cobalah metode lain untuk membuat anak menjadi lebih penurut.

Anda bisa melakukan kontak mata dengan anak-anak, tunjukkan bahwa mereka berharga. Kemudian, dengarkan apa yang ingin mereka katakan dan bicarakan secara perlahan-lahan. Jauh lebih baik untuk mengetahui siapa anak Anda sebenarnya daripada mencoba membentuk mereka menjadi seperti yang Anda inginkan.

4. Orangtua Adalah Manusia Biasa yang Bisa Lepas Kendali

Hal ini adalah benar, namun sebagai orangtua Anda bisa mengelola emosi ini agar tak meluap dan memuncak secara tak terkendali. Mendekati situasi dari sudut yang lebih tenang akan menciptakan hasil yang lebih baik tanpa menyebabkan kerusakan emosional.

5. Orangtua Kadang Tak Punya Waktu dan Tenaga untuk Berdebat dengan Anak

Berbicara dengan anak-anak tidak membutuhkan banyak waktu daripada meneriaki atau memarahi mereka dengan suara kencang. Tetap tenang justru dapat menghemat energi, memberi Anda sumber daya emosional untuk bekerja secara lebih baik dengan anak-anak, dan bukannya melawan mereka.

6. Memarahi Mencegah Orangtua Memukul Anak

Bagi orang tua yang telah memukul anak-anak mereka, penting untuk segera mundur dari hal ini dan menyadari bahwa cara membuat siapa pun melakukan apa pun adalah melalui rasa hormat dan komunikasi.

Ketika seseorang merasa percaya, mereka akan mau melakukan sesuatu untuk Anda dalam cara yang Anda tidak akan pernah bisa membuat mereka melakukannya dengan paksa. Begitupun halnya dengan mendidik anak-anak.

4 dari 4 halaman

Dampak Perkembangan Otak Anak yang Sering Dimarahi

Jika anak sering dimarahi, apa yang akan terjadi pada perkembangan otaknya? Terputusnya neuron di otak anak yang menyebabkan gangguan neuron akan membuat emosi anak terganggu.

Bagian otak anak yang pertama kali tumbuh adalah bagian yang berhubungan dengan emosi, dan bagian terbesar dari bagian itu adalah rasa takut. Berikut adalah empat dampak yang akan terjadi pada perkembangan otak anak yang sering dimarahi:

  • Sulit Mengambil Keputusan

Otak anak yang sering dimarahi dalam perkembangannya akan sulit untuk mengambil keputusan. Anak yang sering diteriaki dan dimarahi orang tuanya akan cenderung lebih penakut. Hal ini membuat anak akan selalu ragu untuk mengambil keputusan atau melakukan sesuatu. Anak akan takut untuk bertindak karena dia takut dimarahi oleh orangtuanya jika keputusan atau tindakan tersebut dianggap salah oleh orangtua.

  • Kurang Percaya Diri

Otak anak sering dimarahi juga akan membentuk kepribadian yang selalu merasa kurang percaya diri. Rasa takut yang sering ia rasakan saat orangtua membentaknya membuat anak lebih memilih untuk diam. Mereka enggan mengambil inisiatif dan kurang percaya diri dalam melakukan sesuatu karena takut dimarahi.

  • Sulit Menerima Informasi

Perkembangan otak anak yang sering dimarahi juga cenderung lebih lambat dan membuat mereka kesulitan menerima informasi. Ketakutan semacam ini bisa membuat sambungan saraf di otak anak putus. Putusnya koneksi ini berdampak pada kelancaran penerimaan dan penyimpanan informasi yang mereka terima.

  • Kesulitan Membuat Rencana
Otak anak yang sering dimarahi juga akan menghasilkan individu yang kesulitan dalam hal pembuatan rencana. Anak akan selalu ragu untuk membuat rencana yang akan dilakukannya. Mereka akan merasa dikekang oleh orang tuanya karena takut dimarahi. Anak akan cenderung menerima apapun yang diinginkan orang tuanya karena tidak mau dibentak.

Ketika anak-anak membuat kesalahan, sebagai orangtua Anda sebaiknya memberi mereka pengertian tanpa membentak atau memarahi. Nasihat lembut yang mereka terima akan membuat mereka merasa lebih nyaman. Anak juga akan lebih mudah menerima nasihat tanpa merasa tertekan dan kecewa.

Untuk itu mulai sekarang, berhentilah memarahi anak dan jangan gunakan nada tinggi saat berbicara dengan anak-anak. Anak-anak akan lebih bersemangat dan bisa tumbuh dengan gembira jika Anda sebagai orangtua lebih memahami bagaimana cara mengatasi banyak hal tanpa memarahi.

[edl]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini