Kisah Inspiratif Perajin Tenun Ikat di Kediri, Cari Inspirasi Sampai Tak Bisa Tidur

Sabtu, 4 Juli 2020 13:33 Reporter : Rizka Nur Laily M
Kisah Inspiratif Perajin Tenun Ikat di Kediri, Cari Inspirasi Sampai Tak Bisa Tidur Tenun Ikat Kediri. ©2020 Merdeka.com/kedirikota.go.id

Merdeka.com - Pandemi COVID-19 yang tidak kunjung usai membawa dampak tersendiri bagi para pelaku industri. Seorang perajin tenun ikat di Kota Kediri, Jawa Timur juga merasakan dampak ekonomi akibat COVID-19. Penjualan tenun ikat karyanya tidak selaris hari-hari biasa.

Meski demikian, ia tidak menyerah. Berbagai inovasi dilakukan supaya produk yang dihasilkan tetap diminati pelanggan. Salah satunya dengan melakukan inovasi warna, seperti dikutip dari liputan6.com.

1 dari 4 halaman

Inovasi Warna

tenun ikat kediri

©2020 Merdeka.com/kedirikota.go.id

Strategi yang dilakukan perajin tenun ikat di Kota Kediri ini ialah dengan melakukan inovasi warna. Harapannya, supaya para pelanggan punya minat tinggi terhadap tenun ikat.

Erwin, pemilik kerajinan tenun ikat merek Tenun Bandoel melakukan inovasi warna karena ia ingin produknya tampak berbeda. Ia mengurai dan mencampur berbagai warna untuk mendapat komposisi sesuai yang ia harapkan. Sementara itu, ia sendiri mempelajari warna secara autodidak.

“Kalau belum ketemu warna yang saya maksud, saya tidak bisa tidur,” ujar Erwin di Kediri, seperti dikutip dari Antara, Jumat (3/7).

2 dari 4 halaman

Membuat Warna yang Tidak Monoton

tenun ikat kediri

©2020 Merdeka.com/kedirikota.go.id

Pemilihan warna-warna tenun ikat produk Erwin pernah menginspirasi koleksi Neon karya Priyo Oktaviano. Koleksi Neon itu sendiri dipentaskan di Kota Kediri pada 2019 lalu.

Erwin sendiri melanjutkan usaha tenun ikat ayahnya di sentra tenun ikat Kediri, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Sejak kecil, ia sudah mengenal motif dan warna tenun.

Keakrabannya sejak kecil dengan seluk-beluk tenun ikat turut memberi ide, bagaimana membuat warna-warna tidak monoton, serta menciptakan motif yang lebih kekinian sehingga bisa memberi nilai tambah pada tenun ikat yang ia hasilkan.

3 dari 4 halaman

Proses yang Rumit

tenun ikat kediri

©2020 Merdeka.com/kedirikota.go.id

Harga jual produk tenun ikat yang diproduksi Erwin lebih mahal dibanding tenun ikat pada umumnya. Pasalnya, proses pembuatannya juga lebih rumit.

Kain katun (bahan baju) dengan warna yang bagus dibanderol dengan harga hingga Rp250.000 per lembar. Namun, untuk kain dengan warna biasa dibanderol rata-rata Rp175.000 per potong. Sementara itu, baju yang sudah dijahit dihargai Rp400.000 per potong.

4 dari 4 halaman

Pesanan Turun di Tengah Pandemi

tenun ikat kediri

©2020 Merdeka.com/kedirikota.go.id

Ssaat pandemi COVID-19, Erwin mengakui bahwasanya permintaan dari pelanggan turun drastis. Bahkan pesanan yang sudah dipesan, tidak jadi diambil.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Kediri Nur Muhyar menegaskan, pemkot tetap memberikan dukungan untuk industri kecil serta UMKM agar tetap bertahan.

“Pemkot Kediri membeli produk tenun ikat yang dijadikan masker, dengan memesan lebih dari 5.000 lembar masker,” terang Nur Muhyar.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini