Ciri Flu Singapura Beserta Penyebab dan Cara Mengobatinya, Ketahui Lebih Lanjut

Kamis, 10 Desember 2020 09:20 Reporter : Edelweis Lararenjana
Ciri Flu Singapura Beserta Penyebab dan Cara Mengobatinya, Ketahui Lebih Lanjut ilustrasi flu. ©www.essentialoilspedia.com

Merdeka.com - Penyakit flu Singapura atau dalam bahasa kedokteran disebut sebagai penyakit Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) merupakan penyakit infeksi yang seringkali menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun (bahkan hingga 10 tahun). Orang dewasa umumnya kebal terhadap penyakit yang mempunyai masa inkubasi 2–5 hari ini.

Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek dan air liur. Penularan melalui kontak tidak langsung juga mungkin terjadi, misalnya penggunaan handuk, baju, peralatan makan dan mainan secara bersama-sama. Biasanya penyakit ini muncul pada musim panas, seperti yang dikutip dari CDC.

Menurut Shah et all (2003) dalam Singapore Medical Journal, bahwa pada awal kemunculan HFMD di Singapura pada tahun 1972, penyakit ini menginfeksi 104 anak-anak dalam 3,5 bulan. Penyakit ini lantas meluas ke beberapa negara lain, dan dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan jumlah penderita.

Penyakit Flu Singapura atau HFMD disebabkan oleh Coxsackievirus A type 16 (CV A16) dengan bermacam-macam strain, yaitu coxsackievirus A5, A7, A9, A10, B2 dan B5. Namun demikian, yang menyebabkan pandemik adalah Enterovirus 71 (EV-71). Berikut ini adalah penjelasan selengkapnya mengenai ciri Flu Singapura dan cara mencegah serta mengobatinya yang perlu Anda ketahui.

2 dari 5 halaman

Sejarah Flu Singapura

Virus influenza A mengalami mutasi (perubahan genetik) menghasilkan virus influenza baru yang lebih berbahaya yang bisa mengakibatkan wabah epidemik dan pandemik influenza. Virus influenza tipe A mampu menginfeksi manusia, kuda, babi, anjing laut, ikan paus, burung dan binatang lainnya. Virus ini yang paling berbahaya, karena virus ini dapat menjangkiti hewan dan manusia.

Pada tahun 1918, terjadi wabah pandemik yang disebabkan virus influenza, yang disebut dengan “Spanish Flu”. Tahun 1957, virus influenza kembali bermutasi dan dikenal dengan nama “Asian Flu” dan wabah global kembali terjadi.

Pada tahun 1968, virus flu kembali menyebabkan wabah pandemik, mutan virus tersebut dikenal dengan “Hongkong Flu”. (Eminugroho R, 2009). Virus influenza terus mengalami perubahan genetik hingga pada tahun 1972 muncul mutan virus influenza yang kemudian dikenal sebagai penyebab penyakit “Flu Singapura”.

Penyakit Flu Singapura atau Tangan, Kaki dan Mulut (HFMD) atau penyakit tangan, kaki dan mulut adalah penyakit yang umum terjadi pada anak-anak dan disebabkan oleh enterovirus seperti coxsackieviruses dan enterovirus 71 (EV71).

HFMD yand disebabkan oleh EV71 adalah yang meresahkan karena lebih berisiko tinggi terkait dengan komplikasi parah (seperti radang otak akibat virus, encephalitis dan kelumpuhan serupa poliomyelitis) dan bahkan kematian, mengutip dari chp.gov.hk.

3 dari 5 halaman

Penyebab Flu Singapura

Penyebab Flu Singapura yang paling umum adalah infeksi coxsackievirus A16, mengutip dari Mayo Clinic. Coxsackievirus termasuk dalam kelompok virus yang disebut enterovirus nonpolio. Jenis enterovirus lain terkadang menyebabkan Flu Singapura atau penyakit Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD).

Konsumsi oral adalah sumber utama infeksi coxsackievirus dan penyakit Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD). Penyakit ini menyebar melalui kontak orang ke orang dengan orang yang terinfeksi dengan cara;

  • Sekresi hidung atau cairan tenggorokan
  • Air liur
  • Cairan dari lecet
  • Bangku
  • Tetesan pernafasan menyembur ke udara setelah batuk atau bersin (droplet)

Flu Singapura paling umum menyerang anak-anak di pusat perawatan anak karena seringnya kegiatan mengganti popok dan pelatihan toilet di tempat tersebut, dan karena anak-anak kecil sering memasukkan tangan mereka ke dalam mulut.

parah© Boldsky.com

Saat seorang anak tertular Flu Singapura, virusnya dapat tetap berada di tubuh selama berminggu-minggu setelah tanda dan gejala hilang. Artinya anak tersebut masih bisa menulari orang lain. Beberapa orang, terutama orang dewasa, dapat menularkan virus tanpa menunjukkan tanda atau gejala penyakit apa pun.

Wabah penyakit ini lebih sering terjadi pada musim panas dan musim gugur di Amerika Serikat dan daerah beriklim sedang lainnya. Di iklim tropis, wabah terjadi sepanjang tahun.

4 dari 5 halaman

Ciri Flu Singapura

Berikut ini adalah beberapa ciri Flu Singapura yang bisa diamati dan patut diwaspadai, yaitu;

  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Kurang enak badan
  • Lesi yang menyakitkan, merah, seperti lepuh di lidah, gusi, dan bagian dalam pipi
  • Ruam merah, tanpa gatal tapi terkadang disertai lepuh, di telapak tangan, telapak kaki, dan terkadang bokong
  • Iritabilitas pada bayi dan balita
  • Kehilangan selera makan

Periode yang biasa dari infeksi awal hingga timbulnya tanda dan ciri Flu Singapura (masa inkubasi) adalah tiga hingga enam hari. Demam sering kali merupakan tanda atau ciri Flu Singapura yang paling pertama, diikuti oleh sakit tenggorokan dan kadang-kadang nafsu makan yang buruk serta perasaan tidak enak badan.

Satu atau dua hari setelah demam dimulai, luka yang menyakitkan bisa berkembang di depan mulut atau tenggorokan. Ruam di tangan dan kaki dan mungkin di bokong bisa muncul dalam satu atau dua hari, pertanda ciri Flu Singapura semakin memburuk.

Luka yang berkembang di bagian belakang mulut dan tenggorokan mungkin menunjukkan bahwa anak terinfeksi penyakit virus terkait yang disebut herpangina. Ciri lain herpangina termasuk demam tinggi mendadak dan dalam beberapa kasus, kejang. Luka yang berkembang di tangan, kaki, atau bagian tubuh lainnya sangat jarang terjadi.

5 dari 5 halaman

Cara Mencegah Flu Singapura

Tidak ada vaksin yang efektif untuk mencegah penyakit Flu Singapura. Sehingga, perawatan kebersihan pribadi dan lingkungan yang baik adalah pencegahan utama yang bisa Anda lakukan. Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda terapkan untuk mencegah kemunculan gejala dan ciri Flu Singapura pada Anda maupun orang-orang terdekat;

1. Jaga kebersihan pribadi dengan baik

  • Bersihkan tangan secara sering, terutama sebelum menyentuh mulut, hidung atau mata, sebelum makan atau menangani makanan, setelah menyentuh luka, dan setelah menggunakan toilet.
  • Cuci tangan dengan sabun cair dan air setidaknya selama 20 detik. Lalu bilas tangan dengan air dan keringkan dengan tisu sekali pakai atau pengering tangan. Jika tidak ada fasilitas pencuci tangan atau tangan tidak terlihat kotor, handrub berbasis alkohol 70 - 80% adalah alternatif yang efektif.
  • Tutup mulut dan hidung dengan tisu ketika bersin atau batuk. Buang tisu kotor ke dalam tempat sampah berpenutup, lalu cuci tangan hingga bersih.
  • Gunakan sumpit dan sendok penyaji pada saat makan. Jangan berbagi makanan dan minuman dengan orang lain.
  • Jangan berbagi handuk dan benda-benda pribadi dengan orang lain.
  • Hindari kontak dekat (seperti berciuman, berpelukan) dengan orang yang terinfeksi.
  • Hindari masuk kerja atau sekolah, dan cari bantuan dokter jika tidak merasa sehat.
  • Jangan biarkan orang yang terinfeksi menangani makanan atau merawat anak, orang tua, dan orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah. 

2. Jaga kebersihan lingkungan dengan baik

  • Secara teratur bersihkan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh seperti perabotan, mainan dan barang-barang yang biasa digunakan bersama dengan pemutih yang sudah diencerkan 1:99 (campurkan 1 bagian 5,25% pemutih dengan 99 bagian air), biarkan selama 15 - 30 menit, dan kemudian bilas dengan air dan keringkan. Untuk permukaan logam, desinfektasi dengan alkohol 70%.
  • Gunakan handuk sekali pakai penyerap untuk menyeka kontaminan yang tampak jelas seperti cairan sekresi pernapasan, dan kemudian desinfektasi permukaan dan daerah sekitarnya dengan pemutih yang diencerkan 1:49 (campurkan 1 bagian pemutih 5,25% dengan 49 bagian air), biarkan selama 15 - 30 menit dan kemudian bilas dengan air dan keringkan. Untuk permukaan logam, desinfektasi dengan alkohol 70%.
  • Hindari aktivitas berkelompok saat terjadi wabah Flu Singapura di sekolah atau institusi. Selain itu, minimalkan pertukaran staf dan atur agar kelompok staf yang sama selalu merawat kelompok anak yang sama sebisa mungkin.

[edl]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini