Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Terinfeksi Corona Tanpa Gejala, Ini 7 Studi Kasus tentang Penyebaran Covid-19

Terinfeksi Corona Tanpa Gejala, Ini 7 Studi Kasus tentang Penyebaran Covid-19 antisipasi virus corona. ©2020 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Salah satu hal yang membuat virus Corona begitu sulit untuk dibendung adalah penularannya yang tidak menunjukkan gejala saat seseorang terinfeksi. Anda dapat membuat orang lain sakit sebelum Anda tahu bahwa Anda menderita penyakit tersebut.

Seperti yang dilaporkan Julia Belluz dilansir dari Vox, para peneliti di China menemukan bahwa orang yang paling banyak menularkan virus Corona dan berpotensi memaparkannya ke orang lain adalah orang yang baru saja mulai menunjukkan gejala, atau bahkan saat belum menunjukkan gejala atau tanpa gejala.

Dan dalam suatu kasus, seseorang memiliki tingkat virus yang tinggi tanpa pernah mengalami gejala apa pun. Sejak saat itu, bukti telah terakumulasi bahwa penularan presimptomatik atau asimptomatik ini bukan hanya kemungkinan yang muncul hanya di laboratorium.

Ini bahkan adalah rute utama penyebaran virus Corona. Sebuah studi baru dari Singapura melukiskan gambaran yang paling jelas tentang bagaimana orang-orang yang terinfeksi sebelum mereka sadar bahwa mereka telah positif virus Corona.

Penelitian di Singapura

Para peneliti yang meneliti 243 kasus virus Corona yang dilaporkan di Singapura antara 23 Januari dan 16 Maret, menemukan tujuh kelompok klaster di mana 10 infeksi dikaitkan dengan penularan secara asimptomatik atau tanpa gejala.

Studi kasus memperjelas satu hal, pihak berwenang tidak dapat mengendalikan wabah virus Corona hanya dengan mengkarantina orang sakit. Mereka juga harus secara dramatis mengurangi kontak di antara penduduk lainnya.

Merasa baik atau tidak memiliki gejala tidak berarti Anda tidak dapat menginfeksi orang lain. Disarankan untuk memakai masker hanya ketika Anda sakit tidak akan menolongnya. Itulah sebabnya para ahli mengubah saran untuk tidak memakai masker jika Anda sehat, menjadi anjuran untuk memakai masker bahkan saat Anda sehat sekalipun.

Tujuh Klaster Penularan Presimptomatik

Klaster Pertama

Dalam kelompok pertama yang dilihat para peneliti, seorang istri dan suami melakukan perjalanan pada 19 Januari dari Wuhan, China, ke Singapura, di mana mereka mengunjungi sebuah gereja pada hari yang sama.

Tiga orang lainnya yang menghadiri gereja hari itu kemudian mengalami gejala. Salah satu dari mereka datang ke gereja setelah pasangan itu pergi tetapi duduk di bangku yang sama, seperti yang terlihat dalam rekaman kamera sirkuit tertutup.

Investigasi terhadap peserta lain tidak mengungkapkan orang simptomatik lain yang menghadiri gereja pada hari itu, tulis penelitian itu.Orang-rang dari Wuhan mengalami gejala pada 22 Januari dan 24 Januari, sementara orang yang duduk di bangku setelahnya mengalami gejala pada 3 Februari.

Klaster Kedua

Di klaster kedua, seorang wanita menghadiri makan malam pada 15 Februari dan berhadapan dengan seseorang yang positif Covid-19. Dia menghadiri kelas bernyanyi pada 24 Februari dan mengalami gejala dua hari kemudian, wanita lain di kelas yang sama mengalami gejala tiga hari setelah itu.

Klaster ketiga, keempat, dan kelima

Dalam tiga kelompok lainnya, seseorang yang telah terpapar Covid-19 pulang ke rumah dan mengekspos orang-orang yang tinggal bersama mereka; dalam ketiga kasus, pasien awal dan istri mereka, suami, atau teman serumah mengalami gejala pada hari yang sama (sehingga penularan pasti terjadi sebelum gejala dimulai).

Klaster keenam

Di klaster keenam, seorang wanita yang telah terpapar Covid-19 pada tanggal 27 Februari pergi ke gereja pada tanggal 1 Maret. Dia mulai menunjukkan gejala-gejala pada tanggal 3 Maret, seperti dugaan lainnya, salah satu dari orang-orang yang kemungkinan besar akan terinfeksi adalah orang yang hadir di gereja. Orang lain yang menghadiri gereja pada hari itu mulai menunjukkan gejala pada 5 Maret.

Klaster ketujuh

Di kluster ketujuh, seorang pria yang telah terpapar Covid-19 bertemu dengan seorang wanita pada 8 Maret. Dia mulai mengalami gejala pada 9 Maret, dan sang wanita pada 12 Maret.

Ada beberapa peringatan penting di sini. Sementara Singapura sangat teliti dalam pelacakan kontak dan pekerjaan identifikasi kasus, selalu ada kemungkinan bahwa satu atau lebih dari pasien ini benar-benar terinfeksi oleh orang lain.

Ada juga potensi bias, mengingat terutama dalam kasus penyakit ringan di mana orang keliru melaporkan hari di mana gejala mereka dimulai.

Studi Singapura adalah kontribusi terbaru untuk gambaran keseluruhan penyebaran virus, dikuatkan oleh data lain, orang-orang yang sebenarnya sakit sembari merasa sehat, meninggalkan jejak infeksi di belakang mereka, dan mereka mungkin tidak tahu mereka bertanggung jawab akan hal itu sampai beberapa hari kemudian.

Temuan ini menunjukkan bahwa untuk mengendalikan pandemi, mungkin tidak cukup hanya orang dengan gejala yang membatasi kontak mereka dengan orang lain.

Itulah yang membuat virus Corona lebih berbahaya daripada SARS, yang sebenarnya memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi. Anda tidak dapat menularkan SARS sampai Anda bergejala, jadi mengkarantina orang sakit sudah cukup untuk mengendalikan wabah.

Namun, itu tidak berlaku untuk virus Corona. Dengan kata lain, bahkan jika Anda merasa sehat, tetaplah di rumah. Jika Anda harus meninggalkan rumah, anggap Anda mungkin sakit dan kenakan masker kain, sehingga Anda tidak membuat petugas medis kesusahan mendapatkan masker yang seharusnya untuk keamanan mereka.

(mdk/amd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP