Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Riset SAPDA Sebut Persoalan Anak Disabilitas di Jogja Masih Butuh Perhatian

Riset SAPDA Sebut Persoalan Anak Disabilitas di Jogja Masih Butuh Perhatian Ilustrasi disabilitas. ©2022 Merdeka.com/Freepik

Merdeka.com - Dewasa ini, kehidupan para penyandang disabilitas masih dihadapkan pada sejumlah persoalan. Mulai dari persoalan yang menyangkut ekonomi seperti ketersediaan lapangan kerja, kesehatan, hingga persoalan sosial seperti penerimaan di tengah masyarakat.

Pemenuhan dan perlindungan hak secara utuh belum maksimal. Ini juga berlaku bagi anak-anak penyandang disabilitas yang kondisinya lebih rentan. Persoalan-persoalan itu yang dirangkum dalam riset yang diterbitkan oleh Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA).

“Riset ini kami lakukan karena ada banyak persoalan yang dihadapi anak disabilitas dan pada akhirnya menghambat pemenuhan hak-hak mereka,” kata Direktur SAPDA Nurul Saadah Andriani, dikutip dari ANTARA pada Senin (31/10).

Suara Anak Disabilitas

ilustrasi disabilitas

©2022 Merdeka.com/Freepik

Nurul mengatakan, salah satu persoalan yang dihadapi anak disabilitas adalah kurang mendapat perhatian dari lingkungan di sekitar mereka. Orang tua masih dinilai kebingungan saat harus mengasuh dan membesarkan anak dengan kebutuhan khusus tersebut.

Berdasarkan riset yang ia lakukan dalam setahun belakangan, anak disabilitas berharap suara mereka dapat didengar dan ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan tanpa diskriminasi.

Selain itu, sejumlah kebutuhan dan keinginan anak disabilitas lain adalah mendapat pendidikan inklusif, pelayanan kesehatan dengan akses mudah dan terjangkau, layanan kesehatan reproduksi, akses media dan komunikasi, hingga penanganan dan perlindungan pada kasus kekerasan.

“Hasil riset itu kemudian kami sampaikan pada Pemerintah Kota Yogyakarta yang diharapkan bisa menjadi bagian dari pertimbangan pemerintah daerah saat menyusun kebijakan,” kata Nurul.

Rekomendasi SAPDA

ilustrasi disabilitas

©2022 Merdeka.com/Freepik

Dari hasil penelitian itu, sejumlah rekomendasi dikeluarkan oleh SAPDA, di antaranya adalah pembaruan data anak disabilitas. Data tersebut tidak hanya memuat identitas tetapi dilengkapi dengan informasi tambahan seperti kebutuhan hingga potensi yang dimiliki anak.

Selain itu, rekomendasi lain adalah fasilitasi minat dan bakat anak disabilitas, pemenuhan guru pendamping khusus, beasiswa, dan pendidikan kesehatan reproduksi.

“Dukungan dari keluarga juga menjadi salah satu rekomendasi yang kami sampaikan, termasuk penyediaan program konseling untuk orang tua dengan anak disabilitas,” kata Nurul.

Nurul mengatakan, lembaga yang ia pimpin sudah sering bekerja sama dengan pemerintah Kota Yogyakarta untuk berupaya semaksimal mungkin dalam pemenuhan dan perlindungan hak anak disabilitas. Apalagi, Kota Yogyakarta punya komitmen yang kuat untuk menjadi kota inklusi dan sudah banyak program untuk disabilitas yang dijalankan.

Jadi Bahan Pertimbangan

ilustrasi disabilitas

©2022 Merdeka.com/Freepik

Sementara pejabat Wali Kota Yogyakarta, Sumadi, mengatakan bahwa hasil riset itu akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah untuk menyusun rencana pembangunan.

Ia berkomitmen untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan pada hak-hak anak disabilitas sebagai bagian dalam rencana itu.

“Pada 2023, kami akan mengadakan Musrenbang anak. Saya kira, seluruh anak termasuk anak disabilitas bisa menyampaikan keinginan dan harapan-harapan mereka dan pemerintah bisa mendengar langsung,” kata Sumadi.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP