Mengenal Si Huma, Serial Animasi Pertama di Indonesia

Serial ini hanya tayang selama setahun dan berhenti tayang karena masalah biaya

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Mengenal Si Huma, Serial Animasi Pertama di Indonesia
Mengenal Si Huma, Serial Animasi Pertama di Indonesia (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

“Si Huma” merupakan film animasi Indonesia yang ditayangkan dan diproduksi sekitar tahun 1983 di TVRI. Film ini diproduksi oleh PT Produksi Film Negara (PPFN) dan bekerja sama dengan UNICEF. Film inipun menjadi film animasi pertama di Indonesia.

Dilansir dari kanal YouTube Penjelajah Waktu, serial Si Huma menceritakan seorang anak SD yang punya imajinasi, terampil, rajin, dan senang bermain. Ia berteman dengan Windi, tokoh yang tidak menyerupai manusia. Dalam animasi itu, Huma dan Windi diceritakan berteman dengan alam. Bahkan dia bisa bicara dengan embun.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Serial “Si Huma” rencananya akan berisi 26 cerita dalam setahun. Setiap judul masa putarnya hanya 10 menit. Yang terlibat dalam pembuatan film kartun ini ada lima orang animator. Pembuatannya masih manual.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Seluruh pembuatan karakter gambar, pewarnaan, dan sebagainya dilakukan di Studio PPFN. Alat-alat yang digunakan antara lain kertas gambar, kuas, dan cat air.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Ada dua orang tenaga animator yang dikontrak PPFN. Mereka merupakan lulusan sekolah animasi di Jepang selama enam bulan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Proses pembuatan film kartun tersebut berangkat dari sebuah cerita anak-anak. Cerita itu kemudian dituangkan ke dalam sebuah scenario.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pada waktu itu, sistem pembuatan skenario pada film kartun sedikit berbeda dengan pembuatan film biasa. Film kartun menggunakan gambar-gambar atau sketsa yang dikerjakan seniman lukis, setelah itu baru disusun dialog.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Si Huma tayang pertama kali di TVRI pada 30 Maret 1983 setiap hari Minggu pagi. Sayangnya produksi film tersebut hanya sampai tahun 1984. Alasannya produksi film tersebut terkendala biaya.

Rekomendasi