Hakim Al Ghaffaru(26) pada awalnya merasa resah dengan penggunaan alat-alat dari kayu di Indonesia. Ia melihat ada yang salah bagaimana mereka merawat peralatan kayu tersebut. Hal ini membuat produk kayu mereka tidak awet.
Berawal dari keresahan itu, Hakim ingin melakukan edukasi kepada masyarakat. Sebelumnya, ia telah membuka berbagai macam usaha seperti batik, berbagai usaha jasa pelatihan, dan sebagainya.
Saat masa pandemi 2020, Hakim melihat banyak orang yang menekuni hobi baru selama isolasi diri di rumah. Pada awalnya ia memulai usaha tanaman. Usaha itu sebenarnya laku. Banyak orang yang pesan. Tapi usaha itu tidak bertahan lama karena ia kemudian membuka workshop untuk mengedukasi warga tentang penggunaan kayu. Sekalian memberi edukasi, ia juga mengenalkan produk barunya.
Produk itu ia beri nama Rakau Ina. Ia menjelaskan kata “Rakau” sendiri berasal dari bahasa Suku Maori yang berarti kayu. Suku Maori sendiri masih satu rumpun dengan Indonesia, yaitu pada rumpun Melaniesia.
“Pemilihan nama itu berangkat dari sebuah mimpi dan harapan semoga kelak Suku Maori dapat kembali membangun relasi dengan sesama gugus kepulauan Melanesia,” kata Hakim saat dihubungi Merdeka.com pada Minggu (11/6).
Hakim yang merupakan lulusan S1 Pendidikan Kriya Universitas Negeri Yogyakarta itu pada awalnya menemui kesulitan dalam mengedukasi desain-desain baru kepada perajin. Namun perlahan-lahan mereka mampu memahami desain produk yang Hakim inginkan.
Setelah produk kayu jadi, ia menjualnya secara online. Namun seiring waktu produksinya terus bertambah. Hakim kemudian menitipkan produk-produknya ke berbagaki tempat wisata seperti Heha Skyview dan Malioboro.
“Untuk membuat produk pada awalnya kami mengambil kayu jati di daerah Gunungkidul. Tapi sekarang lebih memilih yang lebih spesifik dan solid, jadi kami mengambil kayu jati di daerah Blora dan Jepara,” ungkapnya.
Produk kayu yang dihasilkan Rakau Ina bermacam-macam. Namun kebanyakan merupakan kerajinan alat makan dan mebel kecil untuk hiasan.
Tak puas sampai di situ, Hakim mendaftar Pengusaha Muda Brilian. Dengan mengikuti program dari Bank BRI tersebut, ia tertantang untuk belajar ilmu marketing. Melalui program itu, ia berhasil masuk dalam 10 besar finalis terbaik regional Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia berharap dengan mengikuti program itu, ia bisa memasarkan produknya dengan jangkauan yang lebih luas, misalnya ekspor ke negeri Inggris, Jepang, dan Korea.
Bila usahanya semakin maju, ia berharap bisa memberdayakan lebih banyak lagi perajin. Tak hanya itu, melalui produknya ia juga berharap bisa ikut berperan dalam pelestarian kayu di hutan-hutan Indonesia.
“Jadi kami punya program satu produk satu pohon. Melalui penjualan satu produk, kami akan gunakan uangnya untuk membeli benih pohon yang akan ditanam pada hutan kayu di Indonesia. Tak hanya mengejar profit, kami juga memiliki perhatian pada kelestarian alam, khususnya pada pohon kayu endemik,” terang Hakim.
Advertisement