Kawasan hutan jati Blora menyimpan beribu misteri yang belum terkuak. Tak hanya soal mistis-mistisnya, di dalam labirin hutan itu pula ada tempat-tempat bersejarah yang tak banyak diketahui orang.
Salah satunya adalah pompa minyak peninggalan Belanda yang berada di tengah hutan itu. Untuk menuju ke titik peninggalan Belanda itu, pengunjung harus masuk dulu melewati jalan berbatu menuju arah hutan. Setelah itu melewati permukiman penduduk.
Pemukiman warga itu dikenal dengan nama Desa Semanggi. Warganya ramah-ramah. Dengan senang hati mereka akan menunjukkan jalan menuju keberadaan pompa dan sumur tua peninggalan Belanda itu.
Advertisement
Kawasan Pertamina
Orang-orang biasa menyebutnya “mompa angguk”, alasan di balik pemberian itu sederhana. Saat menyedot minyak, pompa itu membuat gerakan seperti mengangguk.
Di kawasan sumur tua itu, beberapa pompa angguk masih beroperasi. Konon berdasarkan cerita dari warga, pompa angguk itu sudah ada sejak zaman dahulu kala, tepatnya zaman penjajahan Belanda. Warga sekitar bilang kini kawasan ladang sumur minyak itu sudah diambil alih oleh Pertamina.
Di kawasan itu, keberadaan pompa angguk itu tidak hanya satu saja. Tak jelas sejak tahun berapa pompa angguk itu beroperasi. Agak jauh dari keberadaan pompa angguk yang pertama dan kedua, pompa angguk ketiga kembali ditemukan.
“Di mesin itu tertera nama pabrik pembuatnya. Kini pompa-pompa itu dioperasikan oleh PT Pertamina,” ungkap YouTuber dari Sahabat Al Arif Blora.
Advertisement
Sejarah Minyak di Blora
Keberadaan kandungan minyak di Blora sebenarnya sudah diketahui sejak dulu. Awalnya kandungan minyak itu ditemukan di daerah Cepu, sejak saat itu penemuannya menjamur hingga seperti sekarang.
Tjokronegoro III, Bupati Blora era 1886-1912 Masehi pada masa kepemimpinannya mendorong Belanda melakukan pengeboran pada tahun 1894 di Desa Ledok, Kecamatan Sambong.
“Pengelolaan migas pertama sebelum kemerdekaan sudah ada eksplorasi dan produksi besar-besaran. Ini bisa dilihat dari banyak dijumpainya sumur-sumur tua yang bahkan beberapa di antaranya masih beroperasi sampai hari ini,” kata salah seorang keturunannya, RNgt Ratnasari, dikutip dari Liputan6.com.