Susah Sinyal, Mahasiswi S2 UGM Ini Ikuti Wisuda dari Atas Bukit

Karena merebaknya pandemi, mahasiswi UGM ini harus mengikuti wisuda secara daring di rumah. Pada awalnya semuanya berjalan lancar. Namun tiba-tiba lampu mati secara mendadak satu menit sebelum wisuda dimulai.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Susah Sinyal, Mahasiswi S2 UGM Ini Ikuti Wisuda dari Atas Bukit
Wisuda di Atas Bukit. ©Ugm.ac.id

Merebaknya pandemi COVID-19 membuat banyak kegiatan yang harus dilakukan secara daring. Tak hanya kegiatan belajar mengajar, acara wisuda juga harus dilakukan via online. Hal inilah yang harus dijalani oleh seorang mahasiswi S2 UGM bernama Wahyu Suri Yani.

Semula, ia telah merencanakan untuk memboyong keluarga besarnya ke Yogyakarta untuk menghadiri wisuda di Kampus UGM. Namun karena merebaknya pandemi COVID-19, dia harus mengikuti wisuda secara daring.

Untuk itulah dia melakukan sebuah simulasi wisuda dengan menempatkan sang ayah sebagai Rektor UGM dan sang ibu sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Pada pagi hari sebelum wisuda dimulai, gadis yang biasa dipanggil Suri itu sudah menyiapkan laptopnya.

Namun satu menit sebelum wisuda dimulai, tepatnya pada pukul 07.46 pagi, lampu listrik mati. Sinyal internet hilang total. Langkah darurat harus diambil. Berikut kisah selengkapnya:

Naik ke Atas Bukit

Sebagai solusi cepat, dia segera pergi ke puncak sebuah bukit yang tak jauh dari rumahnya dengan motor yang dikendarai oleh sang adik, Aulia Rahman. Untuk menuju ke sana, mereka harus melewati medan yang berbukit, berlumpur, dan terjal.

Bahkan menurut Suri, dia beberapa kali hampir terjatuh. Saat menemui jalan yang amat parah, dia minta diturunkan dulu karena takut terjatuh.

Setelah melewati jalan yang berliku, mereka sampai di puncak bukit sekitar pukul 08.30. Langsung saja Suri membuka laptop dan mengakses zoom Wisuda UGM.

Saat zoom sudah dibuka, ia melihat melalui layar para wisudawan sedang ribut-ributnya. Setelah bertanya pada teman sekelasnya terungkaplah bahwa wisuda ternyata telah selesai.

Hanya Seremonial

Suri mengaku sedikit kecewa dan sedih karena tidak bisa mengikuti proses wisuda. Padahal dalam proses studi dia telah berjuang keras menyelesaikan studi di perantauan. Bahkan Suri harus jauh-jauh ke negeri Belanda untuk melakukan penelitian.

Tapi dalam sekejap ia tersadar bahwa wisuda hanyalah seremonial. Suri tetap meyakini bahwa yang terpenting adalah proses mencapainya. Ia bisa melihat keterlibatan berbagai pihak terlebih orang tuanya yang menjadi saksi hidup dalam mencapai gelar S2-nya.

“Setelah sempat melihat layar zoom yang indah, akhirnya saya beralih pandang ke hamparan bukit yang indah. Saya seperti diingatkan kembali akan keberadaan bukit Lurah Dalam ini dalam mendukung pendidikan saya,” kata Suri dikutip dari Ugm.ac.id pada Rabu (11/11).

Bukit Para Sarjana

Bukit Lurah Dalam merupakan sebuah bukit di daerah Koto Baru, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Daerah itu berada di ketinggian antara 1.400-1.800 mdpl dengan suhu pagi hari mencapai 13 derajat celcius dan 25 derajat celcius pada siang hari.

Berada di pelosok dengan akses jalan yang tak mudah, bukit itu telah melahirkan para sarjana dari berbagai universitas di Indonesia. Wilayah tersebut memang sering terjadi mati lampu sehingga kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di rumah bisa sedikit terganggu.

“Di daerah saya sering mati lampu. Kalau lampu mati maka sinyal akan mati. Sementara satu-satunya kartu seluler yang bisa digunakan di sini hanyalah telkomsel. Tanda-tanda lampu akan mati biasanya karena hujan, angin kencang yang mengakibatkan pohon tumbang dan mengganggu kabel listrik,” ungkap Suri.

Rekomendasi