Dulu Kawasan Kumuh, Ini 4 Fakta Menarik Kampung Code yang Kini Ramah Wisatawan

Awalnya Kampung Code merupakan tempat yang kumuh. Karena itulah, kampung itu sempat terancam digusur oleh pemerintah. Namun seorang rohaniawan bernama Romo Mangun berhasil menggagalkan rencana penggusuran itu. Dibantu warga dan relawan, dia mengubah Kampung Code hingga berhasil menarik perhatian dunia.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Dulu Kawasan Kumuh, Ini 4 Fakta Menarik Kampung Code yang Kini Ramah Wisatawan
Kampung Code. ©Riversidedevelopmentsite.org

Banyak orang telah mengenal bahwa Yogyakarta merupakan kota wisata. Di sana terdapat banyak tempat wisata yang cukup terkenal di antaranya Malioboro, Pantai Parangtritis, Kraton, Candi Prambanan, dan berbagai tempat wisata baru yang populer.

Namun keindahan Yogyakarta tak hanya dapat dinikmati wisatawan dengan mengunjungi tempat-tempat wisatanya saja. Di sana ada beberapa tempat unik yang patut dikunjungi, salah satunya Kampung Code yang letaknya tak jauh dari pusat kota.

Dilansir dari Rujak.org, awalnya Kampung Code merupakan tempat yang kumuh. Kampung itu menjadi pemukiman bagi para penjahat, PSK, pemulung, dan anak jalanan. Karena itulah, kampung itu sempat terancam digusur untuk dijadikan ruang terbuka hijau.

Namun, seorang rohaniawan bernama YB Mangunwijaya atau dikenal dengan nama Romo Mangun menentang keras penggusuran itu. Setelah berhasil melawan penggusuran, Romo Mangun mengubah wajah Kampung Code menjadi lebih baik.

Bahkan karena perjuangannya, kampung itu meraih penghargaan internasional Aga Khan Award pada tahun 1992. Berikut selengkapnya:

Sempat Mau Digusur

Kampung Code dulunya sempat mau digusur pemerintah karena menjadi kawasan “hitam” di Kota Yogyakarta. Namun rencana itu ditentang keras oleh Romo Mangun. Pada 25 Maret 1985, Romo Mangun bahkan sampai melakukan aksi mogok makan untuk menentang penggusuran itu.

Setelah rencana penggusuran itu berhasil digagalkan, Romo Mangun, beserta para mahasiswa, mulai membangun perlahan-lahan Kampung Code. Rumah-rumah direnovasi agar terlihat lebih indah.

Berbagai fasilitas umum dibangun. Pemberdayaan kepada masyarakat dilakukan secara intensif. Demi memperbaiki wajah Kampung Code, Romo Mangun tinggal di sana itu selama 2 tahun.

Diakui Dunia

Pembangunan Kampung Code yang dilakukan Romo Mangun dan para relawan di sana berhasil menarik para pemerhati dunia arsitektur. Pada tahun 1992, Kampung Code meraih penghargaan internasional Aga Khan Award for Architecture.

Para juri penghargaan itu terkesan dengan model bangunan rumah di kampung itu. Struktur tiang berbentuk huruf “A” dan bahan bangunan yang banyak memanfaatkan bambu berhasil mencuri perhatian juri. Satu hal yang menarik lagi adalah proses pembangunannya yang dilakukan secara gotong royong oleh para relawan dan warga setempat.

Ramah Wisatawan

Seiring berjalannya waktu, wajah Kampung Code justru makin cantik. Pada 2015, tiap rumah di kampung ini dicat warna-warni sehingga menyerupai perkampungan di Rio de Jainero, Brazil.

Selain itu, warga yang tinggal di kampung ini senantiasa menjaga kebersihan jalan sehingga nyaman dikunjungi para wisatawan. Sementara itu untuk mengenang jasa Romo Mangun yang telah mengubah kampung ini, di salah satu sudutnya dibangun sebuah perpustakaan yang diberi nama “Perpustakaan Romo Mangun”.

Dijadikan Film

Keunikan Kampung Code tak hanya berasal dari keindahan arsitektur bangunannya namun juga kehidupan warga di sana. Bahkan kehidupan warga yang tinggal di Kampung Code pernah diabadikan dalam sebuah film berjudul “Jagad X Code” yang dirilis pada tahun 2009.

Dilansir dari Wikipedia, film itu menceritakan tiga anak muda pengangguran yang tinggal di Kampung Code. Mereka berusaha mewujudkan keinginannya masing-masing namun terganjal masalah dana.

Namun tiba-tiba ada seorang preman yang menjanjikan mereka uang Rp30 juta apabila mereka bisa menemukan sebuah benda bernama “flash disk”. Namun karena kesenjangan ekonomi, mereka tidak tahu seperti apa benda itu.

Rekomendasi