Pertama Kali dalam Sejarah, Ini 5 Fakta di Balik Padamnya Api Abadi Mrapen

Pertama kalinya dalam sejarah, api Mrapen tiba-tiba padam dan tak kunjung menyala. Peristiwa yang tak pernah terjadi berabad-abad lamanya itu mengejutkan banyak pihak tak terkecuali Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Mendengar peristiwa itu, Ganjar langsung mengirimkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Pertama Kali dalam Sejarah, Ini 5 Fakta di Balik Padamnya Api Abadi Mrapen
Api Abadi Mrapen. ©jatengprov.go.id

Api abadi Mrapen merupakan fenomena geologi alam yang cukup langka berupa keluarnya gas alam dari dalam perut bumi sehingga menciptakan api yang tak pernah padam walau diguyur hujan sekalipun.

Nyala api di sana tak pernah padam sejak berabad-abad silam. Konon, api itu sudah muncul sejak awal masa Kerajaan Demak dan terus menyala hingga masa kini. Seiring berjalannya waktu, api itu telah dimanfaatkan untuk berbagai ritual suci seperti Perayaan Hari Waisak maupun hajatan besar berskala Internasional seperti pesta olahraga Internasional Ganefo pada 1963 dan Asian Games 2018.

Namun pertama kalinya dalam sejarah, pada Jum’at, 25 September 2020, api Mrapen tiba-tiba padam dan tak kunjung menyala. Padamnya api itu mengejutkan banyak pihak, tak terkecuali Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Mendengar peristiwa itu, Ganjar langsung mengirimkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan.

“Saya minta Dinas ESDM untuk mengecek apakah ada sesuatu yang menyebabkan matinya api abadi Mrapen. Apakah karena cadangan sumber daya yang ada di dalamnya habis atau ada pengaruh eksploitasi dari kanan kirinya,” kata Ganjar dikutip dari ANTARA pada Sabtu (3/10).

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan api abadi Mrapen tiba-tiba mati? Apakah ada sebuah pertanda di balik peristiwa itu? berikut selengkapnya:

Semburan Gas di Lokasi Pengeboran

Kasi Energi Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Sinung Sugeng Arianto mengatakan bahwa sebelum api itu padam, sempat ada semburan air bercampur gas di lokasi pengeboran sumur yang tak jauh dari Mrapen.

Sementara itu Ganjar Pranowo meminta timnya melakukan tindakan kalau matinya api tersebut disebabkan oleh aktivitas eksploitasi alam di sekitarnya.

“Saya minta ahli-ahli geologi ini untuk melakukan tindakan. Tapi sekarang sedang kita cek. Saya minta dilaporkan perkembangannya,” kata Ganjar.

Sumur Bor Ditutup

Lokasi pengeboran sumur yang diduga menjadi penyebab matinya api Mrapen berada persis di belakang sebuah minimarket. Letak minimarket itu hanya 150 meter dari lokasi api Mrapen. Saat ini, sumur bor yang menyemburkan gas itu sudah ditutup dengan koral dan pihak pengelola minimarket telah diminta keterangan.

“Saat dilakukan pengecekan, di sumur bor yang telah ditutup itu masih ada rembesan air dan gas yang cukup besar,” kata Kepala Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Teguh Yudi Pristiyanto dikutip dari Liputan6.com pada Minggu (4/10).

Tekanan Gas Tinggi

Menurut Sinung, gas yang keluar dari sumur bor di belakang mini market itu tekanannya cukup tinggi. Setelah diukur, tekanannya mencapai 100 ppm, sehingga mudah menyala ketika dibakar.

“Jadi kita minta ke pihak kepolisian untuk memasang garis polisi agar tidak ada warga yang mendekat dan menyalakan api. Khawatirnya bisa muncul ledakan. Apalagi dari pengecekan radius lima meter dari sumur yang sudah ditutup ada retakan-retakan,” kata Sinung.

Sudah Pernah Redup

Peristiwa padamnya api abadi Mrapen pada tahun ini memang pertama kalinya dalam sejarah. Namun pada tahun 1990-an nyala api itu sempat meredup yang diduga disebabkan karena adanya retakan-retakan di sekitar nyala api.

Namun Sinung sendiri tak yakin padamnya api itu disebabkan oleh pasokan gas yang mulai berkurang. Menurutnya, berdasarkan peta gas yang dikeluarkan PT Pertamina, potensi gas di sekitar Purwodadi sampai Mranggen sebenarnya cukup besar. Hanya saja ada retakan.

“Retakan itulah yang menjadi kewaspadaan masyarakat agar ketika melakukan pengeboran untuk kepentingan air bersih jangan sampai lebih dari 30 meter,” ungkap Sinung.

Tak Lagi Abadi

Dengan adanya peristiwa ini, nyala api Mrapen tak lagi abadi. Namun usaha untuk memulihkan kembali nyala api itu akan terus dilakukan.

“Kita upayakan menyala kembali mengingat api abadi Mrapen sudah menjadi ikon nasional dan dunia. Mengenai teknisnya nanti dinas ESDM yang lebih tahu karena ini kewenangan provinsi. Kalau obyek wisatanya kewenangan Pemkab Grobogan,” jelas Pjs Bupati Grobogan Haerudin dikutip dari Liputan6.com pada Minggu (4/10).

Rekomendasi