Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Penangkapan DN Aidit 22 November 1965, Pemimpin PKI yang Dieksekusi Mati

Penangkapan DN Aidit 22 November 1965, Pemimpin PKI yang Dieksekusi Mati dn aidit. ©life

Merdeka.com - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 adalah salah satu sejarah paling kelam bagi bangsa Indonesia. Pemberontakan PKI ini terjadi pada malam hari hingga dini hari, tepat pada akhir tanggal 30 September dan masuk 1 Oktober 1965. Pemberontakan ini dilakukan untuk mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia.

Gerakan tersebut menewaskan enam jenderal dan satu letnan TNI AD. Ketujuhnya adalah Jenderal TNI (Anumerta) Achmad Yani, Letjen (Anumerta) Suprapto, Meyjen (Anumerta) MT Haryono, dan Letjen (Anumerta) Siswondo Parman. Lalu, Mayjen (Anumerta) DI Pandjaitan, Mayjen (Anumerta) Sutoyo Siswomihardjo, serta Letnan Satu Corps Zeni (Anumerta) Pierre Andreas Tandean.

Selaku dedengkot PKI, DN Aidit dianggap sebagai dalang dari pemberontakan tersebut. Maka dari itu, pada tanggal 22 November 1965, Aidit ditangkap kemudian dieksekusi mati. Berikut kronologi penangkapan DN Aidit yang merdeka.com lansir dari Liputan6 dan sumber lainnya:

Mengenal Sosok DN Aidit

dn aidit

©istimewa

Dipa Nusantara Aidit atau yang lebih dikenal dengan DN Aidit adalah salah seorang pemimpin besar Partai Komunis Indonesia (PKI). Namanya dikenal luas oleh masyarakat Indonesia pasca pemberontakan Madiun 1948 dan 1965.

Pemimpin PKI ini lahir di Belitung pada 30 Juli 1923. Lahir dengan nama Achmad Aidit, lelaki yang biasa dipanggil Amat ini meninggalkan Belitung dan berangkat ke Jakarta pada tahun 1940. Di Jakarta, Aidit sempat mendirikan perpustakaan Antara di daerah Senen, Jakarta Pusat.

DN Aidit Pemimpin mulai mempelajari Marxis saat tergabung dalam Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda. Sejak saat itu, Aidit mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh politik Indonesia, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Chaerul Saleh, dan Adam Malik. Dia kemudian mempelajari lebih dalam mengenai teori politik Marxis dari Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda, yang kelak berganti nama menjadi PKI.

DN Aidit dan Tragedi G30S/PKI

Di bawah kepemimpinan DN Aidit, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan RCC. Demi memperkuat basis partainya, Aidit juga mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Gerawani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan Pemuda Rakyat.

Kerja keras Aidit dalam membesarkan PKI membuahkan hasil, partai tersebut memperoleh suara terbanyak keempat pada Pemilu 1955. Di mana PKI memperoleh 16, 36 suara, dan mendapatkan 39 kursi DPR dan 80 kursi Konstituante. Sejak saat itu, PKI mulai berani memengaruhi Soekarno dalam setiap kebijakannya, salah satunya meminta Bung Karno untuk memberangus Partai Masyumi.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 30 September 1965, terjadi peristiwa paling kelam bagi bangsa Indonesia. Sekelompok prajurit di bawah kepemimpinan Letkol Untung menyerbu rumah para jenderal yang mereka tuduh akan bertindak makar terhadap Soekarno, tujuh jenderal dibunuh, termasuk seorang perwira menengah TNI AD dan polisi. Mayatnya dibuang ke dalam sumur di Lubang Buaya.

Keesokan harinya, mereka merebut Radio Republik Indonesia (RRI) dan menyebarkan pelbagai propaganda. Tak sampai satu hari, akhirnya stasiun radio pelat merah itu berhasil direbut kembali ileh Kostrad.

Dalam lima hari, pemberontakan berhasil dihentikan. Meyjen Soeharto memerintahkan para aparat untuk memburu sisa-sisa pemberontak hingga ke seluruh penjuru, termasuk Aidit yang diduga menjadi dalang dari Gerakan 30 September atau G30S.

Kronologi Penangkapan DN Aidit

dn aidit

©bluefame.com

Setelah pecah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, DN Aidit menjadi orang paling dicari saat itu. Pemimpin besar PKI itu dianggap sebagai dalang di balik gerakan makar dan penculikan para jenderal tersebut. Untuk menemukan DN Aidit, Angkatan Darat melakukan operasi intelejen yang dipimpin oleh Kolonel Jasir Hadibroto, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Brigade Infantri IV Kostrad.

Setelah tiga minggu melakukan operasi intelijen, tim intelijen Brigif berhasil melacak keberadaan DN Aidit. Pada 21 November 1965, persembunyian Aidit pindah dari Kletjo, Kota Solo, ke Sambeng. Penyisiran pun dilakukan hingga ke Kampung Sambeng.

Tepat tanggal 22 November 1965, dini hari, DN Aidit ditangkap di Desa Sambeng, Mangkubumen, Banjarsari. Penangkapan yang dipimpin oleh Kolonel Yasir tersebut dilakukan di salah satu rumah warga. Meski DN Aidit bersembunyi di Kampung Sambeng, tapi saat itu warga tidak ada yang tahu kalau kampungnya menjadi tempat persembunyian pemimpin besar PKI ini.

Sehari setelahnya, DN Aidit dieksekusi mati. Ada berbagai versi tentang kematiannya, versi pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah, kemudian dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Setelah itu, dia dibawa ke sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ.

Sebelum dieksekusi, Aidit diberi waktu setengah jam untuk berbicara. Waktu tersebut ia gunakan untuk membuat pidato yang berapi-api hingga membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga tidak dapat mengendalikan emosi.

Emosi para TNI AD semakin tidak dapat dikendalikan, akhirnya senjata mereka menyalak dan menembaknya hingga mati. Adapun versi lain menyebutkan bahwa Aidit diledakkan bersama-sama dengan rumah tempatnya ditahan. Sampai sekarang, tidak diketahui di mana jenazah Aidit dimakamkan.

(mdk/jen)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP