Mengunjungi Museum Titik Nol Pasoepati, Mengungkap Seluk Beluk Persis Solo
Merdeka.com - Berawal dari rasa kecintaan terhadap klub, Mayor Haristanto mendirikan sebuah museum mini tentang Persis Solo.
Museum ini diberi nama Museum Titik Nol Pasoepati. Didirikan pada 9 Februari 2000, museum ini pun dijadikan tempat untuk menyimpan barang-barang bersejarah terkait perjalanan klub berjuluk Laskar Sambernyawa itu.
Tak hanya para suporter klub Persis Solo, para suporter klub sepak bola lain juga banyak yang mengunjungi museum itu. Apalagi tak hanya segala hal terkait Persis Solo yang dipajang, museum itu juga menyimpan berbagai merchandise klub-klub dari seluruh Indonesia.
Berikut selengkapnya:
Kondisi Museum

©2023 liputan6.com
Ornamen-ornamen berbau Persis Solo sudah terpasang mulai dari pagar dan pintu masuk rumah yang dijadikan museum itu. Memasuki ruang pertama, pengunjung akan diperlihatkan oleh berbagai bingkai MURI yang diperoleh Mayor Haristanto, merchandise Pasoepati, serta jersey dari berbagai klub di Indonesia.
Lalu pada ruang kedua dan ketiga, ada barang-barang seperti puluhan kerajinan tangan, jersey Persis, alat-alat sablon, serta foto-foto para pemain bola yang didominasi pemain Persis Solo. Bahkan di sana juga terpajang kursi-kursi stadion yang menjadi saksi bisu kerusuhan Pasoepati dengan suporter PSIS Semarang beberapa tahun silam.
“Museum ini saya dirikan dengan maksud memberi tahu bahwa Pasoepati bermula dari tempat ini. Saya mengumpulkan barang-barang bersejarah bagi saya dan menyimpannya di sini,” kata pria yang juga dikenal sebagai pendiri Pasoepati itu, dikutip dari Liputan6.com.
Saksi Sejarah Persis Solo

©2023 liputan6.com
Di museum itu tersimpan pula artikel-artikel tentang pemain Persis Solo. Mayor Haristanto mengatakan, banyak peristiwa dan barang-barang yang menjadi saksi sejarah perjalanannya menemani Persis Solo bersama Pasoepati.
“Mungkin menurut orang lain museum ini hal kecil. Tapi bagi saya ini adalah hal berharga yang harus saya simpan. Perawatannya paling bersihkan lantai dan debu-debu biar tidak kotor. Ada yang membantu saya membersihkan museum ini,” kata Haristanto.
Sempat Disita Bank

©2023 liputan6.com
Perjalanan Mayor Haristanto dalam mengelola museum itu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu masalah yang menimpa adalah soal finansial. Tempat itu pernah disita bank karena dua tahun tidak membayar angsuran.
“Dua tahun terlalu fokus dengan Pasoepati sehingga rumah ini mau disita bank. Tapi bank memberi opsi mau merelakan disita atau menjual aset dan membayar tunggakannya. Saat itulah saya jual mobil kijang dan melunasi tunggakan bank,” kata Mayor Haristanto.
Perjuangan Berdarah-Darah

©2023 liputan6.com
Bagi Mayor Haristanto, museum itu adalah impiannya. Ia mengaku semua yang ia lakukan agar museum itu tetap berdiri sudah mendapat bantuan dari keluarga. Bahkan keluarga selalu mendukungnya dalam kondisi apapun.
“Keluarga sangat mendukung. Bahkan ketika saya berdarah-darah memperjuangkan tempat ini agar tidak disita bank. Suka duka membuat museum ini ibaratnya berdarah-darah,” pungkasnya.
(mdk/shr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya