Mencicipi Kelezatan Ketupat Unik Khas Semarang, Selalu Jadi Rebutan Saat Lebaran
Merdeka.com - Saat lebaran tiba, hidangan spesial yang paling dinanti adalah ketupat. Biasanya, ketupat dihidangkan bersama lauk pauk lainnya seperti opor ayam, sayuran, dan masih banyak lagi. Namun bagi warga Jaten Cilik, Semarang, ketupat tidak perlu dihidangkan dengan lauk lainnya, karena di dalamnya sudah dicampur oleh bumbu dan sayuran.
Masyarakat Jaten memberi nama makanan ini dengan nama unik yaitu “Kupat Jembut”. Walaupun namanya terdengar aneh, namun makanan yang satu ini jauh dari kesan porno. Bahkan, makanan ini sangat ditunggu-tunggu anak-anak dan menjadi rebutan saat hari pertama lebaran.
Asal Usul Kupat Jembut

©2020 liputan6.com
Dilansir dari Jatengprov.go.id, Kupat Jembut adalah ketupat biasa yang terbuat dari beras. Di dalamnya terdapat taoge dan sambal kelapa. Di Kampung Jaten Cilik, makanan ini menjadi rebutan anak-anak karena di dalam janur yang membungkusnya biasanya diselipkan sejumlah uang.
Tradisi membagikan Kupat Jembut sudah ada sejak tahun 1950-an. Waktu itu, para warga Kampung Jaten Cilik pulang ke kampungnya setelah sekian lama mengungsi akibat meletusnya Perang Dunia II. Di tengah keprihatinan, warga kemudian membuat makanan ini karena tetap ingin bersyukur di Hari Raya Idul Fitri.
Bukan Ketupat Biasa

©jatengprov.go.id
Kupat Jembut bukanlah ketupat biasa. Ia hadir untuk memeriahkan syawalan. Diawali pesta petasan setelah Salat Shubuh, anak-anak di Kampung Jaten Cilik biasanya langsung keluar rumah dan kemudian berebut ketupat berisi sayuran.
Menurut Alim, salah satu bocah yang tinggal di kampung Jaten Cilik, Kupat Jembut berbeda dengan ketupat lebaran biasa. Rasanya lebih enak karena sudah diberi bumbu saat dimasak.
“Enggak usah pake kuah, krecek, dan opor. Ini kan sudah ada sayurnya,” ujar Alim dikutip dari Liputan6.com.
Tradisi yang Dirindukan Para Perantau

©Beritajateng.net
Menurut Munawir, salah seorang warga kampung Jaten, tradisi bagi-bagi kupat Jembut menjadi semacam magnet bagi para perantau yang pulang kampung ke Desa Jaten Cilik. Di setiap masa lebaran, para warga perantau makin banyak yang menyempatkan diri untuk mudik sekedar mengikuti tradisi ini.
“Kangen, ingat masa kecil saya,” ujar Munawir, warga Kampung Jaten yang mudik ke Jakarta dikutip dari Liputan6.com.
Penyempurna Ibadah Puasa

©jejakpiknik.com
Pada saat pembagian Kupat Jembut itu, dibagikan pula lembaran uang rupiah kepada anak-anak saat acara berlangsung. Mereka biasanya mendapatkan selebaran antara 80-100 ribu rupiah. Bagi warga Kampung Jaten, tradisi pembagian ketupat itu merupakan sebagai sedekah sekaligus penyempurna ibadah di Bulan Ramadan.
“Kami memaknai pembagian Kupat Jembut sebagai sedekah sekaligus penyempurna ibadah puasa yang sudah dijalani selama 30 hari, dan juga puasa syawal selama 6 hari,” ujar Munawir.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya