Delapan belas tahun yang lalu, Jogja luluh lantak akibat gempa berkekuatan 5,9 skala richter yang berlangsung selama 57 detik. Gempa itu membuat banyak rumah rata dengan tanah dan ribuan orang meregang nyawa.
Di sepanjang jalan, banyak bangunan luluh lantak. Bahkan bangunan bertingkat pun banyak yang hancur. Kepanikan terjadi di mana-mana. Kepanikan itu terlihat dalam beberapa video dari kanal YouTube.
Pemilik kanal YouTube Kusnan Alus membagikan video suasana Desa Bangunharjo, Kapanewon Sewon, Bantul lima menit setelah gempa.
Advertisement
Terlihat dalam video itu banyak rumah hancur. Perekam video bertanya tentang nasib tetangganya. Banyak warga yang mengalami luka dan langsung dibawa ke tanah lapang.
Mereka dievakuasi dengan peralatan seadanya. Ada yang digotong dengan tandu, ada yang dibawa pakai becak, mesin pembajak sawah, dan tak sedikit yang digotong beramai-ramai.
Di tengah luka yang ia derita, seorang pria tua masih sanggup mengkoordinasi warganya untuk melakukan pendataan.
Sementara di tempat lainnya, tampak warga bersedih di depan jenazah saudaranya yang meninggal dunia. Berbagai bala bantuan evakuasi berdatangan kemudian.
Dalam video lain yang dibagikan kanal YouTube Balar Jogja, tampak bangunan-bangunan tua juga ikut runtuh akibat gempa besar itu di antaranya Taman Sari, Pojok Benteng Kulon, sebuah gong di Kraton Yogyakarta, dan bagian-bagian lainnya.
Sri Suryati, Arkeolog BP3 DIY sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat atas kondisi yang terjadi.
Advertisement
Bangunan cagar budaya lain juga rusak akibat gempa itu seperti Panggung Krapyak, bangunan tua Kotagede, serta bangunan Makam Raja-Raja Imogiri. Bangunan Candi Sojiwan yang saat itu tengah diekskavasi, hancur lebur sehingga ekskavasi harus dilakukan lagi dari awal.
Dalam video lain yang diunggah pemilik kanal YouTube Kusnan Alus, setelah gempa itu banyak warga yang hanya bisa meratapi rumah mereka yang telah hancur. Ada warga yang berusaha mengais-ngais harta tersisa yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan.
Menurut kesaksian warga, saat gempa terjadi air keluar dari dalam tanah. Hal ini membuat tanah yang sebelumnya padat berubah menjadi lumpur.
Advertisement
Baru pada siang hari bala bantuan berdatangan. Posko-posko tenda didirikan. Sementara warga tetap bertahan di luar rumah. Para warga yang rumahnya hancur langsung menempati posko tenda tersebut.