Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jadi Tren di Masyarakat, Pengrajin Layang-Layang Meraup Untung di Masa Pandemi

Jadi Tren di Masyarakat, Pengrajin Layang-Layang Meraup Untung di Masa Pandemi Jadi Tren di Masyarakat, Pengrajin Layang-Layang Meraup Untung di Masa Pandemi. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Pandemi Covid-19 memang memberikan dampak serius bagi kehidupan masyarakat. Bukan hanya soal kesehatan yang masih menjadi ancaman, namun keberadaan virus ini juga membatasi berbagai kegiatan masyarakat. Masyarakat terpaksa harus menghabiskan lebih banyak waktu di rumah untuk mengurangi risiko penyebaran virus yang semakin meluas.

Dengan kondisi yang semakin terbatas, tidak heran jika pandemi Covid-19 memunculkan berbagai macam permasalahan. Mulai dari masalah ekonomi yang menurun, masalah pendidikan yang masih terus beradaptasi, banyak masyarakat yang terkena imbas pemutusan hubungan kerja, dan berbagai kondisi lain yang menjadi kendala bagi masyarakat.

Meskipun muncul beragam masalah yang dihadapi masyarakat, bukan berarti pandemi Covid-19 selalu berlaku buruk. Banyaknya waktu yang dimiliki masyarakat selama di rumah, justru memunculkan tren kegiatan baru yang semakin diminati. Mulai dari tren bersepeda, tren berkebun, hingga tren memelihara berbagai macam ikan cupang.

Bukan hanya itu, tren kegiatan yang tidak kalah populer di masyarakat saat pandemi adalah permainan layang-layang. Seperti diketahui, beberapa waktu terakhir banyak masyarakat mulai tertarik dengan permainan tradisional ini. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa mengisi waktu luang selama di rumah dengan bermain layang-layang.

Semakin banyak diminati masyarakat, usaha membuat layang-layang memberikan peluang tersendiri bagi pengrajin. Kini, banyak inovasi layang-layang baru dengan beragam bentuk dan keunggulan yang semakin menarik minat masyarakat. Tidak heran, dengan adanya tren ini banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh para pengrajin layang-layang.

Meningkatnya Pemintaan Layang-Layang di Masa Pandemi

jadi tren di masyarakat pengrajin layang layang meraup untung di masa pandemi

©2020 Merdeka.com/Facebook: The Qeen Kite

Sriyono (33), salah satu pengrajin merasakan dampak keuntungan dengan adanya tren layang-layang yang digemari masyarakat selama pandemi. Sriyono adalah seorang pengrajin layang-layang asal Yogyakarta yang telah merintis bisnis sejak tahun 2015. Hingga kini, Yono, sapaan akrabnya, masih terus menekuni bisnis yang bermula dari hobinya bermain layang-layang ini.

Sebagai bisnis musiman, Yono biasanya mulai membuat kerajinan layang-layang untuk stok penjualan pada bulan Mei. Setiap tahunnya, tren layangan ini akan berlangsung hingga bulan Agustus dan Oktober sebagai puncaknya. Bahkan selama pandemi, Yono menerima permintaan pesanan yang semakin meningkat di masyarakat.

“Kalau untuk di masa pandemi ini cukup ramai, permintaan semakin banyak. Kalau untuk permintaan dari pelanggan dan masyarakat tahun ini dibanding dengan tahun lalu, memang banyak tahun ini.” ungkapnya.

Begitu pula dengan Tomik Endah Nurwanto (34) yang mendapatkan banyak pesanan layang-layang selama pandemi. Berbeda dengan Yono, Tomik memulai bisnis kerajinan layang-layang ini sejak awal pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, termasuk daerah Yogyakarta, tempat tinggalnya.

Kasus Corona yang semakin meningkat pun berdampak pada kondisi ekonomi keluarga Tomik yang semakin menurun. Terlebih lagi istrinya yang bekerja di salah satu toko pusat oleh-oleh terpaksa dirumahkan sementara untuk pengurangan karyawan.

Bukan hanya itu, Tomik yang sebelumnya bekerja sebagai ilustrator di sebuah penerbit juga harus menerima pahit karena banyak proyek pekerjaan yang dibatalkan sejak pandemi. Karena ketidaksengajaan melihat orang yang mulai memainkan layangan, Tomik terpikir untuk memproduksi layangan bergambar dengan memanfaatkan keahliannya sebagai ilustrator.

“Awal pandemi pertama lihat ada orang main layangan biasa, lalu saya berpikir membuat layangan bapangan yang digambar untuk hiburan anak saya. Tidak sengaja tes drive terbang bisa, lalu saya post di Facebook tahu-tahu layangan mulai booming dan banyak pesanan masuk yang masuk ke saya.” jelasnya.

Meraup Keuntungan Lebih Selama Pandemi

Meningkatnya permintaan layang-layang di masyarakat, membuat para pengrajin layang-layang ini pun mendapatkan keuntungan selama pandemi Covid-19. Hal ini diamini oleh Sriyono, di mana ia mendapatkan keuntungan hingga kisaran Rp10–15 juta setiap musim, termasuk di masa pandemi ini.

Terdapat beberapa jenis layang-layang yang diproduksi olehnya dan laku keras di masyarakat. Mulai dari layangan persegi biasa, layangan dua dimensi dengan bentuk cacing, pocong, kuntilanak, maupun layangan tiga dimensi yang bersusun. Masing-masing jenis layangan ini pun dijual dengan harga yang berbeda-beda sesuai ukurannya.

“Kalau untuk harga itu saya mulai dari harga Rp30 ribu untuk yang termahal sekitar Rp200 ribu. Kalau yang model batangan seharga 200 ribu itu sudah besar sekali, bentangan sayapnya mencapai 2,6 meter biasanya untuk orang dewasa. Kemudian yang paling laris yang anak-anak ukuran kecil mulai harga 30 ribu.”

Berbeda dengan Sriyono yang membuat stok produk dan melayani pesanan sekaligus, bisnis layang-layang yang dijalankan Tomik hanya melayani pemesanan saja. Ini merupakan salah satu strategi bisnisnya, agar layang-layang lukis yang diproduksinya eksklusif dengan gambar yang berbeda setiap layangan.

“Saya sistemnya pre-order, misalnya mau pesan dengan gambar tertentu kita kerjakan. Itu strategi bisnis saya biar benar-benar limited, original, handmade, jadi setiap orang yang beli layangan saya itu hanya satu. Ini menjadi sisi kebanggaan tersendiri, karya kita tersebar di mana-mana,” jelasnya.

Tomik juga melayani permintaan pesanan yang beragam bentuk maupun lukisan. Masing-masing layangan yang diproduksinya juga mempunyai harga yang berbeda-beda tergantung tingkat kerumitannya. Biasanya jenis layangan yang diproduksi Tomik mempunyai harga mulai dari Rp80 ribu rupiah hingga paling mahal mencapai Rp1,5 juta.

Baik Sriyono maupun Tomik, biasanya membuka layanan pesanan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, Email, maupun Whatsapp. Layanan yang dibuka secara online ini pun memungkinkan pesanan pelanggan dari berbagai kota di luar daerah. Meskipun begitu, bagi Tomik strategi pemasaran yang paling efektif masih berasal dari informasi mulut ke mulut.

Muncul Banyak Pesaing dan Upaya Mengedepankan Kualitas

jadi tren di masyarakat pengrajin layang layang meraup untung di masa pandemi

©2020 Merdeka.com/ Facebook : Eboerke - Layangan Loekisnya Jogja

Meningkatnya permintaan masyarakat terhadap layang-layang ini memang memberikan banyak keuntungan bagi setiap pengrajinnya. Tidak heran jika di tren layang-layang di masa pandemi ini membuat banyak orang ikut mengambil peluang yang ada. Hal ini juga berkaitan dengan banyaknya masyarakat yang harus kehilangan pekerjaan karena kondisi ekonomi yang tidak stabil di masa pandemi.

Meskipun begitu, baik Sriyono maupun Tomik tidak mempermasalahkan adanya hal ini. Mereka justru memberikan kesempatan bagi pengrajin baru untuk berkreasi dan menciptakan peluang bagi setiap karyanya. Hal ini mendorong Sriyono dan Tomik untuk lebih kreatif membuat inovasi-inovasi baru yang menarik konsumen.

“Kalau untuk saya sendiri itu nggak masalah, yang terpenting bagi saya semakin banyak pesaing semakin kita dituntut untuk lebih. Jadi selama ini yang saya lakukan adalah menjaga kualitas, dari segi warna, bentuk, kualitas terbang itu saya jaga,” kata Sriyono.

Begitu juga dengan Tomik yang berusaha mengutamakan kualitas bahan untuk setiap produk yang dihasilkannya. Bukan hanya itu, Tomik juga mengangkat ciri khas unik dari lukisan yang dibuat untuk setiap jenis layangannya.

“Intinya kalau layangan saya itu lebih mengedepankan kualitas bahan sama seninya. Jadi saya ingin limited jadi satu layangan beda gambar. Dari situ banyak pesanan yang saya terima,” jelas Tomik.

Terdapat Beberapa Kendala

Selama menjalankan bisnis kerajinan layangan, ternyata terdapat beberapa kendala yang ditemui Sriyono maupun Tomik. Bagi Sriyono, banyaknya pesanan yang masuk selama pandemi terpaksa harus ditolak sebagian. Hal ini karena semua proses pembuatan layangan hanya dikerjakan sendiri. sehingga daya produksi yang dimiliki tidak sebanding dengan permintaan pasar.

Bukan hanya itu, Sriyono juga masih menemukan kendala distribusi layangan ke pelanggan. Ukuran layangan yang besar dan bahannya yang rentan rusak. Bahkan biaya kirim yang dikeluarkan juga lebih mahal dari harga layangan yang dijual.

“Untuk pengiriman juga masih saya lakukan sendiri. Jadi untuk mengirim layang-layang lewat paket itu melebihi kuota tempat jadi pengirimannya sedikit mahal. Walaupun beratnya tidak seberapa tapi untuk ukurannya tidak sebanding dengan harganya,” jelasnya.

Berbeda dengan Tomik, ia lebih menemui berbagai kendala yang berhubungan dengan jenis dan kualitas bahan yang dibutuhkan untuk produksi. Dalam hal ini, Tomik mencoba mencari bahan baku dengan harga yang terjangkau namun mempunyai kualitas bagus. Seperti memilih cat lukis dan bahan kain yang didatangkan dari Bali agar layangan tidak mudah sobek meskipun jatuh beberapa kali.

Rencana dan Harapan ke Depan

jadi tren di masyarakat pengrajin layang layang meraup untung di masa pandemi

©2020 Merdeka.com/ Facebook : Eboerke - Layangan Loekisnya Jogja

Melihat peluang yang semakin meningkat selama pandemi, membuat Sriyono dan Tomik ingin semakin mengembangkan bisnis kerajinan layangan yang sedang dijalankan. Ke depan, Sriyono berencana membeli alat yang dapat membantu memperbanyak produksi. Bukan hanya itu, Sriyono juga berharap dapat membuka peluang dan lapangan kerja bagi masyarakat di sekitarnya.

Begitu pula dengan Tomik, yang melihat tren layang-layang yang ada di masyarakat bisa menjadi hiburan serta dapat memajukan roda perekonomian masyarakat. Bukan hanya dari sisi pengrajin layang-layang, namun juga berbagai penjual bahan baku yang mendapatkan untung dengan adanya tren ini.

Lebih dari itu, Tomik berharap tren layangan di masyarakat terus dilestarikan. Bahkan ini bisa menjadi peluang untuk memajukan pariwisata Indonesia lebih baik ke depan.

“Saya berpikir semoga ini bukan cuma musiman karena lagi pandemi, ke depan kalau bisa ini jadi agenda festival tahunan untuk hiburan masyarakat. Sehingga layangan bisa terus dibudayakan dan dilestarikan. Semoga dinas-dinas terkait juga lebih mau memperhatikan budaya khususnya layangan, mau menggali potensi-potensi lokal, karena anak-anak muda punya kreativitasnya luar biasa,” ungkapnya.

(mdk/ayi)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP