Fungsi Zat Besi bagi Tubuh, Memproduksi Energi hingga Mengatur Suhu Tubuh

Kamis, 25 November 2021 16:20 Reporter : Ayu Isti Prabandari
Fungsi Zat Besi bagi Tubuh, Memproduksi Energi hingga Mengatur Suhu Tubuh ilustrasi hati sapi. eatalready.com

Merdeka.com - Tubuh memerlukan berbagai asupan nutrisi untuk mendukung fungsi dan sistem kerja organ tubuh dengan baik. Mulai dari kandungan karbohidrat dan serat yang dapat memberikan asupan energi, protein yang berguna untuk pembentukan tulang, hingga mineral yang berperan mendukung pembentukan enzim, fungsi otot, dan saraf.

Bukan hanya itu, tubuh juga memerlukan asupan zat besi yang cukup. Secara umum, zat besi dibutuhkan tubuh untuk memproduksi sel darah merah atau hemoglobin. Dengan produksi hemoglobin yang baik dan tercukupi, maka dapat memudahkan tubuh dalam mengalirkan darah kaya oksigen ke seluruh organ dan bagian tubuh.

Selain itu, terdapat beberapa fungsi zat besi bagi tubuh yang tidak kalah penting. Dalam hal ini, zat besi diperlukan dalam proses pembentukan energi, proses pencernaan, sistem kekebalan, dan pengaturan suhu tubuh. Asupan zat besi juga dibutuhkan ibu hamil untuk membantu melancarkan peredaran darah dan nutrisi ke janin.

Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa zat besi memainkan peranan penting dalam tubuh. Fungsi zat besi ini pun berkaitan dengan sistem kerja organ-organ vital dalam tubuh. Dengan begitu, penting untuk mencukupi asupan zat besi dengan baik untuk memudahkan fungsi kerja tubuh dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Dilansir dari Medical News Today, berikut kami merangkum fungsi zat besi bagi tubuh dan rekomendasi konsumsinya yang perlu Anda perhatikan.

2 dari 4 halaman

Fungsi Zat Besi bagi Tubuh

ilustrasi hamil
©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Subbotina Anna

Secara umum, terdapat beberapa fungsi zat besi yang berperan penting bagi tubuh. Dalam hal ini, zat besi dibutuhkan tubuh untuk membantu proses pembentukan energi, proses pencernaan, sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan suhu tubuh.

Orang yang tidak mendapatkan asupan zat besi dengan cukup bisa mengalami berbagai macam gangguan, seperti anemia, mudah lelah, jantung berdebar-debar, kulit pucat, dan sesak napas. Berikut beberapa fungsi zat besi bagi tubuh yang perlu Anda ketahui.

Mendukung kehamilan yang sehat

Fungsi zat besi bagi tubuh yang pertama yaitu membantu memproduksi sel darah merah untuk memasok oksigen dan nutrisi dengan baik ke seluruh bagian tubuh. Fungsi ini juga sangat dibutuhkan bagi ibu hamil. Dengan asupan zat besi yang cukup, aliran darah menjadi lancar dan proses pasokan oksigen serta nutrisi ke janin terjamin dengan baik. Tidak heran, jika ibu hamil membutuhkan asupan zat besi yang lebih tinggi.

Asupan zat besi yang rendah selama kehamilan dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Kekurangan zat besi selama kehamilan juga meningkatkan risiko gangguan perkembangan kognitif atau perilaku pada bayi. Wanita hamil dengan zat besi rendah mungkin lebih rentan terhadap infeksi karena zat besi juga mendukung sistem kekebalan tubuh.

Proses pembentukan energi

Fungsi zat besi bagi tubuh berikutnya yaitu membantu proses pembentukan energi. Zat besi membawa oksigen ke otot dan otak yang sangat berguna untuk kinerja mental dan fisik. Tidak heran, jika kadar zat besi yang rendah dalam tubuh dapat menyebabkan kurangnya fokus, peningkatan iritabilitas, dan penurunan stamina. Dengan begitu, penting untuk mencukupi asupan zat besi harian dengan baik untuk membantu meningkatkan produksi energi dengan baik bagi tubuh.

Meningkatkan performa tubuh

Fungsi zat besi bagi tubuh juga berguna untuk meningkatkan performa tubuh. Dalam hal ini, asupan zat besi dapat membantu meningkatkan ketahanan tubuh atlet wanita pelari jarak jauh. Beberapa ahli juga mengatakan bahwa kekurangan zat besi pada atlet dapat menurunkan kinerja atletik dan menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Hal ini tidak lain karena asupan zat besi yang kurang, akan berdampak pada penurunan produksi sel darah merah. Sel darah merah yang rendah akan mengurangi kinerja tubuh selama melakukan aktivitas fisik karena minimnya pasokan oksigen pada otot. Sehingga zat besi termasuk salah satu asupan nutrisi penting bagi atlet yang perlu dipenuhi dengan baik.

3 dari 4 halaman

Makanan yang Mengandung Zat Besi

Setelah mengetahui beberapa fungsi zat besi bagi tubuh, terdapat jenis-jenis makanan dengan kandungan zat besi yang baik untuk dikonsumsi. Beberapa sumber zat besi dalam makanan bisa didapat dari kerang, oats, cokelat hitam, hingga kacang mete.

Berikut beberapa rekomendasi makanan dengan kandungan zat besi tinggi yang bisa Anda konsumsi:

  • Kerang kalengan: 3 ons menyediakan 26 mg zat besi.
  • Oat sereal yang diperkaya, polos, dan kering: 100 g menyediakan 24,72 mg.
  • Kacang putih: Satu cangkir menyediakan 21.09.
  • Cokelat hitam (45 hingga 69 persen kakao): Satu batang menyediakan 12,99 mg.
  • Tiram Pasifik yang dimasak: 3 ons menyediakan 7,82 mg.
  • Bayam yang dimasak: Satu cangkir menyediakan 6,43 mg.
  • Hati sapi: 3 ons menyediakan 4,17 mg.
  • Lentil rebus: Setengah cangkir menyediakan 3,3 mg.
  • Tahu: Setengah cangkir menyediakan 2,03 mg.
  • Buncis rebus: Setengah cangkir menyediakan 2,37 mg.
  • Tomat rebus: Setengah cangkir menyediakan 1,7 mg.
  • Daging giling tanpa lemak: 3 ons menyediakan 2,07 mg.
  • Kentang panggang sedang: Ini menyediakan 1,87 mg.
  • Kacang mete panggang: 3 ons menyediakan 2 mg.
4 dari 4 halaman

Asupan Suplemen yang Direkomendasikan

besi
©www.healthcastle.com

Setelah mengetahui fungsi zat besi bagi tubuh dan beberapa rekomendasi makanannya, asupan zat besi juga bisa didapatkan dari konsumsi suplemen khusus. Dalam hal ini, konsumsi suplemen zat besi perlu memperhatikan takaran yang disarankan. Berikut penjelasan asupan suplemen dengan takaran yang direkomendasikan:

Bayi:

  • 0 hingga 6 bulan: 0,27 miligram (mg)
  • 7 hingga 12 bulan: 11 mg

Anak-anak:

  • 1 hingga 3 tahun: 7 mg
  • 4 hingga 8 tahun: 10 mg

Laki-laki:

  • 9 hingga 13 tahun: 8 mg
  • 14 hingga 18 tahun: 11 mg
  • 19 tahun ke atas: 8 mg

Wanita:

  • 9 hingga 13 tahun: 8 mg
  • 14 hingga 18 tahun: 15 mg
  • 19 hingga 50 tahun: 18 mg
  • 51 tahun ke atas: 8 mg
  • Selama kehamilan: 27 mg
  • Saat menyusui antara 14 dan 18 tahun: 10 mg
  • Saat menyusui pada usia lebih dari 19 tahun: 9 mg
[ayi]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini