Bukan Sekadar Olahraga, Intip Keseruan Jemparingan, Panahan Tradisional Dulu hanya Dilakukan Keluarga Kerajaan Mataram

Jemparingan merupakan olahraga panahan tradisional yang dulu hanya dilakukan oleh keluarga Kerajaan Mataram.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Bukan Sekadar Olahraga, Intip Keseruan Jemparingan, Panahan Tradisional Dulu hanya Dilakukan Keluarga Kerajaan Mataram
Bukan Sekadar Olahraga, Intip Keseruan Jemparingan, Panahan Tradisional Dulu hanya Dilakukan Keluarga Kerajaan Mataram (Merdeka.com)

Bukan Sekadar Olahraga, Intip Keseruan Jemparingan, Panahan Tradisional Dulu hanya Dilakukan Keluarga Kerajaan Mataram

Kini olahraga ini diminati banyak orang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Jemparingan merupakan olahraga panahan tradisional yang dulu hanya dilakukan oleh keluarga Kerajaan Mataram. Seiring waktu, jemparingan dijadikan ajang perlombaan untuk para prajurit keraton.

Sejarah

Mengutip situs indonesia.go.id, keberadaan jemparingan dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), raja pertama Yogyakarta, mendorong pengikutnya belajar memanah sebagai sarana membentuk watak ksatria.

Watak kesatria yang dimaksud ialah empat nilai, yaitu: sawiji (konsentrasi), greget (semangat), sengguh (percaya diri), dan ora mingkuh (bertanggung jawab).

Berbeda dari Panahan Lain

Berbeda dari Panahan Lain<br>
© 2024 merdeka.com/Humas Jogja

Berbeda dengan panahan lain yang biasanya dilakukan sambil berdiri, jemparingan dilakukan dalam posisi duduk bersila. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Jika pemanah dalam olahraga panahan umumnya berfokus pada kemampuan pemanah membidik target dengan tepat, pemanah jemparingan tidak membidik dengan mata, tetapi memposisikan busur di hadapan perut sehingga bidikan didasarkan pada perasaan pemanah.

Pekan Olahraga Nasional (PON)

Mengutip situs Jadesta Kemenparekraf RI, panahan tradisional gaya mataraman merupakan sebuah inovasi dari Pakualam VIII saat Indonesia menyelenggarakan PON I pada tahun 1948.

Saat itu, Indonesia baru saja merdeka dan belum banyak atlet memanah yang memiliki peralatan modern. Muncul lah gagasan untuk menggunakan peralatan tradisional, tetapi dengan teknik modern.

Perkembangan

Perkembangan<br>
© 2024 merdeka.com/Humas Jogja

Seiring perkembangan zaman, jemparingan mulai mengalami beberapa perubahan. Kini terdapat berbagai cara memana serta bentuk sasaran yang dibidik. Meski demikian, semuanya berpijak pada filosofi jemparingan sebagai sarana melatih konsentrasi. 

Beberapa orang juga tidak lagi membidik dengan posisi gandewa di depan perut, tetapi dalam posisi sedikit miring sehingga dapat membidik dengan mata.

Hingga kini di lingkungan Keraton Yogyakarta, permainan jemparingan rutin dilaksanakan setiap minggu. Para pemanah mengenakan busana khas Jawa. Kebaya dan batik untuk perempuan, sementara kaum pria mengenakan surjan, kain batik dan blangkon.

Mereka duduk berjajar merentang busur untuk menempa hati, memusatkan pikiran dan konsentrasi untuk sebuah tujuan yang ingin dicapai.

Bukan Sekadar Olahraga

Bukan Sekadar Olahraga<br>
Dok. Istimewa

Mengutip situs resmi Pemprov DIY, jemparingan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.

“Makna jemparingan yakni sebagai olah raga, olah rasa, dan olah karsa. Kita berlatih mengatur diri sendiri. Mengenai bagaimana cara kita mengalahkan diri sendiri karena sering distraksi itu datang dari diri sendiri,” ujar Ketua Panitia Hadeging Kadipaten Pakualaman, Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro di Lapangan Kenari, Yogyakarta, Minggu (2/6/2024).

Rekomendasi