9 Fakta Asrah Batin, Tradisi Berburu Ikan di Grobogan untuk Cegah Nikah Antar Desa

Jumat, 27 Maret 2020 14:10 Reporter : Shani Rasyid
9 Fakta Asrah Batin, Tradisi Berburu Ikan di Grobogan untuk Cegah Nikah Antar Desa Asrah batin. ©2020 liputan6.com

Merdeka.com - Saling mencintai merupakan fitrahnya manusia. Cinta bisa timbul kapan saja dan bisa menghampiri siapa saja. Namun, ada pula cinta yang tidak dikehendaki. Salah satunya adalah cinta dua orang yang masih saudara sekandung yang bagi hampir semua budaya di Indonesia hal itu dilarang.

Di Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, ada sebuah tradisi unik. Di sana para warganya mengadakan tradisi itu dalam periode dua tahun sekali. Tradisi itu bernama Asrah Batin atau penyerahan jiwa dua saudara.

Dilansir dari Liputan6.com, tradisi bermula ketika ada dua orang sesepuh dari dua desa, Raden Bagus Sutejo, sesepuh Desa Karanglangu dan Raden Ayu Mursiyah, sesepuh Desa Ngombak, saling mencintai dan kemudian menikah.

Saat pesta perayaan pernikahan, mereka baru menyadari bahwa mereka masih saudara kandung. Oleh karena itu, pesta yang telah terlanjur dilaksanakan diganti dengan pesta pertemuan saudara yang telah lama berpisah.

Hingga saat ini, tradisi itu masih diselenggarakan. Tiap dua tahun masyarakat dari dua desa itu berkumpul di pinggir Sungai Tuntang untuk melaksanakan tradisi Asrah Batin. Di sana mereka beramai-ramai mencari ikan menggunakan alat jala dan irek. Berikut selengkapnya.

1 dari 9 halaman

Kisah Cinta Dua Saudara Kandung

anak

favim.com

Tradisi itu bermula ketika dua orang sesepuh dua desa saling jatuh cinta. Mereka adalah Raden Bagus Sutedjo yang memiliki nama asli Kedono, dan Raden Ayu Mursiyah, yang memiliki nama asli Kedini.

Dilansir dari Liputan6.com, Kedono rela menyeberangi Sungai Tuntang untuk melamar Kedini. Para warga pun juga sudah siap dengan pesta lamaran mereka. Namun saat pesta baru akan digelar, mereka baru menyadari bahwa mereka semua saudara kandung. Pada akhirnya, pesta mereka diganti dengan perayaan dua saudara yang telah lama berpisah.

2 dari 9 halaman

Digelar Dua Tahun Sekali

asrah batin

2020 liputan6.com

Tradisi Asrah Batin digelar dua tahun sekali secara turun temurun. Dalam acara itu, para warga desa tidak memandang latar belakang agama dan kepercayaan. Semua masyarakat di sana tetap harus menggelar acara itu selama sepekan.

Dilansir dari Liputan6.com, jelang sepekan sebelum acara biasanya warga dan pemuda setempat pergi mencari ikan untuk tambahan agar pada hari puncak pasokan ikan melimpah untuk dinikmati warga dari dua desa yang merayakan tradisi itu, Desa Ngombak dan Desa Karanglangu.

3 dari 9 halaman

Pesta Berburu Ikan di Sungai

berburu ikan arapaima di sungai hutan amazon

AFP/RICARDO OLIVEIRA

Pesta pembuka dalam pesta itu adalah gebyok atau mencari ikan di Sungai Tuntang. Dilansir dari Liputan6.com, mereka mencari ikan menggunakan alat manual seperti jala dan irek. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh kepala desa setempat. Setelah ikan terkumpul, mereka kemudian akan memasaknya dengan campuran sayuran, kelapa, dan cabai.

Dari usaha keras selama dua hari itu, mereka berhasil mengumpulkan sebanyak 848 tusuk bambu ikan. Kemudian ikan tersebut dipanggang. Separuh ikan yang telah masak dijadikan botok, sementara separuhnya lagi digunakan sebagai bahan rebutan warga.

4 dari 9 halaman

Prosesi Pembagian Makanan

gede gelar tumpengan

2019 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Sehari sebelum puncak acara, ikan yang telah dimasukkan ke dalam nasi dibagikan kepada peserta yang hadir. Selain itu, di sana disediakan juga minuman Badek yang terbuat dari air tape. Warga juga mendapatkan Boreh, yaitu serbuk bedak adem.

Dalam prosesi pembagian itu, warga mengerumuni rumah Kepala Desa Ngombak. Dilansir dari Liputan6.com, di sana mereka berebut makanan yang dibagikan. Selain itu mereka juga mendapatkan Boreh yang langsung dioleskan ke wajah begitu mereka mendapatkannya.

5 dari 9 halaman

Upacara Menyeberangi Sungai Tuntang

asrah batin

2020 liputan6.com

Proses Asrah Batin atau penyerahan jiwa ini disimbolisasi dengan menyeberangi Sungai Tuntang yang memisahkan Desa Ngombak dengan Desa Karanglalu. Orang yang diberi kehormatan untuk menyeberangi sungai dalam prosesi itu adalah Kepala Desa Karanglangu dan istrinya. Rakit yang digunakan untuk menyeberangi sungai itu dihias dengan janur, bendera merah putih, dan juga karpet sebagai alas lantai rakit.

6 dari 9 halaman

Tetap Digelar Walau Arus Sungai Deras

tim sar cari warga yang hanyut di sungai deli

2020 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Prosesi menyeberangi Sungai Tuntang itu tak bisa dibatalkan walaupun arus sungai sedang deras-derasnya. Pada saat itulah, puluhan warga biasanya melindungi rakit dengan membentuk rantai dari tepi sungai satu ke tepi sungai yang lain. Selain itu, sebuah tali sling yang terbuat dari kawat baja dibentangkan di atas sungai tersebut.

Untuk memperketat pengamanan, sebuah perahu karet dan warga yang mengenakan jaket pelampung disiagakan di sekitar lokasi. Dilansir dari Liputan6.com, sungai selebar 30 meter itu dapat diseberangi dalam waktu 5 menit. Dalam prosesi itu warga berbondong-bondong mendorong rakit sampai tepi sungai

7 dari 9 halaman

Warga Dua Desa Tak Ada yang Berani Menikah

pernikahan unik

2020 Merdeka.com/Facebook Dinas Bridal

Tradisi itu nyatanya tidak hanya menjadi upacara simbolis semata, namun juga menjadi norma yang dianut masyarakat setempat. Dilansir dari Liputan6.com, para warga di kedua desa itu tidak berani saling memiliki pasangan karena pernikahan mereka nantinya akan dianggap pernikahan sedarah.

"Pernikahan tidak pernah terjadi di kedua desa yang selalu memperingati tradisi leluhur mereka. Tradisi itu masih diikuti sampai sekarang di mana warga asli kedua desa tidak pernah melakukan pernikahan karena akan dianggap pernikahan sedarah," ujar sesepuh Desa Ngombak, Tamsir, dilansir Liputan6.com.

8 dari 9 halaman

Harus Disertai Niat Yang Tulus

Menurut Inayati, warga dukuh Karanggeneng, Desa Ngombak, untuk menjadi panitia itu dibutuhkan niat yang ikhlas. "Saya pernah bertanya sama saudara dari desa sebelah apakah dia tidak capek karena harus berjalan sejauh 5 sampai 7 kilometer. Tapi waktu hari H kaki saya sakit dan tidak bisa bekerja, bahkan untuk bergerak saya harus ngesot atau merangkak," ujar Inayati dilansir Liputan6.com.

9 dari 9 halaman

Berlangsung Sejak Ratusan Tahun

Dilansir dari Liputan6.com, tradisi Asrah Batin telah berlangsung sejak ratusan tahun. Kegiatan itu tidak hanya menjadi bagian dari kearifan lokal, namun juga menjadi kegiatan yang mampu mempererat keberagaman warga.

"Kegiatan ini memberi makna tentang pentingnya persatuan. Selain itu, tradisi ini juga menjadi kekayaan daerah yang mampu menarik minat wisatawan lokal maupun luar daerah," ujar Ngatmo, pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Grobogan, dilansir dari Liputan6.com.

[shr]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. DIY
  3. Jateng
  4. Berita
  5. Tradisi Unik
  6. Grobogan
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini