Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Walking Tour Sambil Mengenal Sejarah Bangunan Ikonik Jakarta

Walking Tour Sambil Mengenal Sejarah Bangunan Ikonik Jakarta Walking tour. ©2019 Merdeka.com/Hari Ariyanti

Merdeka.com - "Gue baru tahu lho kenapa dinamakan Bioskop 21. Padahal gue orang Jakarta," kata Leni, saat melintas di depan Gedung Plaza Sinar Mas, di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa dulu di bangunan inilah lahir bioskop yang kini jaringannya berada di seluruh Indonesia dan merupakan jaringan bioskop terbesar di negara ini.

Leni baru saja mendengar penjelasan dari pemandu wisata Farid Mardhiyanto yang memandu rombongan pejabat Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat saat mengikuti walking tour pada Jumat (11/10) pagi. Rombongan wisata jalan kaki mulai berjalan dari depan Sarinah menuju tujuan akhir di terowongan Kendal.

Saat melintasi Plaza Sinar Mas, Farid mengajak rombongan berhenti. Di sana dia memberi penjelasan terkait sejarah bangunan tersebut. Dia menjelaskan, Plaza Sinar Mas merupakan bekas bioskop pertama di Jakarta yang dibangun pada 1987.

"Namanya bioskop 21 (XXI) karena berada di Jalan MH Thamrin kavling 21," ujarnya.

Sekitar 500 meter di selatan Plaza Sinar Mas, berdiri Wisma Nusantara. Dulunya Wisma Nusantara yang berdiri 30 lantai merupakan bangunan tertinggi di Jakarta. Di dekatnya saat ini ada Hotel Pullman yang dulu bernama Hotel President.

Farid menyampaikan, Wisma Nusantara merupakan proyek yang dijadikan percontohan oleh Jepang. Bahan konstruksi bangunan ini berasal langsung dari Jepang. Setelah berhasil membangun Wisma Nusantara, Jepang menjadikannya proyek percontohan di Jepang.

"Statusnya sebagai bangunan tertinggi pertama di Jakarta kemudian dikalahkan oleh Hotel Mandarin Oriental," kata Farid.

Patung selamat datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI) merupakan simbol kota Jakarta yang ikonik selain Monas. Patung ini dibangun untuk menyambut delegasi Asian Games keempat tahun 1962.

Farid menerangkan, patung selamat datang ini dibangun dua kali. Saat itu patung pertama setinggi 7 meter. Namun saat itu Presiden Soekarno menganggapnya terlalu tinggi. Kemudian patung diubah menjadi 5 meter diukur dari kaki sampai kepala patung. Tapi jika digabung dengan tangan yang diangkat ke atas, tinggi patung mencapai 7 meter.

"Patung ini dibangun untuk menyambut delegasi Asian Games yang dari arah Kemayoran. Waktu itu delegasi Asian Games diinapkan di Hotel Indonesia," jelasnya.

Rombongan kemudian melintasi pelican cross, menyeberang menuju Hotel Indonesia Kempinski. Farid mengatakan HI merupakan hotel berbintang pertama di Jakarta. Hotel ini diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1962 menjelang Asian Games. Rombongan kemudian berjalan menuju tujuan terakhir, yaitu terowongan Kendal. Di terowongan yang dihiasi mural yang mencerminkan kisah kehidupan warga Jakarta, rombongan disambut live band yang menyanyikan lagu-lagu tradisional Betawi.

Waktu yang dibutuhkan untuk menjajal wisata jalan kaki dari Sarinah ke terowongan Kendal sekitar satu jam. Wisata jalan kaki merupakan program terbaru Pemkot Jakarta Pusat yang dinamakan Enjoy Jakarta Walking Tour untuk meningkatkan kunjungan wisata. Ada enam rute yang disiapkan dalam program ini yang bisa dipilih langsung wisatawan melalui situs web jakarta-tourism.go.id.

Ada 6 Rute Tur Jalan Kaki

rute tur jalan kaki rev1Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Pusat, Sonti Pangaribuan menyampaikan enam rute tersebut yaitu pertama Skycraper (mulai dari gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jalan Sabang, Djakarta Theater, sampai Hotel All Seasons),

Kedua, rute City Center (mulai dari Museum Nasional dan rute terakhir di Gereja Katedral). Ketiga, rute Pasar Baru (mulai dari Stasiun Juanda sampai Museum Antara). Keempat, rute Diversity (mulai dari Masjid Istiqlal, Vihara Dharma Jaya, dan berakhir di Gereja PNIEL).

Rute kelima Weltevreden (mulai dari Masjid Istiqlal dan berakhir di Monumen Pembebasan Irian Barat), dan rute keenam Menteng Prominence Residences (mulai dari Taman Suropati sampai Masjid Cut Meutia).

Wali Kota Jakarta Pusat, Bayu Megantara menyampaikan rute-rute ini masih permulaan. Pihaknya terbuka menerima masukan dari berbagai pihak terkait rute mana saja yang bisa dijajal dan dipromosikan

Bayu mengatakan, pihaknya ingin memperkenalkan program wisata ini karena alat transportasi yang dimiliki setiap orang adalah kaki dan tidak semua orang punya motor dan mobil. Pihaknya juga ingin menjadikan Jakarta yang merupakan ibu kota negara sebagai bagian pariwisata. Dalam hal ini, pihaknya belajar dari Bangkok.

"Kita pelajari lagi yang namanya ibu kota negara jarang jadi bagian pariwisata. Kita belajar dari Bangkok, selain ibu kota negara juga pusat pariwisata," jelasnya.

(mdk/bal)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP