Kendalikan pangan jelang akhir tahun, Pemprov DKI buka pasar murah
Merdeka.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah melakukan pelbagai persiapan untuk mengantisipasi lonjakan harga pangan menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru. Pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Soni Sumarsono mengatakan, akan menggelar pasar murah di beberapa lokasi di ibu kota untuk mengantisipasi lonjakan harga pengan tersebut.
"Kita akan melakukan pasar murah di banyak tempat. Pasar murah akan kita buka di mana-mana, intinya memastikan harga di pasar lebih murah dari pada harga yang lain, tapi ini beda ya dengan operasi pasar," kata Sumarsono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (28/11).
Sumarsono menilai tidak perlu diadakan operasi pasar karena dia menjamin tidak akan ada kenaikan harga yang drastis. Bahkan untuk harga beras Sumarsono menegaskan tidak akan mengalami kenaikan.
Operasi pasar baru akan dilakukan jika kenaikan harga pangan di pasar mulai tak wajar, yakni naik di atas 10 persen. Sedangkan pasar murah ini diadakan untuk menjaga agar harga pangan tetap stabil.
Sumarsono menjelaskan bahwa mengantisipasi kenaikan harga lebih baik dilakukan jauh-jauh hari karena ketika harga pangan sudah naik akan sangat sulit dilakukan pengendalian.
"Ini walaupun belum naik tetap kita lakukan pasar murah sebagai antisipasi dan strategi . karena kalau sudah pada naik nanti sulit dikendalikan," ungkapnya.
Selain mengantisipasi kenaikan harga pangan, Pemprov DKI juga akan meningkatkan pasokan daging sapi lokal. Saat ini masyarakat cenderung lebih memilih daging sapi impor yang harganya lebih terjangkau karena pasokan daging sapi lokal sangat terbatas.
"Kebutuhan masyarakat itu 600 ekor sapi, sedangkan kita baru bisa memenuhi 300-350 ekor saja," bebernya.
Harga daging sapi lokal lebih mahal karena dikelola oleh perusahaan kecil dan lokasinya yang jauh sehingga biaya ongkosnya mahal. Sedangkan harga daging sapi impor lebih murah karena dikelola oleh perusahaan besar sehingga biaya produksi mereka sudah bisa tertutupi meski menjual dengan harga murah.
"Saat ini kita ngambil sapi jauh, dari NTT. Selain ongkosnya mahal juga terkendala masalah penggemukan. Sapi-sapi kita ini sulit sekali untuk gemuk," kata Sumarsono.
Sumarsono menilai wajar jika masyarakat lebih mencintai produk impor daripada produk lokal dan ini tidak baik untuk jiwa nasionalis masyarakat.
"Bayangkan saja harga daging sapi impor misalnya Rp 90 ribu, sapi lokal Rp 120 ribu. Jadi masyarakat akan lebih memburu daging impor. Lebih cinta produk impor daripada produk lokal. Itu kan secara nasionalisme enggak bagus," keluhnya.
Selain terbelit soal stok daging sapi, Sumarsono juga akan fokus mengantisipasi kenaikan harga cabe yang setiap tahun selalu mengalami lonjakan harga yang cukup drastis. Sebagai strategi, Pemprov DKI akan memberdayakan tanah-tanah pemerintah yang tidak terpakai untuk menanam cabai sehingga tidak perlu lagi bergantung pada pasokan dari luar kota.
"Kita juga akan kerjasama dengan daerah-daerah penyangga Jakarta agar langsung mengirim kesini tanpa melalui para tengkulak. Jadi kita ingin nya langsung dari petani sebagai produsen jadi harganya tidak akan terlalu tinggi," pungkasnya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya