Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Keluh Kesah Pengguna Park and Ride Thamrin Jelang Ditutup

Keluh Kesah Pengguna Park and Ride Thamrin Jelang Ditutup Park and Ride Thamrin. ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Spanduk bertuliskan 'Fasilitas Parkir Ini Dalam Waktu Dekat Akan Ditutup' terlihat jelas di gerbang masuk Park and Ride Thamrin, Jakarta Pusat. Lokasi parkir tersebut akan ditutup oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Dan lahan itu akan dialihkan sebagai pusat kuliner.

Seorang petugas yang enggan disebut namanya mengaku sering mendapat pertanyaan dari pengguna parkir maupun pegawai yang lalu lalang di lokasi tersebut.

"Kemarin itu pada nanya, kenapa sih ditutup, kapan ditutup, saya gak bisa jawab karena memang benaran gak tahu. Saya juga kan mengikut atasan saja, kalau memang harus ditutup, ya mungkin untuk yang terbaik. Apalagi kemarin itu bapak Gubernur juga sudah datang, kan," katanya, Rabu (4/9).

Ia menyatakan, sebelum spanduk dipasang, rata-rata ada 260 mobil dan 111 motor per hari. Itu belum termasuk bus-bus swasta dan pemerintahan. Ramainya kendaraan di sini tidak mengherankan, sebab biaya parkir sangat terjangkau.

Waktu parkir dari 06.00 pagi hingga 20.00 malam dan letaknya yang strategis juga menjadi alasan tempat ini menjadi favorit untuk parkir. Pengguna motor cukup membayar Rp2000, mobil Rp5000, dan bus Rp8000. Ini berlaku untuk satu hari penuh, tidak ada penambahan.

"Karena murah, jadi mereka mau parkir di sini terus, mau panas, mau hujan, ramai aja terus setiap hari sebelum ada spanduknya," ucapnya.

Hal ini dibenarkan Anisa, salah satu pengendara yang setia memarkirkan motornya di sini sejak beberapa bulan lalu. "Parkirnya murah, sampai malam lagi. Jadi kalau jam 7an saya baru ambil motor masih bisa," katanya.

Tepat di depan Park and Ride terdapat halte bus, tak jauh dari situ juga ada halte busway Bank Indonesia.

Anisa yang bekerja di salah satu perusahaan swasta dekat lokasi tersebut mengaku sering lanjut jalan kaki atau naik busway dari tempat ini menuju kantornya.

"Sebenarnya kalau jalan kaki paling 10 sampai 15 menitan, tapi kalau lagi malas atau panas saya suka naik busway sampai HI," ucapnya.

Menanggapi akan ditutupnya tempat itu, ia mengaku sangat menyayangkannya. "Sayang banget sebenarnya, saya juga belum cari tempat lain lagi. Bingung kenapa harus ditutup ya, padahal udah enak banget parkir sini," ungkapnya.

Pendapat yang sama juga diungkapkan Dimas, pengendara motor lainnya. "Saya bingung harus ke mana kalau pindah, mau naik kendaraan umum juga susah karena dari rumah harus nyambung banyak kendaraan, takut telat kerja," katanya.

"Saya dari sini tinggal jalan kaki, gak sampai 5 menit kantor saya dari sini," lanjutnya.

Ia mengerti bahwa kendaraan pribadi memang harus dikurangi, terlebih dengan adanya peningkatan polusi. Namun, ia mengaku belum siap melakukan itu sekarang.

"Memang sih katanya Jakarta lagi polusi tinggi juga, harus kurangi kendaraan. Memang dari sayanya belum siap mungkin ya, saya naik motor aja harus berangkat 2 jam sebelum masuk kantor, gimana kalau saya naik kendaraan umum yang ganti-ganti terus kalau dari rumah," ucapnya.

Yosef, pengendara mobil yang sudah sering parkir di sini juga menyayangkan penutupan ini meski tahu tujuannya baik. "Memang salah satu tujuannya buat kurangin polusi, tapi apa perlu nutup lahan parkir di tengah perkantoran gini? Ini kan mayoritas orang kerja, kenapa mau kerja jadi sulit. Paling saya parkir di Sarinah dulu, tapi gak tahu belum cek biaya parkirnya juga, belum cari tempat lain," ucapnya.

Tak hanya pengendara kendaraan pribadi, sopir bus Kementerian Perhubungan menyatakan pendapatnya. Ketika mendengar tempat ini akan ditutup, ia merasa itu sudah risiko.

"Sebetulnya sudah risiko, karena kita di sini sebelumnya sudah dikasih tahu. Kalau bisa ya biar tetap bersih, rapi, mungkin Dinas Perhubungan bisa menyalurkan tempat di mana gitu biar Jakarta bersih, rapi," ucapnya.

"Selama ini belum ada arahan, nanti coba koordinasi ke mana apa ke Senen, ke Kemayoran, ya mudah-mudahan dari pihak Dinas Perhubungan bisa menyalurkan," harapnya.

Reporter Magang: Ahdania Kirana

(mdk/ded)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP