Hidup Bahagia di Pulau Sabira

Minggu, 30 Mei 2021 07:01 Reporter : Bachtiarudin Alam, Rifa Yusya Adilah
Hidup Bahagia di Pulau Sabira Pulau Sabira di Kepulauan Seribu. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Suara desis minyak goreng terdengar nyaring. Tampak dua wanita paruh baya, warga Pulau Sabira sedang 'menenggelamkan' adonan stick ikan tenggiri ke dalam wajan. Tidak butuh waktu lama, adonan itu mengembang dan mengeras menjadi camilan yang sangat renyah.

Stick tenggiri itu kemudian dimasukkan ke dalam plastik kemasan ukuran 16 x 24 sentimeter. Di tengah kemasan tertulis 'Stick Tenggiri Asli Pulau Sabira' dengan gambar ikan tenggiri. Sedangkan di pojok kiri atas kemasan tertulis 'Binaan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta'. Rupanya kegiatan pengolahan produk hasil laut di Pulau Sabira dibina oleh Dinas KPKP DKI Jakarta.

Fathihah, warga Pulau Sabira menceritakan, jumlah penjualan produk olahan laut meningkat hingga tiga kali lipat. Bukan hanya stick ikan tenggiri saja, produk unggulan Pulau Sabira lainnya seperti kerupuk ikan, ikan asin selar, ikan baronang, ikan tompel, dan ikan bawal sangat diminati.

pulau sabira di kepulauan seribu

Geliat ekonomi warga yang jauh lebih baik ini tak lepas dari keberadaan kapal transportasi milik Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Semakin banyak pengunjung yang menginjakkan kaki ke pulau ini karena akses transportasi yang mulai maju. Sebelum adanya Kapal Cepat yang mulai beroperasi sejak Februari 2019, akses ke Pulau Jaga Utara ini memakan waktu selama delapan jam. Namun kini waktu tempuhnya hanya 3,5 jam.

Bukan hanya waktu tempuh yang singkat, tapi juga operasi kapal lebih intens. Menjadi tiga kali dalam sepekan. Yakni Senin, Rabu, dan Sabtu. Sebelumnya kapal menuju Pulau Sabira dari Pelabuhan Muara Angke atau Kaliadem hanya beroperasi satu minggu sekali.

"Alhamdulillah, semenjak ada Kapal Dishub, kita jadi bisa jual stick (tenggiri) lebih banyak ke kota. Ada tambahannya tiga kali lipat. Dulu kan seminggu sekali mengirimnya, sekarang kapalnya sudah datang tiga kali seminggu," kata Fathihah saat berbincang dengan merdeka.com di tempat pengolahan stick ikan tenggiri Pulau Sabira, Sabtu (22/5).

pulau sabira di kepulauan seribu

Harga satu plastik stick ikan tenggiri seberat 400 gram dibanderol Rp11.000. Dalam satu minggu, dia bisa menerima hingga ratusan pesanan. Pesanan terbanyak biasanya datang dari Bupati Kepulauan Seribu, Junaedi dan dari restoran seafood di Jakarta Utara.

Fathihah dan ibu-ibu di Pulau Sabira lainnya kini bisa membantu para kepala keluarga menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada 2017, warga di Pulau Sabira mulai mendapatkan pelatihan mengolah produk hasil tangkapan laut oleh Dinas KPKP Pemprov DKI Jakarta.

pulau sabira di kepulauan seribu

Fathihah dan sebagian ibu-ibu lainnya juga membuka warung untuk menjual kebutuhan pokok seperti minyak, telur, gula, mi instan, beras, kecap, dan lainnya. Pasokan kebutuhan pokok dari kota Jakarta Utara ke Pulau Sabira menjadi lebih mudah. Alhasil, pendapatan dari usaha warung kecil-kecilan itu juga meningkat.

Kini, Fathihah bisa membeli ponsel pintar untuk sekolah daring anaknya. Bahkan, dia sedang membangun rumah permanen dengan bahan material batu bata dan semen seperti rumah-rumah lazim yang ditemukan di kota.

"Ya walaupun ini juga hasil menabung bertahun-tahun tapi alhamdulillah tahun ini bisa (terealisasikan). Soalnya bahan bangunan kan juga dikirim dari kota, sekarang sudah ada kapal yang bisa kirim (bahan bangunan)," kata warga asli Kepulauan Bangka Belitung itu.

Hal yang sama disampaikan Nani. Perajin ikan asin Selar khas Sabira. Dulu dia hanya bisa menjual 7 kuintal ikan asin selar ke kota. Namun kini bisa mencapai 20 kuintal atau 2.000 kilogram dalam sepekan. Bahkan jika sedang laris dan musim panen ikan selar, dia bisa menerima pesanan hingga 5 kuintal dalam sehari. Ikan selar dijual dalam berbagai ukuran. Harganya sekitar Rp15.000-25.000. Sedangkan harga ikan selar yang sudah diolah dan dikemas di plastik berukuran 200 gram dijual seharga Rp7.000-10.000.

Sisi Barat Pantai Pulau Sabira menjadi tempat ikan asin 'berjemur'. Tidak ada pantai berpasir putih. Seperti halnya di pulau-pulau gugusan Kepulauan Seribu lainnya. Pulau Sabira dikelilingi tanggul pemecah ombak (breakwater) sebagai pembatas pulau sekaligus penahan abrasi. Inilah sebabnya pantai di Pulau Sabira tak banyak dikenal sebagai objek wisata. Kedua pantai di Pulau Sabira pun tidak memiliki nama. Warga biasanya menyebutnya 'Pantai Barat' dan 'Pantai Utara'.

pulau sabira di kepulauan seribu

Meskipun pantai bukan merupakan daya tarik utama untuk berkunjung ke Pulau Sabira, namun sebenarnya wisatawan tetap bisa menikmati indahnya sunset dan sunrise Pulau Sabira. Dari tanggul-tanggul Pantai Barat maupun Pantai sisi Utara pulau. Banyak anak-anak pulau Sabira yang sering menikmati sunset di sore hari dengan duduk-duduk santai di tanggul pantai.

Tak lebih 10 kapal Nelayan beragam warna berbaris di dermaga. Kapal itu milik warga Sabira. Puluhan rumah permanen berjejer di balik rimbunnya pepohonan yang membuat asri. Aktivitas tak ramai seperti di daratan Jakarta. Hanya ada beberapa Petugas Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU), Petugas PJLP, dan petugas Dishub sedang menjalani rutinitasnya masing-masing.

Sabira dikenal sebagai pulau yang kaya akan sumber daya alamnya. Awalnya, pulau ini hanya menjadi tempat singgah para pencari ikan. Hingga akhirnya, mereka memilih menetap di pulau ini.

pulau sabira di kepulauan seribu

Ketua RW 03, Kelurahan Pulau Harapan, Ali Kurniawan menceritakan, sejak tahun 1980, pulau Sabira sudah terkenal akan kekayaan lautnya. Hingga pada tahun 2000-an, paceklik terjadi. Banyak nelayan memilih hengkang dari pulau ini. Mencari tempat lain maupun ke pusat ibu kota.

Ali salah seorang nelayan senior di Sabira. Rumahnya cukup megah. Bahkan Anies Baswedan sempat menginap di rumah ini. Sekitar 60 warga Sabira sudah menjadi petugas PJLP baik yang di Sudin LH, Guru, SDA, PLTD dan suku dinas lainnya. Walaupun banyak yang sudah beralih, Ali mengaku tetap senang, karena itu bisa jadi tantangan kemajuan dengan banyaknya fasilitas publik yang dibangun pemerintah DKI.

"Selama ini saya lihat walau banyak yang menjadi PJLP tidak ada perubahan yang signifikan. Jadi perubahan itu ada, peningkatan pendapatan saja, karena stabil saya lihat. Tapi, sosial justru ini PJLP ini enak diajak kerja sosial, kerukunan lebih lekat," kata Ali.

pulau sabira di kepulauan seribu

Sampai hari ini Ali tetap memilih menjadi nelayan. Profesi ini adalah jalan hidup sang ketua RW Pulau Sabira. Terlebih hasil laut Sabira selalu menjanjikan.

"Hasilnya tetap lumayan, memancing Tenggiri itu hasilnya seorang bisa 30 sampai 40 kg sehari," tuturnya.

Sebagian besar warga lokal Pulau Sabira sudah banyak yang beralih profesi. Mereka menjual kapal-kapal penangkap ikan, memilih menjadi pegawai di Pemprov DKI Jakarta.

"Seperti saya sekarang jadi PJLP di Sudin LH," kata salah seorang warga, Agung sambil menyantap ikan bawal laut goreng yang menjadi primadona makanan khas di Pulau Sabira.

Para nelayan di Sabira kesulitan mencari anak buah kapal. Lantaran kebanyakan dari mereka lebih memilih menjadi petugas di darat. Bahkan, untuk merekrut ABK, mereka harus mengirim orang dari luar pulau. Tapi kebanyakan tak bertahan lama.

Sebelum menjadi petugas PJLP, Agung adalah seorang kapten kapal dengan enam orang ABK. Para ABK yang bekerja kepada Agung kebanyakan adalah kerabatnya yang memang berada di pulau. Namun semenjak ada lowongan petugas di darat, banyak yang beralih profesi.

"Dulu sebelum 2019 saya masih jadi kapten kapal, tapi semenjak banyak yang pindah, dari enam jadi lima, sampai tinggal tiga itu sudah banyak menganggurnya. Karena tidak cukup melaut dengan tiga orang," ujar Agung.

pulau sabira di kepulauan seribu

Agung akhirnya mengikuti jejak saudara-saudaranya yang lebih dahulu menjadi petugas PJLP. Mereka mengurus dan merawat setiap layanan fasilitas umum di Pulau Sabira. Pada 2019, Agung diterima masuk menjadi petugas Sudin LH, tak cuma itu sang istri pun diterima sebagai petugas PJLP pengurus Ruang Publik Terpadu Ramah Anak yang sudah hadir di pulau Sabira.

Walau sudah tidak melaut, Agung tetap mensyukuri jalan rezeki yang didapat. Menurutnya, kepastian penghasilan seperti ini jauh lebih nikmat ketimbang saat menjadi nelayan. Hidupnya kini lebih baik. Tidak heran, masyarakat di Pulau Sabira memilih beralih profesi.

"Ini rumah depan (tetangga), baru lima bulan bekerja jadi petugas sudah bisa renovasi. Dia berani karena ada gaji pasti setiap bulan berapa," canda agung sambil tunjuk rumah yang sedang dibangun.

Meskipun Pulau Sabira sudah mengalami banyak perubahan, tetap menyisakan sekelumit persoalan yang dirasakan warganya. Masrani, seorang nelayan di Sabira mengeluhkan harga ikan yang selalu turun. Meskipun tangkapannya banyak, tapi tak sebanding dengan harga yang didapatnya. Menurut dia, penghasilan sehari bisa mencapai 800 kg, bahkan 1 ton ikan selar.

Kondisi itulah yang kadang disayangkan oleh Masarani dan kawan-kawan nelayan lainnya. Walau kerap mendapatkan cobaan dan kesulitan. Meski demikian Masrani tetap memilih menjadi nelayan dan belum terpikir beralih profesi.

"Saya masih memilih menjadi nelayan, karena syukur Alhamdulillah masih punya lima ABK jadi masih bisa saya melaut," ucap Masrani.

pulau sabira di kepulauan seribu

Laut masih sangat menjanjikan. Namun Masrani tetap berharap pemerintah juga memperhatikan nasib para nelayan di Pulau Sabira. Karena semenjak banyak yang beralih profesi, bantuan dari pemerintah yang semula setahun sekali dari Dinas Perikanan sudah tidak pernah diterimanya lagi.

"Padahal dulu alhamdulillah setahun sekali bantuannya ada tali jaring, GPS itu sering diberikan kepada kita. Tapi sekarang sudah lama tidak ada bantuan buat padahal di Pulau Sebira itu masih ada nelayan," tutup Masrani. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Kepulauan Seribu
  3. Ragam Konten
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini