DPRD DKI sayangkan Marina mundur saat PD Dharma Jaya berutang Rp 80 miliar
Merdeka.com - Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Judistira Hermawan menyayangkan keputusan Marina Ratna Dwi Kusumajati untuk mundur sebagai Dirut PD Dharma Jaya. Sebab saat ini BUMD yang mengurusi bergerak di bidang penampungan pemotongan hewan itu tengah terlilit utang hingga Rp 80 miliar.
Judistira mengatakan, seharusnya permasalahan yang tengah dihadapi PD Dharma Jaya menjadi tantangan bagi Marina, bukan malah meninggalkan BUMD tersebut.
"Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Dirut Dharma jaya untuk kemudian melakukan terobosan-terobosan agar operasional perusahaan dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan bahkan harus lebih baik," katanya kepada merdeka.com, Jumat (16/3).
Mengenai keputusan Marina mundur, anggota Komisi B DPRD DKI ini menganggap jika keputusan tersebut tidak profesional. Karena seharusnya, Marina menyelesaikan utang dari BUMD ini kepada peternak ayam barulah mengambil keputusan untuk keluar.
"Ya harus profesional dan mampu membantu kebijakan-kebijakan Gubernur dan Wagub, kalau tidak mampu ya lebih baik mundur," tegasnya.
Mengenai belum cairnya dana kewajiban pelayanan publik (public service obligation/PSO), Judistira menilai karena tidak adanya penambahan anggaran bagi PD Dharma Jaya. Sehingga, dia menganggap wajar jika ada perubahan pola kerja saat pemimpin baru masuk.
"Ya ini merupakan kebijakan dari Gubernur dan Wagub terpilih saat pembahasan anggaran 2018, tentu kita hormati dan yakini Gubernur memiliki pertimbangan lain dengan tidak memberikan modal tambahan bagi Dharma Jaya," tutupnya.
Sebelumnya, Marina menemui Sandiaga untuk mengajukan surat pengunduran diri sebagai Direktur Utama dari PD Dharma Jaya, salah satunya karena dana kewajiban pelayanan publik (public service obligation/PSO) tidak kunjung dicairkan.
"Bahwa saya datang nangis-nangis ke Pak Sandi, itu tidak lho. Saya datang ke sana mengajukan pengunduran diri. Tolong catat itu. Serius. Saya tidak pernah menangis," tegasnya saat dihubungi, Kamis (15/3).
Alasan lainnya karena dia merasa lelah dengan sistem pemerintahan saat ini. Menurutnya SKPD di masa pemerintahan Anies-Sandi cara kerjanya tak sama dengan SKPD masa Gubernur sebelumnya.
Misalnya kata dia, lambannya proses verifikasi yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI yang memang bertanggung jawab dalam proses pencairan DP PSO dan verifikasi untuk PD Dharma Jaya.
"Kerja sama dengan SKPD tuh beda seperti Gubernur yang lama. Sama saja saya yang menabur garam ke lautan. Kerja dengan tidak ada koordinasi," jelas dia.
Kemudian terkait uang reimburse yang sampai saat ini belum dibayar, padahal kata dia untuk menalangi pembelian daging ayam dirinya harus menggunakan uang kas dari PD Dharma Jaya sendiri. Terlebih sampai saat ini PSO yang mencapai Rp 41 miliar belum dicairkan.
Tercatat dari Desember uang yang belum diremburse Rp 13.246 525.000. Kemudian Januari mencapai Rp 17.022.500.000. Dan Februari Rp 14.206.425.000.
"Saya talangi pakai kas untuk November Desember, tapi Januari, Februari, Maret sudah tidak bisa. Bayangkan masuk akal tidak DP PSO sampai sekarang belum cair, itu kan uang negara, kenapa diperlambat begini," katanya.
Kemudian dia bercerita, saat ini sangat sulit bertemu dengan Sandiaga, padahal tujuan bertemu dengan orang nomor dua di Jakarta untuk mencari solusi bagaimana bisa memenuhi daging di Jakarta untuk warga yang tidak mampu.
Saat ingin menuju ruangnya di depan pintu Marina sempat dihadang oleh ajudan Sandi dan dilarang masuk ke ruangan Wakil Gubernur.
"Selalu kalau mau ketemu pakai tim semuanya. Suatu hari saya sudah hopeless. Karena PSO juga enggak turun terus udah gitu di dalam sendiri dari Badan Pengawas saya ada masalah, kemudian banyak masalah," jelasnya.
"Saya ketemu Pak Sandi, saya langsung duduk bilang 'Pak saya mau resign' saya bilang. "Kenapa?" saya bilang ini Bapak gimana saya mau kerja baik? Karena nggak dibantu, PSO belum turun saya bilang gitu. Terus di dalam Badan Pengawas juga ngaco-ngaco. Saya bilang gitu," sambungnya.
Namun niat dia untuk resign ditahan oleh Sandiaga. Sandi juga berjanji akan membantu Marina terkait pencairan PSO dan uang reimbusment untuk perusahaan yang sedang dia pimpin itu.
"Bu jangan dong, jangan dulu, kalau saya belum bisa bantu satu bulan ibu baru boleh resign", "Oh siap Pak saya siap bantu Bapak siang dan malam saya siap," tutupnya. (mdk/fik)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya