Diambil dari Kitab Arjuna Wijaya dan Sutasoma, Kereta MRT Diberi Nama Ratangga
Merdeka.com - PT MRT Jakarta memberikan nama Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dengan sebutan kereta Ratangga. Nama tersebut diambil dari puisi kitab Arjuna Wijaya serta kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular.
Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar menyatakan Ratangga dalam bahasa jawa kuno berarti kereta perang yang identik dengan kekuatan dan pejuang. Sehingga nantinya diharapkan pengoperasian MRT dapat berjalan dengan lancar.
"Semoga Ratangga akan selalu teguh dan kuat mengangkut para pejuang Jakarta," kata William di depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (10/12).
Penamaan tersebut langsung dinyatakan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. "Penamaan rangkaian kereta MRT secara resmi dinyatakan digunakan. Bismillah," ucap Anies.
Tak hanya itu, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terbuat mengharapkan semua fasilitas publik di Jajarannya nantinya dapat menggunakan penyerapan bahasa daerah.
"Nama yang menyerap dari akar sejarah budaya kita seperti hari ini di MRT, kita memilih menggunakan Ratangga," jelasnya.
Sebelumnya, Moda Raya Terpadu (MRT) direncanakan beroperasi pada Maret 2019. Pengerjaan fase 1 dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI dengan panjang 16 kilometer secara keseluruhan telah mencapai 96,54 persen.
Fase 1 ini nantinya terdapat 13 stasiun yang beroperasi, terdiri dari tujuh stasiun layang MRT yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Enam stasiun bawah tanah lainnya yakni Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas serta Bundaran Hotel Indonesia.
Reporter: Ika DefiantiSumber: Liputan6.com
(mdk/eko)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya