Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bermalam di Gedung Balai Kota DKI Jakarta

Bermalam di Gedung Balai Kota DKI Jakarta Gedung Balai Kota DKI Jakarta. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Merdeka.com - Gedung Balai Kota DKI Jakarta. Begitulah namanya. Menjadi salah satu gedung megah di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Bangunan utama Gedung Balai Kota masih kental dengan peninggalan era kolonial. Sejumlah pilar masih berdiri kokoh. Kompleks pemerintahan dan tempat bekerja gubernur ini kian cantik dengan kolam air mancur tepat di depannya.

Gedung ini menjadi saksi sejarah. Bagaimana sebuah provinsi lahir dan menjadi ibu kota negara.

Di balik kemegahan gedung Balai Kota DKI Jakarta, tersimpan sebuah cerita. Tak banyak orang tahu. Tetapi sudah menjadi cerita lama bagi para penghuninya.

Bagi sebagian pegawainya, gedung Balai Kota bukan cuma tempat bekerja. Beberapa orang juga menjadikan sudut-sudut bangunan di sana sebagai tempat bermalam. Melepas lelah setelah seharian bekerja.

Seperti kisah Andri. Pekerja Harian Lepas (PHL) DKI Jakarta itu memanfaatkan sebuah gudang di Balai Kota DKI Jakarta sebagai tempat tinggal.

Di gudang tersebut terdapat lemari sebagai penyekat. Satu sisi dipakai untuk tidur. Di sisi lain digunakan untuk dapur. Ada juga lemari pendingin serta kompor listrik. Terkadang, ruangan gudang itu juga difungsikan sebagai musala.

Tidur di gudang memang tak senyaman rumah. Tak ada kasur empuk. Serba seadanya. Tetapi Andri tetap menikmatinya.

"Kalau tidur kasurnya memang ada kutu busuknya kan. Tapi ya dipaksain saja buat tidur," kata Andri.

Beberapa PHL lainnya memanfaatkan ruangan bawah gedung Blok G sebagai tempat mereka tidur. Tinggal di gedung itu sebenarnya sebuah keterpaksaan. Sebagai perantau, para PHL tak punya tempat tinggal di Jakarta. Demi menghemat pengeluaran mereka akhirnya menginap di Balai Kota.

Gudang milik Biro Umum DKI Jakarta itu ternyata telah lama menjadi tempat tinggal para perantau yang bekerja di Balai Kota. Kebanyakan dari mereka perantau dari luar Jabodetabek. Aktivitas ini telah berlangsung lebih dari 10 tahun.

Seperti cerita PHL, Achmad. Dia sempat menunjukkan gudang berpintu besi yang sudah cukup lama menjadi tempat tinggal karyawan perantau. Tidak hanya yang lajang saja, banyak juga rekan-rekannya yang sudah berkeluarga memilih tinggal di gudang.

Ruangan setinggi 2 meteran itu cukup untuk melepas lelah bekerja seharian. Di dalamnya ada kotak penyimpanan beralas karpet hijau yang dijadikan alas tidur. Ada sebuah mesin cuci dan lemari bekas. Ini menjadi fasilitas yang digunakan bersama.

"Mesin cuci, kasur bawa sendiri. Belinya patungan," ujarnya.

Pria paruh baya asal Serang, Banten ini sebenarnya tinggal di Bogor. Hanya sesekali dia menginap di Balai Kota. Sementara kawan-kawannya kebanyakan dari luar Jabodetabek. Salah satunya berasal dari Jawa Timur.

Sebagai sejawat PHL, mereka dikontrak selama setahun. Besaran upah sama dengan UMP DKI dan diterima setiap bulan. Mengingat terkadang keluarga ada yang tidak di kampung halaman mereka harus berhemat. Agar bisa bertahan hidup di Ibu Kota. (mdk/gil)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP