Masyarakat Cianjur memiliki pentas komedi kuno bernama Bedor.
Dahulu, pertunjukannya sering digunakan sebagai media hiburan di acara-acara kebudayaan desa maupun kecamatan.
Tak jarang pemilik hajat khitan dan pernikahan juga mengundangnya agar hajatan semakin meriah.
Banyak warga yang menggemari bedor karena menyuguhkan cerita yang lucu.
Tema yang dibawakan juga masih terkait masalah sosial sehari-hari, juga sesuai permintaan dari pihak yang mengundang.
Tak sekadar menampilkan lakon yang mengundang gelak tawa, karena di balik alur cerita yang disajikan terdapat pesan kebaikan serta kritik sosial.
Advertisement
Dipentaskan di Lapangan Terbuka
Mengutip kanal Youtube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX, pementasan Bedor kerap diadakan di tengah lapangan terbuka.
Foto; Youtube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX
Acara dimulai selepas pukul 19:00 WIB hingga menjelang tengah malam.
Untuk memainkan peran dalam cerita, terdapat 4 sampai 5 tokoh yang berdandan ala petani, ibu rumah tangga, warga miskin, sampai pejabat.
Mereka akan saling menampilkan dialog, diiringi alunan musik di tengah-tengah pementasan.
Boleh dibilang, Bedor serupa dengan kesenian Ludruk khas Jawa Timur maupun Ketoprak khas Jawa Tengah. Namun dengan latar setting kondisi terkini dan diiringi instrumen drum serta peralatan gamelang Sunda.
Advertisement
Advertisement
Angkat Kritik Sosial
Kesenian Bedor juga kerap menampilkan isu sosial di atas panggung. Para pemainnya akan memparodikan sosok yang tengah ramai diperbincangkan, dan memperlihatkan sisi negatifnya.
Dari penampilan itu, mereka juga melakukan kritik dan memberikan masukan dari isu yang diangkat, sehingga bernilai baik bagi masyarakat dan para penonton bisa mendapatkan insight berharga.
Kritik sosial dibawakan dengan ringan dan bahasa Sunda yang mudah diterima oleh masyarakat. Agar makin meriah, sesekali lantunan musik tradisional akan dibunyikan, dan para pementas akan melakukan tarian yang lucu.
Advertisement
Asal Usul Nama Bedor
Merujuk jurnal Universitas Indonesia berjudul “Strategi Pemertahanan Pertunjukan Bedor di Masyarakat Cibeber” Bedor ini berasal dari Desa Girimulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Sebenarnya, Bedor sudah dipentaskan rakyat sejak tahun 1800-an, dan dahulu digunakan untuk menyampaikan rasa kecewa terhadap pemerintah kolonial Belanda. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, makan digunakanlah bahasa Sunda.
Ini terkait asal usul nama Bedor yang berasal dari kata Lebe Bodor atau penghulu yang melawak. Penghulu bisa sebagai pemandu pernikahan atau pemandu jalannya suatu acara adat. Kemudian nama Bedor juga berasal dari Sesebred Bari Ngabodor atau Menyindir sembari Melawak.
Advertisement
Hampir Punah
Sayangnya pertunjukan Bedor sudah jarang diselenggarakan. Ini termasuk sepinya minat pemuda untuk meramaikan tradisi tersebut.
Walau begitu, masih ada segelintir kelompok yang peduli terhadap Bedor dan memainkannya meski tidak seramai dan seantusias zaman dahulu.
Mengutip laman Napak Jagat Pasundan, saat ini masih ada satu-satunya komunitas Bedor yang peduli untuk merawatnya agar tidak punah yakni Grup Mekar Hareupan pimpinan Bapak Oman.
Grup ini masih beberapa kali melakukan pementasan di acara-acara hajatan, maupun kebudayaan dengan membawa tradisi Bedor khas zaman dulu.
Advertisement