Uniknya Ketan Unti, Kue Kematian Peninggalan Bangsa Portugis di Jakarta

Menurut tradisi warga Kampung Tugu, hidangan ini harus disajikan saat mendoakan jenazah yang belum dikubur.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Uniknya Ketan Unti, Kue Kematian Peninggalan Bangsa Portugis di Jakarta
Uniknya Ketan Unti, Kue Kematian Peninggalan Bangsa Portugis di Jakarta (Merdeka.com)

Kehadiran Kampung Tugu di wilayah Cilincing, Kota Jakarta Utara meninggalkan banyak kisah sejarah. Salah satu yang mungkin belum banyak diketahui adalah ragam kuliner uniknya, termasuk ketan unti.

Ketan uti merupakan jenis kudapan ringan khas warga keturunan Portugis di Kampung Tugu.

Berdasarkan sejarahnya, wilayah ini memang sudah disiapkan Belanda sebagai permukiman para pekerja yang didatangkan Belanda untuk membantu peningkatan ekonomi di masa silam.

Karena mereka tinggal di satu permukiman, maka kebudayaan hingga kulinernya juga dilestarikan oleh para keturunan Portugis tersebut sejak 1661 silam. Dari sana, ketan uti pun lahir menghiasi khazanah kuliner lawas Jakarta.

Yang menarik, warga sekitar mengenal ketan uti sebagai “kue kematian” yang biasa disantap di momen tertentu. Bagaimana kisahnya, sehingga bisa dikenal sebagai kue kematian? Simak informasinya berikut.

Apa Itu Ketan Unti?

Apa Itu Ketan Unti?
Dok. Istimewa

Ketan unti merupakan kue dari beras ketan yang diproses dengan cara dikukus hingga matang, lalu dibentuk kecil dan diberi wadah plastik atau daun pisang.

Foto: Kenzo Foresta Channel

Nasi ketan kemudian ditambahkan adonan yang terbuat dari kelapa parut dan diberi cairan gula merah yang kental. Kelapa bercampur gula merah ini ditempatkan di atas ketan tersebut dan bisa langsung dicicip.

Mengutip keudayaan.kemdikbud.go.id, ketan unti sudah berakulturasi dengan masyarakat sekitar, sehingga kue ini juga kerap hadir dalam acara-acara kebudayaan masyarakat Betawi. Namun bagi warga Kampung Tugu, ketan unti masih memiliki nilai khusus yang tidak bisa digantikan.

Bercita Rasa Manis dan Legit

Menurut seorang warga berdarah Portugis yang masih mahir membuat ketan unti, Eugeniana Quiko, makanan ini memiliki rasa yang kenyal, manis dan gurih.

Tekstur kenyal berasal dari ketan yang matang sempurna, dan gurih datang dari parutan kelapa, dengan tambahan manis legit dari gula merah.

Makanan ini, sangat cocok disantap sembari menyeruput kopi dan teh pahit, di waktu senggang.

Dikenal sebagai Kue Kematian

Dikenal sebagai Kue Kematian
Dok. Istimewa

Bagi masyarakat Tugu, ketan unti biasanya dikenal sebagai kue kematian. Ini karena, kue tersebut hanya disajikan saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia.

Sangat penting bagi warga Kampung Tugu dalam mendoakan orang yang sudah meninggal sebelum dimasukkan ke dalam kubur. Menurut tradisi warga Kampung Tugu, hidangan ini harus disajikan saat mendoakan jenazah yang belum dikubur.

Ajaran ini berasal dari leluhur Portugis yang sudah lama dianut oleh umat Kristiani di sana. Saat ada yang meninggal, ketan unti selalu disertakan sebagai bagian dari prosesi sebelum pemakaman.

Kudapan Lain khas Kampung Tugu

Selain ketan unti, terdapat kue tradisional lain khas Kampung Tugu, seperti pisang udang, pisang serani, apem kinca, dan eeg tart.

Pisang Udang mirip dengan kue Nagasari, namun tanpa isi pisang karena biasanya berisi irisan pepaya, udang, bawang goreng dan gula merah. Istilah pisang berasal dari pembungkusnya yakni daun pisang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kudapan pisang udang khas Kampung Tugu/Kemdikbud

Untuk kue apem khas Kampung Tugu juga berbeda dari kebanyakan, karena berukuran lebih besar. Bahannya juga memakai tambahan nasi untuk menjaga warna putih saat bercampur ragi. Apem ini biasanya dinikmati dengan kuah santan-gula merah atau yang biasa disebut kinca.

Terakhir adalah eeg tart yang memiliki bentuk mirip pastry. Ukurannya serupa kue mangkuk dengan isian telur dan kayu manis. Bahan pembuatannya adalah susu, gula, telur, tepung maizena, dan jeruk lemon.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Tambahan jeruk lemon menambah sensasi kesegaran sehingga makin nikmat disantap.

Foto: eeg tart/Wikipedia

Rekomendasi