Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan pesan duka atas kepergian Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat saat bertakziah di Kompleks Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, siang tadi (22/7).
Menurut gubernur yang akrab disapa Kang Emil tersebut, sosok sultan merupakan pribadi yang bersahaja sehingga dirinya selalu menjadikan almarhum sebagai panutan dalam memimpin serta meminta nasihat tentang Jawa Barat, khususnya Cirebon.
Kang Emil selalu mengenang saat kunjungan bersama sultan dan sesi diskusi tentang kenegaraan serta kebangsaan yang menurutnya relevan di masa sekarang.
“Saya sangat kehilangan beliau, sering menjadi penasihat informal gubernur se-Jawa Barat. Jadi setiap gubernur yang bertugas selalu ada sesi diskusi kenegaraan, kebangsaan, tentang Jawa Barat dan tentang Cirebon,” katanya di Keraton Kasepuhan via Liputan6.
Advertisement
Satu hal yang selalu diingat oleh Emil adalah sosoknya yang selalu legowo (ikhlas) dalam memimpin, namun tetap tegas tentang kebijakan yang baik dan sesuai dengan syariat Islam dalam proses kepemimpinan yang tidak kekal.
"Dari beliau saya belajar tentang keikhlasan. Beliau menasihati saya (seperti) adiknya, supaya selalu ingat syariat dalam memimpin masyarakat. Beliau menasihati juga agar selalu menjadi pimpinan dan individu yang bermanfaat," ujar Emil.
Advertisement
Ia juga mengenang masa-masa saat sultan mewakili Jawa Barat saat menjadi anggota DPD/DPR. Menurutnya saat memimpin, almarhum selalu berupaya memberikan opsi yang menarik demi kemajuan rakyat Jawa Barat agar bisa bersaing di masa sekarang.
"Almarhum adalah individu yang teladan. Selain menjadi pemimpin kepada masyarakatnya, beliau pernah mewakili Jawa Barat di DPR, di DPD, untuk menyuarakan kemajuan rakyat Cirebon, rakyat Jawa Barat, agar bisa maju seperti yang kita saksikan hari ini," tutur Emil.
Advertisement
Selain itu, Emil juga mengenang saat-saat dirinya dititipkan pesan agar bisa selalu menjadi pemimpin yang berguna bagi masyarakat, khususnya di Jawa Barat. Ia merasa seperti seorang adik yang dinasehati oleh seorang kakak yang bijak dan luhur.
"Dari beliau saya belajar tentang keikhlasan. Beliau menasihati saya (seperti) adiknya, supaya selalu ingat syariat dalam memimpin masyarakat. Beliau menasihati juga agar selalu menjadi pimpinan dan individu yang bermanfaat," ujar Emil.
Advertisement
Hingga saat kepergiannya yang begitu cepat, ia masih mengingat saat saat berkegiatan bersama almarhum. Ketika itu dirinya masih menjadi Wali Kota Bandung dan mengikuti kegiatan parade keraton nusantara.
Dirinya dititipkan sebuah kenang kenangan lencana yang hingga kini ia jadikan inspirasi terkait sifat bijaksana dari sosok sultan.
"Di Jalan Asia Afrika Bandung dan saya dapat kenang-kenangan semacam lencana. Memori terbaik sosok Sultan Arief sopan, santun berbahasa halus, dan selalu menasihati yang sifatnya filosofis," ujar Emil.
Advertisement
Emil mengaku terakhir berkomunikasi dengan almarhum sekitar satu bulan lalu. Mereka berdua membicarakan tentang dukungan Pemprov Jabar untuk operasional keraton. Dalam kesempatan itu ia juga berpesan kepada keluarga yang ditinggalkan agar diberi kesabaran.
“Sampai saya sekarang jadi Gubernur Jawa Barat dan saat ini secara simbolis saya melepas jenazah ke peristirahatan terakhir, Mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran,” pungkasnya