Pernah Jadi Lokasi Penjara Koes Plus, Ini Kisah Masa Lalu Glodok Plaza di Jakarta

Selasa, 5 Oktober 2021 12:40 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Pernah Jadi Lokasi Penjara Koes Plus, Ini Kisah Masa Lalu Glodok Plaza di Jakarta Koes Plus. ©2021 kapanlagi.com/editorial Merdeka.com

Merdeka.com - Sebagai bekas rumah tahanan, bangunan Plaza Glodok di Taman Sari, Jakarta Barat pernah menjadi saksi kelam kekejaman represi VOC terhadap etnis Tionghoa di dekade 1700 an.

Saat itu tindakan bangsa Eropa yang sewenang-wenang membuat para warga di sana melawan. Saking kacaunya, pemberontakan tersebut memakan korban sebanyak 5.000 sampai 10.000 nyawa yang tidak mau kehormatannya diinjak-injak penjajah.

“Pemberontakan yang dilakukan oleh masyarakat Cina ini memang dapat ditumpas VOC, tapi harus dibayar mahal. Konon, kala itu mayat-mayat bergelimpangan di Glodok” Kata mantan Sejarawan dan arsiparis Arsip Nasional Indonesia, almarhum Dr. Mona Lohanda, mengutip jakgo-dev.smartcity.jakarta.go.id, Selasa (5/10)

Dalam perjalanannya, penjara Glodok juga pernah menjadi tempat hukuman bagi sejumlah pejabat hingga kelas menengah seperti Bung Hatta dan kelompok musik Koes Plus (saat itu masih bernama Koes Bersaudara). Berikut informasi selengkapnya

2 dari 5 halaman

Pernah Jadi Ruang Tahanan Titipan dari Luar Jawa

plaza glodok
Plaza Glodok

©2021 Youtube Sieni Cahyani Budiman/editorial Merdeka.com

Dikutip dari laman goodnewsfromindonesia, penjara yang dibangun tahun 1743 itu mulanya hanya digunakan untuk menahan warga Tionghoa yang memberontak saja. 

Lambat laun, banyaknya pemberontakan di berbagai daerah, termasuk luar Jawa, membuat para tahanan dari pulau lain turut ditampung di penjara yang dahulu bernama Strafinrichting Glodok ini. 

Para tahanan diketahui menjalani sejumlah hukuman. Mulai dari penahanan ringan, hingga penyiksaan oleh tentara Belanda karena dianggap tak patuh.

3 dari 5 halaman

Jadi Sumber Kematian

Dikarenakan fungsinya sebagai penampungan pelaku kejahatan hingga maling kelas bawah, penjara Strafinrichting Glodok dianggap sebagai ‘sumber’ kematian karena kondisinya yang tidak layak.

Kondisi tahanan yang berdesakan di ruangan kumuh menjadikan penjara tersebut sebagai pusat penularan berbagai penyakit, seperti disentri. Bahkan untuk kebutuhan makan tahanan saja, petugas penjara tidak menyediakannya dengan baik hingga menyebabkan banyak kematian karena kelaparan.

Selain itu kakus yang berada di dalam ruangan dengan posisi sumur air yang berada di luar bangunan sel, makin memperparah sanitasi di sana. Belum lagi rentetan senjata yang kerap terdengar dari halaman belakang, menjadi tanda kematian dari tahanan yang dieksekusi mati tentara penjajah.

“Di belakang dekat sel itu, ada tempat menembak (mengeksekusi) orang. Kalau ada orang dihukum mati, dari sel itu terdengar rentetan suasa senjatanya, mengerikan. Pokoknya amat menyeramkan,” cerita Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Urip Santoso yang ditahan di sana tahun 1947, dalam sebuah tulisan.

4 dari 5 halaman

Jadi Ruang Tahanan Bung Hatta hingga Koes Plus

Masih di tahun 1940an, Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama yakni Mohammad Hatta disebut pernah ditahan di Penjara Glodok.

Saat itu tokoh pergerakan tersebut dipenjara selama 10 bulan oleh Belanda. Inilah yang menjadi awal kehidupannya di penjara, sebelum diasingkan ke Boven Digul, hingga dipindahkan ke Pulau Banda Neira.

Di dekade 1960an, penjara Glodok masih dipakai sebagai tempat menahan orang-orang yang dianggap tidak nasionalis, dan berorientasi Barat. Namun kala itu, fungsinya menjadi Lembaga Pemasyarakatan Khusus (LPK)

Melansir laman Kapanlagi.com, personel kelompok musik Koes Plus yang saat itu masih bernama Koes Bersaudara turut mengalami hal ini.

Saat itu disebutkan Yon Koeswoyo, sang vokalis dipanggil oleh rezim Soekarno tahun 1965 dan dipenjarakan di LPK Glodok karena dianggap memainkan musik Barat (The Beatles). Pentolan Koes Bersaudara itu dipenjara selama tiga bulan bersama personil lainnya yakni Tony, Nomo, dan Yok.

5 dari 5 halaman

Jadi Pusat Elektronik

Di masa sekarang, kisah kelam dari Penjara Glodok tampaknya sudah hilang. Sejak tahun 1977, LPK Glodok beralih fungsi menjadi kawasan pertokoan dengan ikon utamanya Plaza Glodok.

Saat itu penjara tersebut dianggap sudah tidak layak, sehingga dijual kepada investor senilai Rp560 juta. Sekitar lima ratusan tahanan pun dipindahbinakan di Lapas Cipinang. Tahun 1980 sampai 1990an, Plaza Glodok menjadi salah satu pusat perbelanjaan terkemuka di bidang elektronik hingga perkakas rumah tangga.

Bukan tanpa alasan lokasi tersebut fenomenal. Letaknya yang strategis, dan lengkapnya barang berharga murah menjadi incaran para pengunjung dari berbagai daerah.  Kini, kawasan pertokoan di Glodok masih terus bergeliat dengan menjual berbagai jenis makanan, kebutuhan elektronik, hingga perlengkapan kesehatan.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini