Mengunjungi Kampung Pandai Besi di Cisolok Sukabumi, Pompa Apinya Masih Pakai Tenaga Manusia

Sebanyak enam belas gubug produksi pandai besi menjadi pemandangan unik di kampung tersebut.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Mengunjungi Kampung Pandai Besi di Cisolok Sukabumi, Pompa Apinya Masih Pakai Tenaga Manusia
Mengunjungi Kampung Pandai Besi di Cisolok Sukabumi, Pompa Apinya Masih Pakai Tenaga Manusia (Merdeka.com)

Suara "Tiiinggg…tiiinggg…tiiinggg..." terdengar cukup nyaring di sudut Kampung Cikuluwung, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Terlihat ayah dan anak tengah berbagi tugas untuk memompa api dan memipihkan besi panas menjadi sebuah golok. Kawasan ini memang kesohor sebagai sentra pandai besi di selatan Jawa Barat.

Hari itu hujan cukup deras. Banyak di antara gubug para pekerja yang tidak beroperasi dan hanya ada satu sampai dua saja yang jalan. Sang anak terbiasa memegang kendali memompa api dan sang ayah menempa besi berkali-kali.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Besi itu tampak menyala saat dihantam palu godam baja. Api memercik ke segala penjuru gubug yang saat itu melindungi keduanya dari air hujan. Aktivitas demikian terekam apik di kanal Youtube Petualangan Alam Desaku yang dilansir Merdeka.com, Senin (25/3).

Dilakukan Secara Tradisional
Dok. Istimewa

Dalam tayangan tersebut, tampak seorang pria yang sumringah didatangi kreator video. Dia dengan penuh semangat memukul-mukul besi yang menyala panas di atas alas paron baja yang kokoh.

Tangan kirinya mencengkram dengan kuat tang pencapit besi, dan tangan kirinya memukul sekuat tenaga palu godam baja.
Katanya, usaha padai besi di kampung tersebut sudah berjalan selama puluhan tahun.

“Kalau usaha pandai besi ini dari zaman nenek moyang dulu,” terang perajin.

Menurutnya, terdapat 16 perajin pandai besi yang masih aktif. Namun harinya beda-beda, tergantung ada atau tidaknya pesanan. Mereka rata-rata juga dibantu oleh sanak keluarga mereka, seperti istri dan anak.

Dirinya selama ini selalu dibantu oleh sang anak yang memegang kendali di pompa api. Tangannya bergantian mengayun kayu di sisi kiri dan kanan. Saat kayu dinaik-turunkan, api di bagian bawah menyala cukup besar dan mampu membakar besi hingga membara.

Sebanyak 16 gubug ini memang tampak tidak biasa. Uniknya, para perajin masih mempertahankan gaya bangunan peninggalan generasi awal pembuatnya.

“Saya kurang tahu kenapa atapnya memakai bambu dan daun, karena dari dulunya memang sudah seperti ini,” kata perajin yang memakai topi itu.

Harga Golok yang Dijual
Dok. Istimewa

Perajin ramah itu mengatakan bahwa golok yang dijual oleh warga di Cikuluwung itu berbeda, antara pengecer dan tengkulak.

Untuk harga eceran, satu buah parang biasanya dijual seharga Rp40 ribu dengan motif khas perajin setempat.

Namun untuk pengepul harganya cenderung lebih murah, karena biasanya mereka membeli dalam skala besar atau borongan.

“Kalau eceran biasanya Rp40 ribu sih, kalau pengepul beda lagi,” terangnya. 

Walau berhadapan dengan percikan api dan panasnya suhu di ruangan, namun mereka tampak terbiasa dan tidak mengeluh.

Pembeli menjadi penyemangat mereka untuk tetap mempertahankan warisan turun temurun nenek moyang.

Selain memiliki daya tarik pandai besinya yang legendaris. Kawasan tersebut juga menyimpan panorama alam yang mengagumkan. Secara topografis, Kampung Cikuluwung berada di dataran tinggi dengan sekelilingnya merupakan bukit dan area persawahan.

Wilayahnya juga masih asri dan belum banyak tersentuh pembangunan. Warga di sini rata-rata mempertahankan pola pembangunan rumah dengan gaya lawas, yakni berbentuk panggung dan berdinding gedek bambu.

Saat hujan, terlihat kabut memenuhi permukiman warga di lereng bukit. Suasananya syahdu dan bikin nyaman.

“Kalau di atas rumah-rumah warga itu leuit ya, atau lumbung padi,” kata Kang Jerry, yang merupakan kreator di kanal Petualangan Alam Desaku.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kampung Cikuluwung, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Sukabumi masih menjaga tradisi nenek moyang mereka.

Rekomendasi