Mengenang Peristiwa 26 Agustus 1883, Meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda

Kamis, 26 Agustus 2021 05:05 Reporter : Novi Fuji Astuti
Mengenang Peristiwa 26 Agustus 1883, Meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda Gunung Krakatau. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Berada dalam ring of fire antara lempeng Asia dan Indo-Asia juga Pasifik menciptakan negeri Indonesia kaya akan gunung berapi dan juga gempa tektonik. Sebagian besar gunung berapi yang ada di Indonesia adalah gunung berapi yang memiliki letusan yang besar dan eksplosif. Maka dari itu, pada radius 10 hingga 20 kilometer dari gunung berapi menjadi kawasan yang sangat berbahaya dan patut dihindari bagi pemukiman penduduk.

Ada sekitar 129 gunung berapi yang masih aktif di Indonesia atau sekitar 13 persen dari jumlah seluruh gunung berapi di dunia. Gunung api ini berdiri sepanjang 7000 kilometer dari Aceh hingga ke Sulawesi Utara, melewati Bukit Barisan, Kepulauan Jawa, Nusa Tenggara dan Maluku. Pulau Jawa sendiri memiliki 35 gunung berapi atau 25 persen dari seluruh gunung berapi di Indonesia.

Tak heran jika Jawa memiliki beberapa pengalaman bencana letusan gunung berapi yang besar salah satunya adalah peristiwa meletusnya Krakatau pada 26 Agustus 1883. Berikut ini informasi lengkap mengenai peristiwa 26 Agustus 1883, meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda telah dirangkum merdeka.com melalui liputan6.com dan eprints.undip.ac.id.

2 dari 3 halaman

Menjadi Letusan Maha Dahsyat Sepanjang Sejarah

Dalam sejarah vulkanologi di Indonesia, diperkirakan sekitar 175.000 manusia tewas akibat bencana letusan gunung berapi sejak 400 tahun yang lalu. Di mana pada periode yang sama, jumlah korban tewas akibat letusan gunung berapi di dunia mencapai 300.000 orang, itu artinya setengahnya adalah dari Indonesia.

Letusan gunung Krakatau pada 1883 menjadi salah satu letusan gunung berapi yang sangat dahsyat dan berbahaya dalam sejarah bencana di Indonesia. Letusannya yang hebat telah meruntuhkan sebagian besar tubuh gunung berapi bersama Pulau Rakata ke dalam laut. Hanya kalderannya saja yang muncul di atas permukaan laut dan fenomena ini hanya terjadi pada Krakatau dan Tambora dalam sejarah gunung berapi di abad ke-19.

Saat meletus pada 26 dan 27 Agustus 1883, Krakatau mengeluarkan jutaan ton batu, debu dan magma, materialnya menutupi wilayah seluas 827.000 km. Pada hari kedua, letusan Krakatau diikuti oleh gelombang besar tsunami yang membawa material vulkanik berupa magma dan batu panas menghantam pesisir Lampung dan Banten.

Empat ledakan jahat yang terjadi membikin tuli orang-orang yang berada dekat dengan Gunung Krakatau. Bahkan, gelagarnya terdengar hingga Perth, Australia yang jaraknya 4.500 kilometer.

3 dari 3 halaman

Memunculkan Gunung Api yang Dikenal Anak Krakatau

Dikutip dari situs sains LiveScience, muncul dinding air setinggi 120 kaki atau 36,5 meter, yang dipicu melesaknya Krakatau dan naiknya dasar laut. Di wilayah pesisir, suara gelegar terdengar dari kejauhan, suaranya kian dekat dan kuat.

Laut pun kemudian menggila. Di mana ledakan tersebut melemparkan sekitar 45 kilometer kubik material vulkanik ke atmosfer.

Menggelapkan langit yang menaungi wilayah yang berada di radius 442 km dari Krakatau. Barograf di seluruh dunia mendokumentasikan tujuh kali gelombang kejut.

Digambarkan, dalam 13 hari, lapisan sulfur dioksida dan gas lainnya mulai menyaring jumlah sinar matahari yang bisa mencapai Bumi. Efek atmosfer yang diakibatkan membuat pemandangan matahari terbenam yang spektakuler di seluruh Eropa dan Amerika Serikat.

Suhu global rata-rata mencapai 1,2 derajat lebih dingin selama lima tahun setelahnya. Pasca erupsi dahsyat Krakatau hancur sama sekali. Mulai pada 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelahnya, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Dia terus meletus secara sporadis sejak saat itu. Ia sedang bertumbuh, terus mendekati ukuran induknya yang hancur berkeping.

[nof]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini