Mengenal Sakola Motekar, Sekolah Non Formal ala Warga Kampung Cibunar Ciamis
Merdeka.com - Bagi masyarakat desa, musyawarah atau diskusi merupakan sebuah jalan tengah yang selalu menjadi andalan ketika sedang dihadapkan terhadap suatu masalah yang melanda. Namun, siapa sangka, ajang diskui antar warga tersebut terus berkembang hingga menjadi sebuah wadah yang mengedukasi antar sesama.
Setidaknya, hal tersebutlah yang terjadi di Kampung Cibunar, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Jawa Bara. Para masyarakat yang didominasi anak muda mencoba membangun forum rutin non formal bernama Sakola Motekar (Modal Tekad Kadaek Rampak).
Berawal Dari Minimnya Aksi Setelah Diskusi

sekolahwarga.com ©2020 Merdeka.com
Dilansir dari baledesa.com, wadah yang juga termasuk sekolah non formal tersebut berupaya memfasilitasi tindakan yang telah disepakati bersama setelah berlangsungnya diskusi.
Deni WJ, salah seorang pemantik dari Sakola Motekar menjelaskan jika awal mula berdirinya sekolah tersebut dari keresahan warga ketika tidak menemukan solusi saat berdikusi.
“Ini bukan sekolahan atribut. Sakola Motekar cuma nama dari ruang gerak kepedulian. Sedikit-sedikit mencoba mengimplementasikan dari hasil obrolan,” kata Deni.
Ruang Komunikasi Desa
Menurutnya, Sakola Motekar juga biasa dipergunakan sebagai “media kreatif” untuk menyampaikan aspirasi hingga menyampaikan suatu keresahan warga. Ia pun tergerak agar warga setempat bisa kompak dan bersama melalui medium berkumpul atau ngariung.
“Intinya Ngariung berbagi gagasan, ide, kekecewaan dan curahan hati, ini yang hampir hilang di lingkungan kita, di desa kita,” paparnya.
Mengembangkan Prinsip Ketahanan Pangan Warga

sekolahwarga.com ©2020 Merdeka.com
Salah satu keunggulan prinsip ngariung tersebut menurut Deni adalah pengembangan kemandirian dari para masyarakatnya.
Ia menjelaskan, Sakola Motekar berupaya membentuk karakter warga yang tangguh dan mandiri sehingga bisa membantu perekonomian melalui ketahanan pangan.
Salah satu hasil yang telah berhasil adalah menggerakkan para ibu untuk menanam dan memanen komoditas bumbu dapur.
“Hasilnya, orang sini untuk kebutuhan bumbu dapur tidak semua beli ke warung,” jelasnya.
Menyibukan Anak-Anak Bermain Kaulinan Sunda

sekolahwarga.com ©2020 Merdeka.com
Lanjut Deni, sekolah non formal tersebut juga memperkuat identitas anak-anak dengan kebudayaan serta permainan tradisional sunda yang pernah dimainkan oleh para orangtuanya.
Sekolah tersebut berupaya melatih kreativitas anak-anak dengan melatih motorik melalui permainan tradisional dan kelas pepelakan (bercocok tanam) yang melatih kerja sama tim serta ketangkasan dari para pemainnya.
“Yang cenderung ke musik, kita adakan kelas musik, kita cari instrukturnya yang mau bersedakah ilmu. Yang cenderung pada pertanian, kita cari intsrukturnya, bahasa asing, menggambar, menulis, semuanya kita fasilitasi,“ pungkasnya.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya