Orang tua Sunda zaman dahulu sudah mengenal istilah stunting. Bahkan cara ini sudah dipakai sejak abad ke-16.
Stunting menjadi perhatian setiap orang tua karena menghambat pertumbuhan anak. Mereka yang terkena stunting akan memiliki postur di bawah rata-rata. Menariknya masalah ini mampu dideteksi dengan baik oleh orang Sunda sejak anak dalam kandungan. Lantas bagaimana penanganan dan perawatannya? Simak ulasan berikut.
Advertisement
Menurut Ahli sejarah dan filologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, dikutip dari ANTARA, orang tua Sunda memang telah mengenal istilah gagal tumbuh pada anak atau dalam bahasa sekarang dikenal sebagai stunting. Menurut penuturannya, pola-pola perawatan anak agar bisa tumbuh dengan baik dan sehat tertuang di dalam naskah berjudul “Sanghyang Titisjati Pralina”. Beberapa narasi menyampaikan bagaimana anak tersebut bisa lahir dengan sehat dan sempurna. "Salah satunya agar kondisi di mana tinggi badan seorang anak tidak pendek dibanding tinggi badan orang lain seusianya, dalam arti agar anak tidak gagal tumbuh kembang," kata dia.
Advertisement
Elis mengatakan bahwa cara perawatan dan penangan stunting telah banyak tertuang di literatur buhun orang Sunda. Beberapa naskah di antaranya Bihari (kuno), Kamari (masa peralihan/klasik) dan Kiwari (masa kini). Di antara naskah-naskah tersebut dijelaskan secara detail tata cara perawatan anak sejak dalam kandungan. Terdapat juga beberapa adat pengiring agar ibu dan bayi sehat dan selamat. Kemudian, tertulis juga jenis-jenis tanaman obat yang bisa digunakan, dan bagaimana pemanfaatannya saat bayi dalam keadaan sakit.
Advertisement
Untuk menangani dampak atau mencegah stunting itu sendiri, orang Sunda kuna memakai jasa paraji atau ahli pengobatan tradisional khusus ibu dan anak. Di sana paraji akan melakukan sejumlah upaya mulai dari melakukan perawatan bayi sejak dalam kandungan, menjaga kondisi ibu hamil, dan memanfaatkan serta mengolah tanaman obat yang bermanfaat. Paraji biasanya dipercaya oleh masyarakat kepada perempuan. Dia memiliki fungsi untuk membantu perawatan ibu dan bayi. Paraji juga menaruh perhatian penuh kepada anak-anak.
Advertisement
Di dalam naskah naskah “Sanghyang Titisjati Pralina” terdapat beberapa judul untuk mencegah stunting seperti: Jampe Keur Kakandungan, Jampé Tujuh Bulan, Ngajampé nu Kakandungan, Jampé ngalahirkeun, Jampé Orok Medal. Saat bayi lahir: Jampé Motong Tali Ari-Ari, Jampé Ngaranan Orok, Jampé Kandungan nu Elat Lahir, Jampé Tampek, Jampé Lamun Orok Ceurik baé, Jampé Lamun Orok Harééng, Jampé Meuseul Orok, dan Jampé Nyeri Beuteung. Dalam judul-judul itu merangkum cara penanganan stunting mulai dari bayi belum lahir, sampai cara perawatannya ketika lahir.
Advertisement
Elis menuturkan bahwa informasi praktik perawatan bayi dan ibu yang tertuang di dalam naskah Sunda kuna bisa menjadi referensi untuk mewujudkan generasi yang sehat. "Ini setidaknya dapat menjadi referensi literasi untuk generasi muda di zaman teknologi canggih saat ini, yang akan berperan menjadi ibu, sebagai garda terdepan dalam pendidikan informal, dalam upaya mengurus, membimbing, mendidik, mengasuh anak, agar sehat dan kuat," katanya.