Eksis Sejak 1926, Begini Evolusi Dodol Garut dari Kudapan Lokal jadi Oleh-oleh Khas
Merdeka.com - Kabupaten Garut, Jawa Barat selama ini identik dengan kudapan dodol yang khas. Bercita rasanya manis dan legit, penganan ini selalu jadi buruan oleh pendatang yang berlibur di sana. Dodol sendiri diketahui sudah eksis sejak tahun 1926.
Mulanya, dodol Garut hanyalah hidangan tradisional dengan bahan baku yang sederhana. Makanan ini awalnya hanya terbuat dari beberapa komposisi saja seperti beras ketan, gula dan susu. Tak ada kemasan karton mewah, maupun plastik yang eye catching.
Perlahan kepopuleran dodol semakin meningkat, terlebih setelah dipacking secara modern sehingga menarik minat pembeli. Rasanya pun telah dibuat beragam, mulai dari original, coklat sampai rasa buah.
Dodol Garut kemudian berevolusi menjadi oleh-oleh yang mampu naik kelas dan sayang untuk dilewatkan. Berikut kisah selengkapnya.
Awal Terciptanya Dodol

Dodol Garut Picnic ©2022 Liputan6/ Merdeka.com
Tidak ada yang tahu persis kapan jajanan manis itu pertama dibuat. Namun situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyebut bahwa penganan ini sudah eksis sejak tahun 1926.
Mulanya dodol merupakan jajanan sederhana yang dibuat oleh Ibu Karsinah, yang disebut sebagai pembuat generasi awal. Proses pembuatannya sendiri dilakukan hanya dengan alat seadanya di dapur, dan berkomposisi sejumlah bahan seperti tepung beras ketan, gula putih, susu dan santan kelapa.
Dodol Bu Karsinah disebut memiliki rasa yang manis dan gurih, sehingga disukai banyak orang. Bahkan walau dibuat tanpa bahan pengawet, produknya bisa tahan hingga tiga bulan lamanya, terutama jika disimpan secara rapat.
Proses pembuatannya sendiri sangat mudah, yakni dengan mencampurkan keseluruhan bahan untuk dipanaskan di wajah. Kemudian pemasakan akan berlangsung selama 7 hingga 8 jam, sembari terus diaduk agar menghasilkan dodol yang kenyal, tidak keras dan tidak lengket.
Ditambahkan Sejumlah Rasa
Dua dekade kemudian, tepatnya di tahun 1946, sejumlah produsen dodol mulai bermunculan dengan brand nama pemiliknya. Ditulis di Liputan6, produk dodol Garut yang kesohor di masa itu adalah dodol Khadijah, Jamilah, Halimah, hingga Fatimah.
Kemudian, produsen-produsen itu mulai menyebarkan produknya ke berbagai tempat hingga mendapatkan pasarnya tersendiri. Untuk memenuhi permintaan konsumen, sekaligus menekan tingkat persaingan, sejumlah produsen mulai berinovasi dengan menambahkan beberapa rasa seperti waluh, kentang, kacang, pepaya, nenas, sirsak, srikaya, durian, wijen.
Dari semua varian rasa dodol itu, hanya dodol original yang terus mengalami peningkatan dalam penjualannya. Bahkan produk-produk itu juga mulai merambah pasar internasional, tak jauh dari masa itu seperti Singapura, Malaysia hingga Brunei Darussalam.
Menurut angka penjualan dodol yang terbit di masa itu, rata-rata penjualannya bisa mencapai 4.378 ton per tahun.
Mulai Naik Kelas
Beberapa waktu kemudian, dodol Garut mulai dikemas secara modern seiring tingginya permintaan dan penjualan oleh para wisatawan. Dodol itu dikemas menggunakan packing yang berwarna, sehingga enak dilihat dan mudah dibawa ke manapun.
Salah satu merek dagang dodol Garut yang berhasil merebut hati penggemarnya adalah “Picnic” milik sebuah perusahaan makanan dan perdagangan umum PT Herlinah Cipta Pratama.
Ketika itu Picnic berhasil menjual produknya bahkan sampai ke Kota Bandung, lantaran keberanian dari pemiliknya yang menawarkan ke toko-toko makanan yang dekat dengan kota Garut.
Selain itu, Picnic juga membuat kemasan dodol yang mudah dibawa ke manapun, dengan mengemasnya sebesar bungkus permen. Kemasannya pun makin beragam, dengan mengedepankan tampilan visual yang keren dan kekinian.
Menariknya, produk dodol juga pernah menjadi kudapan di maskapai penerbangan Garuda, di dekade 1970an. Kini produk dodol Picnic dikelola oleh Ato Hermanto, generasi ke dua pemilik perusahaan itu.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya