Operasi Bisa dari Jauh, Dokter RS Hasan Sadikin Sebut Bedah Robotik Dimulai 2025

Jumat, 1 Juli 2022 08:15 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Operasi Bisa dari Jauh, Dokter RS Hasan Sadikin Sebut Bedah Robotik Dimulai 2025 Ilustrasi operasi. ©Shutterstock.com/Naypong

Merdeka.com - Perkembangan teknologi di bidang kedokteran kini kian canggih. Salah satu kemajuan di bidang kesehatan itu adalah tindakan operasi bedah kepada pasien, dengan menggunakan bantuan alat robotik.

Dokter ahli bedah robotik RSUP Dr. Hasan Sadikin Kota Bandung, Reno Rudiman memperkirakan layanan operasi berteknologi canggih di rumah sakit Indonesia itu paling lambat bisa dimulai pada tahun 2025.

"Platformnya sudah disiapkan. Praktik nyata pembedahan jarak jauhnya belum, karena baru pada 2024 - 2025 ditargetkan bergulir," kata Reno Rudiman di Jakarta, Kamis (30/6), dilansir dari ANTARA

2 dari 4 halaman

Bisa Dikendalikan dari Jarak Jauh

006 siti rutmawati

Ilustrasi

©www.gcmradiology.com

Terkait cara pembedahan melalui bantuan alat robotik atau robotic surgery tersebut, dokter bedah bisa mengendalikan operasi dari jarak jauh. Nantinya mesin akan dikendalikan menggunakan console di tangan dokter bedah, maupun remote control.

Reno mengatakan, gerakan robot sangat akurat dan presisi. Sebab kondisi tremor dari tangan dokter yang menangani bedah dapat diabsorbsi, sehingga gerakan instrumen tetap stabil.

Robotik juga membuat posisi operator lebih ergonomis, sehingga tidak melelahkan untuk operasi yang memerlukan waktu lama.

3 dari 4 halaman

Nyeri dan Pendarahan Pasca Bedah Bisa Diminimalisir

Menurutnya, robotic surgery sangat potensial untuk sistem operasi telesurgery atau pembedahan jarak jauh. Hal itu karena lokasi operator dapat berjauhan dengan lokasi pasien berada.

Keuntungan dari robotic surgery ada pada akurasi Gerakan, sehingga lebih presisi saat melakukan bedah luka operasi kecil. Dari situ dimungkinkan nyeri usai bedah bisa ditekan seminimal mungkin.

"Kadang tangan dokter yang sudah berusia lanjut suka bergetar untuk gerakan-gerakan halus saat operasi bedah. Misalnya usus, kalau dijepit tidak boleh keras sebab bisa rusak. Dengan bantuan robot, dia bisa menyesuaikan cengkeramannya," katanya.

Selain itu, kata Reno, trauma jaringan dan risiko perdarahan lebih sedikit, risiko infeksi lebih kecil, lama rawat lebih singkat dan pasien dapat cepat kembali ke aktivitas rutin.

 

4 dari 4 halaman

Kemenkes Kembangkan Pusat Bedah Robotik Indonesia di RSHS

Reno mengatakan robotic surgery berbeda dengan bedah laparoskopi yang kini dikendalikan langsung instrumennya di hadapan pasien, posisi dokter bedah seringkali tidak ergonomis. Gerakan instrumen laparoskopi terbatas hanya dua arah derajat kebebasan gerak.

Sedangkan bedah robotik, lanjut Reno, instrumen dikendalikan secara remote, posisi dokter bedah sangat ergonomis dan tidak melelahkan, gerakan instrumen robotic pun bisa sangat fleksibel.

Saat ini, Kementerian Kesehatan juga tengah mengembangkan Pusat Bedah Robotik Indonesia, salah satunya di RSUP Dr Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. 

Menurut Reno Rudiman, program robotic telesurgery di RSHS sudah berjalan dimulai tahun 2020 dengan mengadakan pelatihan operator dari sejumlah dokter spesialis bedah untuk mengoperasikan alat bedah Robotic Sina.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini