Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

8 Fakta Kampung Mitigasi Cikondang, Salah Satunya Tahan Gempa Besar

8 Fakta Kampung Mitigasi Cikondang, Salah Satunya Tahan Gempa Besar Rumah Adat Cikondang. kebudayaan.kemdikbud.go.id ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Kehebatan teknologi zaman nenek moyang memang terkenal luar biasa, terutama yang berkaitan dengan struktur sebuah bangunan. Kehebatan teknologi tersebut bahkan banyak diterapkan di era sekarang sebagai langkah untuk menghalau bencana.

Di Bandung, Jawa Barat, tepatnya di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, terdapat sebuah kampung yang telah turun temurun menerapkan konsep bangunan tahan gempa yang dikagumi oleh ahli arsitektur.

Jati Diri Warga Sunda

Dilansir dari Mongabay.co.id, kampung Cikondang merupakan sebuah implementasi dari jati diri orang Sunda yang dituangkan ke dalam sebuah bentuk bangunan yang bisa meninggikan derajat penghuninya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Juhana, selaku juru kunci generasi ke-5 Kampung Cikondang. Ia menjelaskan bahwa bangunan di Kampung Cikondang merupakan sebuah jati diri kuat orang Sunda melalui rumah panggungnya yang khas.

"Bangunan ini ibarat jati diri, bumi adat yang berusia 300 tahun itu merupakan satu-satunya rumah tradisional yang tersisa," ujarnya.

Ia pun menambahkan bahwa filosofi rumah panggung juga memiliki makna mendalam. Panggung berasal dari kata pang dan agung. Artinya, yang diletakkan paling tinggi atau tertinggi.

Mengandung Makna Interaksi dengan Tuhan

Desain rumah di Cikondang yang secara keseluruhan berbentuk panggung menandakan bahwa masyarakat Kampung Cikondang bisa berinteraksi dengan Tuhan secara langsung.

Hal itu sejalan dengan pola keseimbangan hidup masyarakat Sunda. Dimana tersirat tuntunan keselarasan hubungan vertikal (interaksi diri dengan Tuhan) dengan hubungan horizontal (interaksi diri dengan sesama makhluk dan alam) dari rumah panggung.

rumah adat cikondang

kebudayaan.kemdikbud.go.id 2020 Merdeka.com

Pola Mitigasi yang Diterapkan

rumah adat cikondang

kebudayaan.kemdikbud.go.id 2020 Merdeka.com

Menurut Juhana, salah satu alasan mengapa desain rumah di kampung Cikondang dibuat desain panggung dan tidak langsung menyentuh tanah adalah agar tidak mengganggu resapan air.

Pasalnya, rumah tradisional Sunda itu terletak di kaki Gunung Tilu, di hulu Sungai Cisangkuy yang bermuara ke Sungai Citarum sehingga merupakan kawasan dengan tingkat aliran air yang tinggi.

Kepercayaan Leluhur Begitu Kuat

Ada istilah yang terkenal di kampung ini yaitu meratakan berarti merusak. Kepercayaan tersebut muncul dengan argumentasi bahwa ketika manusia ramah terhadap alam dengan tidak melanggar pantangan tersebut maka alam pun akan ramah.

Filosofi tersebut sudah tertulis dalam serat leluhur sesuai arti penamaan Kampung Cikondang bermula dari kata cai dan kondang, yang berarti sumber air yang dikenal.

Dikagumi Akademisi Arsitektural

Desain rumah yang berlantai panggung setinggi 60-80 cm dari tanah, dikombinasikan dengan tiang dari kayu jati atau suren yang terkenal kokoh, lalu sambungan yang diikatkan pen dan pasak, atau diikat tali ijuk maupun rotan. Hingga di bagian pondasi diletakkan di atas batu, merupakan sebuah teknologi yang ditemukan secara empiris.

Kontruksi tradisional serumit itu dikagumi oleh Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung, Sugeng Triyadi. Menurutnya, sistematika bangunannya kerap bersandingan dengan pengetahuan tentang topografi.

Sugeng berkeyakinan bahwa arsitektur adat seperti yang diterapkan di Kampung Cikondang seperti itu sebenarnya telah melalui uji coba alam hingga bisa bertahan dan diterima oleh lapisan masyarakat disini.

"Prosesnya panjang sekali sampai menemukan yang sesuai dengan karakteristik tempat tinggal meraka, jelasnya.

rumah adat cikondang

situsbudaya.id 2020 Merdeka.com

Sesuai Syarat Bangunan Tahan Gempa

Sugeng menjelaskan, desain yang diterapkan rumah di Cikondang melalui sambungan satu tiang dengan tiang lainnya dan menggabungkan bahan alami dari alam akan memperkokoh bangunan secara berkala.

Ia mengungkapkan bahwa rata-rata di Cikodang bangunannya tidak menggunakan paku atau material logam lainnya, melainkan material yang sudah ada di alam, seperti tali ijuk ataupun pasak bambu atau disebut sistem ikat dan paseuk.

Kendati begitu, material tersebut telah memenuhi salah satu persyaratan bangunan tahan gempa, yaitu bermaterial ringan. Secara umum, konsep dasar rancangan arsitekturnya menyatu dengan alam. Bahkan, Sugeng memprediksi, bangunan ini tidak akan roboh meski diguncang gempa bumi 7 skala richter.

Menjadi Kawasan Studi Konstruksi

Juhana pun mengenang, ketika gempa 7,3 skala richter mengguncang Jawa Barat pada 2009 lalu, bumi adat Cikondang tetap kokoh berdiri.

Bahkan bangunan ini juga pernah terkena gempa akibat erupsi Gunung Galunggung di tahun 1984. Kondisinya pun tetap sama. Kokoh dan tak goyah.

Sejak bencana tersebut, banyak praktisi arsitek dari beragam perguruan tinggi sengaja datang demi menggali informasi di Cikondang. Tak sebatas itu, peneliti di luar negeri seperti Belanda, Jepang dan Jerman sampai tertarik mendalami sistem konstruksinya.

Terbukti Tahan Bencana

"Berdasarkan kejadian tersebut terbukti bahwa rumah tradisional tanggap terhadap bencana. Sejak awal, orang tua zaman dulu sudah memiliki perhitungan menyoal membangun rumah," ujar Sugeng.

Kayu pondasi rumah adat sengaja tak ditanam dalam tanah layaknya rumah modern. Perhitungan lain yang membuat rumah tradisional tahan gempa adalah bahan kayu yang lentur dan ringan namun tetap kokoh. Kuncinya ada pada sambungan berbahan kayu yang tak dipaku mati sehingga mampu bergoyang dan tidak mengalami kerusakan pada struktur.

Menurut Sugeng, kearifan lokal sangat penting untuk dilestarikan. Di Jawa Barat sebagai salah satu daerah rawan gempa, kearifan lokal seperti rumah panggung harus dijaga. Meski dianggap kuno atau tradisional.

Tipe rumah panggung biasanya lebih aman dari getaran. Rumah panggung juga relatif bisa meminimalisasi risiko kehancuran bangunan yang terjadi akibat gerakan tanah.

"Rumah mampu bergoyang mengikuti gempa. Selain itu, jika terjadi longsor rumah panggung tidak hancur melainkan mengikuti arah gerak tanah," katanya.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP