6 Kata-Kata Cinta BJ Habibie
Merdeka.com - Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie merupakan merupakan presiden ketiga Indonesia yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada tanggal 25 Juni 1936. Selama ini kita kenal BJ Habibie merupakan sosok yang cerdas dan romantis. Kecerdasannya merupakan rahasia umum, semua orang mengetahui bagaimana peranannya terhadap perkembangan teknologi pesawat terbang di Indonesia, sedangkan sosok yang romantis jelas tergambar dari buku-buku yang Ia tulis untuk istrinya Hasri Ainun Habibie.
Buku-buku tentang Ainun pun akhirnya dijadikan film dan filmnya begitu laris di pasaran. Siapa yang tidak tertarik dengan kisah cinta Habibie yang begitu menginspirasi banyak pasangan di negara ini. Bisa dibilang sisi romantis Habibie merupakan dambaan setiap perempuan. Beberapa kutipan kata-kata cinta BJ Habibie sudah dirangkum merdeka.com dari beragam sumber.
1. "Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya dan tanpa kecerdasan cinta itu tidak cukup"

2020 Merdeka.com
Ada banyak orang memisahkan antara kecerdasan dan cinta seolah-olah tidak saling membutuhkan, seakan-seakan semua bisa berdiri sendiri-sendiri. Padahal kenyataannya kita semua perlu mempertimbangkan perkataan Habibie bahwa kecerdasan itu berbahaya bila tidak disertai dengan perasaan cinta. Begitu pun sebaliknya cinta saja tidak cukup tanpa kecerdasan.
Memiliki kecerdasan yang diiringi dengan cinta dan cinta yang dibarengi kecerdasan tidak akan membuat kita berhenti berkembang. Bagi kaula muda yang sedang dimabuk asmara penting untuk mengimani kata-kata Habibie yang satu ini supaya kehidupan cinta dan perkembangan pemikiran tetap seimbang.
2. "Seorang pria tidak akan pernah menjadi seorang pria yang besar tanpa adanya perempuan hebat di sisinya yang selalu memberi dukungan dan harapan dalam setiap langkah dan keputusan yang diambil"
Semua orang harusnya sepakat dengan kata-kata di atas, begitu jelas tergambar bahwa Habibie merupakan sosok yang menganggap penting peranan perempuan. Baginya tak mungkin Ia akan menjadi laki-laki yang hebat bila tidak didampingi seorang perempuan yang hebat seperti Ainun.
Jika di luar sana banyak perempuan menginginkan sosok seperti Habibie untuk menjadi pasangan seharusnya hal tersebut berbanding lurus dengan kualitas diri yang sehebat Ainun, begitu pun sebaliknya jika ada laki-laki yang menginginkan perempuan sehebat Ainun sudah kah Ia memiliki kualitas seperti Habibie. Dengan begitu semakin baik kualitas diri semakin baik pula pasangannya karena biasanya pasangan adalah cerminan diri.
3. "Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, namun masa depan adalah milik kita bersama"

2020 Merdeka.com
Kunci hubungan yang membangun bisa kita tiru dari pemikiran Habibie. Membicarakan masa depan menjadi prioritas ketimbang mengulik-ulik cerita masa lalu dari pasangan merupakan ciri hubungan yang membangun. Dari kutipan tersebut kita bisa mengetahui bahwa Habibie merupakan seseorang yang sangat menghargai privasi pasangannya.
Sedekat apapun seseorang tetap ada bagian dari hidupnya yang tidak ingin Ia ceritakan pada siapapun dan hanya menjadi miliknya sendiri. Bukan karena merasa belum selesai dengan masa lalunya melainkan sudah saatnya beranjak dan tidak ada untungnya membahasnya kembali.
4. "Kalau kita saling percaya maka perjanjian dua hal saja cukup. Sebaliknya, kalau kita berdua tidak saling percaya perjanjian tertulis setebal buku pun tidak akan menolong"
Tidak akan ada hubungan yang langgeng bila tidak didasari dengan rasa saling percaya satu sama lain. Hal itu pun dibenarkan oleh Habibie baginya jika sudah tidak saling percaya perjanjian setebal buku tidak akan menjamin suatu hubungan akan tertolong.
Barangkali kita perlu belajar dari Habibie dan Ainun yang selalu memupuk rasa percaya dengan komunikasi yang baik dan hal-hal kecil tapi romantis membuat mereka menjadi pasangan yang saling menyayangi hingga maut memisahkan.
5. "Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuat berarti lebih dari siapapun"

2020 Merdeka.com
Memiliki pasangan yang sempurna baik secara fisik maupun karir kadang tidak menjamin kehidupan yang bahagia. Itu berarti kebahagiaan suatu hubungan tidak selalu diukur dari sesuatu yang materil. Benar apa yang kemudian dikatakan oleh Habibie bahwa sebenarnya yang kita perlukan adalah orang yang mampu membuat kita bahagia dan berarti lebih dari siapapun bukanlah orang yang sempurna.
6. "Cinta sejati itu memandang kelemahan lalu dirubah menjadi sebuah kelebihan untuk selalu mencintai"
Kadang-kadang benar kalau sebaiknya kita mencintai seseorang lewat kelemahan-kelemahan yang dimilikinya karena dengan begitu kita jadi ada keinginan untuk memperbaikinya. Berbeda ketika kita mencintai seseorang hanya karena kelebihan-kelebihannya yang akan kita lakukan hanya menuntutnya untuk tetap sempurna tanpa cela.
Bagi Habibie cinta sejati adalah cinta yang tidak hanya memandang kelebihan-kelebihan saja melainkan juga memandang kelemahan-kelemahan pasangannya untuk tetap selalu mencintainya.
(mdk/nof)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya