4 Fakta Kesenian Sintren, Tarian Khas Pantura Sunda Pencegah Nafsu Duniawi

Rabu, 8 April 2020 19:04 Reporter : Nurul Diva Kautsar
4 Fakta Kesenian Sintren, Tarian Khas Pantura Sunda Pencegah Nafsu Duniawi Tari Sintren. Indramayukab.go.id ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Indonesia merupakan negara dengan beragam kearifan lokal yang menyimbolkan suatu budaya dari masing-masing daerahnya. Salah satu wilayah dengan kearifan lokal yang cukup unik dan beragam adalah Jawa Barat.

Wilayah yang dikenal dengan suku sundanya ini ternyata menyimpan beragam kesenian tradisional yang memiliki banyak makna kehidupan manusia. Sintren adalah salah satunya.

Kesenian yang popular di wilayah Pantura Jawa Barat (Cirebon, Indramayu, dan Majalengka) ini seakan membawa pesan kepada manusia agar bisa selalu hidup sederhana. Selain itu Sintren mengingatkan manusia untuk menghindari hal-hal yang bersifat nafsu duniawi (keserakahan).

1 dari 5 halaman

Perwujudan Perempuan yang Menari Menuju Kesucian

tari sintren

Para Sesepuh Sedang Menahan Penari Agar Tidak Terjatuh Setelah Dilempar Uang/Liputan6 2020 Merdeka.com

Sintren merupakan sebuah kesenian tradisional khas wilayah pantura Jabar, khususnya wilayah Cirebon Jawa Barat. Dilansir dari website resmi Kota Cirebon, istilah Sintren berasal dari kata Si yang artinya ungkapan panggilan dalam bahasa Cirebon yang bermakna Ia atau Dia. Lalu Tren yang memiliki makna perempuan.

Kesenian Sintren memiliki makna seorang perempuan yang sedang menari seorang diri dan dipengaruhi oleh kekuatan magis. Hal tersebut merupakan kebiasaan turun temurun yang memiliki pesan kebaikan untuk manusia.

2 dari 5 halaman

Sebagai Pengiring Sajak Perjuangan Melawan Penjajah

tari sintren

GNFI 2020 Merdeka.com

Menurut sejarah yang ditulis oleh Pemerintah Kota Cirebon, tarian Sintren awalnya merupakan sebuah kesenian sajak masyarakat Pantura Cirebon dan Indramayu untuk mengelabui tentara Belanda. Mengingat zaman penjajahan segala bentuk kesenian yang menampilkan sisi perjuangan seperti syair maupun sajak sangat dilarang.

Pada saat itu Pemerintah Belanda hanya mengizinkan kesenian yang tidak mengandung unsur perjuangan. Akhirnya para pemuda Pantura bersepakat untuk mengelabui tentara Belanda dengan tetap melantunkan sajak perjuangan melalui Bahasa Tayub atau Bahasa Daerah. Bahasa yang digunakan saat itu tidak dipahami Belanda dan menggunakan Perempuan sebagai sisi sarkastik melawan penjajah.

3 dari 5 halaman

Membawa Pesan untuk Menjauhi Keserakahan Dunia

tari sintren

Cirebonkota.go.id 2020 Merdeka.com

Menurut Sultan Arief (Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon) via Liputan6, tarian Sintren menyelipkan pesan kebaikan kepada manusia agar menjauhi hal-hal yang bersifat nafsu dan keserakahan dalam menjalani kehidupan.

Ungkapan tersebut dapat terlihat saat penari sintren yang sedang menari dengan menggunakan kaca mata hitam diberikan saweran uang, maka penari tersebut akan jatuh dan pingsan.

Menurut Sultan Sepuh Arief hal tersebut mengingatkan agar manusia tidak lupa diri dalam kehidupan di dunia. Kacamata dilambangkan sebagai sesuatu yang gelap dalam menjalani kehidupan, sehingga manusia perlu hati-hati agar tidak salah langkah.

"Makna filosofi penari jatuh karena dilempar uang ya itu manusia semakin banyak uang cenderung lupa diri dan dari situ bisa menjadi pangkal kejatuhannya," ujarSultan Arief yang dilansir dari Liputan6.

Selain itu pesan lainnya bisa terlihat dari properti seperti kurungan ayam yang digunakan untuk menaungi penari sebelum melakukan aksinya. Dalam istilah di Cirebon, kurungan ayam bermakna ranggap yang melengkung, artinya dari fase hidup manusia bisa terlihat bagaimana dia meraih keberkahan hidup.

Di mana manusia dari bawah akan berusaha menuju puncak, namun setelah berada di puncaknya manusia kembali lagi ke bawah. Dari tanah kembali menjadi tanah, dilahirkan dalam keadaan lemah akan kembali pada keadaan yang lemah pula.

4 dari 5 halaman

Memiliki Persyaratan Khusus

tari sintren

GNFI 2020 Merdeka.com

Untuk menjadi seorang penari Sintren, perempuan tersebut harus bersih dan suci dari sifat keduniawian. Sebelum menjalani lakon sebagai penari sintren perempuan tersebut diwajibkan untuk berpuasa terlebih dahulu.

Selain itu, penari diwajibkan menjauhi hal-hal yang akan menyebabkan perbuatan dosa. Hal ini ditujukan agar roh tidak akan mengalami kesulitan untuk masuk dalam tubuh penari.

Tari Sintren juga memiliki syair khusus yang harus dinyanyikan dalam setiap pertunjukanya. Dilansir dari cirebonkota.go.id, berikut syair lengkapnya:

Turun turun sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange putri mahendra
Widadari temurunan

Ketika Sintren dan dalang Sintren telah bersiap ditempat dan akan memulai pementasan maka syair akan dilanjutkan dengan syair seperti dibawah ini ;

Kembang rampe oli tuku ning pasar kramat
Nok fani dirante kang rantee dalang mamat
Kembang rampe oli tuku ning pasar kramat
sintrene dirante kang rantee dalang mamat
Gulung gulung glasah ana sintren lagi turu
Penontone buru buru

Gulung gulung gelasah ana sintren lagi turu
Penontone buru buru
Selasih Selasih Sulandana
Menyangkuti ragae sukma
Ana sukma saking surga
Widadari temurunan
Selasih Selasih Sulandana
Menyangkuti ragae sukma
Ana sukma saking surga
Widadari temurunan

Ketika Ranggap (bahasa Indonesia : kurungan ayam) dibuka, maka Syair Ya Robana (ya Allah swt) yang mengingatkan para penonton untuk segera bertaubat dilantunkan oleh pesinden seperti berikut ;

Ya robana, robbana,robbana
Ya robana zhalamna anfusana
Wa inlam tagfirlana
Wa tarhamna lanakunanna
Min al-khosirin

Setelah Sintren keluar dari ranggap dan kemudian berdiri, syair diubah untuk menunjukan bahwa sintren telah berdandan dan berganti baju. Para Panjak (pemain musik) siap untuk mengiringi penampilannya.

Turun turun sintren
Sintrene dandan suwe
Dandan kalunge sesumpinge
Dandan kalunge sesumpinge
Sintren joged manis meseme
Panjak songgot rame-rame

Ketika Sintren melakukan gerakan tarian pertama kali, maka syair diubah kembali menunjukan bahwa Sintren telah siap. Pada bagian ini prosesi melempar uang yang membuat sintren lemas tidak berdaya dilakukan.

Turun turun sintren
sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange putri mahendra
Widadari temurunan

Ketika prosesi pelemparan uang sudah selesai, maka dalang akan memasukan sintren kembali ke dalam ranggap tanda bahwa pagelaran akan segera berakhir.

Kembang kilaras ditandur tengahe alas
Paman bibi aja maras
Dalang sintren jaluk waras
Kembange srengenge surupe wayahe sore
Sawise lan sedurunge kesuwun ning kabehane
Syair Kembang Gewor

Pagelaran Sintren dibuka dengan syair seperti berikut ;

Turun-turun Sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang ning ayunan
Nemu kembang ning ayunan
Kembange Siti Mahendara
Widadari temurunan ngaranjing ning awak ira

Ketika Sintren sudah masuk ke Ranggap (kurungan ayam) maka pesinden akan melanjutkan dengan syair Sih Solasih untuk mengiringi prosesi pelepasan rantai yang membelit sintren di dalam Ranggap.

Sih solasih sulandana
Menyan putih pengundang dewa
Ala dewa saking sukma
Widadari temurunan

5 dari 5 halaman

Syair kemudian dilanjutkan dengan syair kembang Gewor yang mengiringi datangan para Bodoran (bahasa Indonesia : pelawak) yang mengiringi pagelaran Sintren.
Turun-turun sintren Sintrene widadari

Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange si jaya Indra
Widadari temurunan
Kang manjing ning awak ira

Turun-turun sintren sintrene widadari

Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange si jaya Indra
Widadari temurunan
Kembang gewor bumbung kelapa lumeor
Geol-geol bu Sintren garepan njaluk bodor
Bumbune kelapa muda
Goyang-goyang nyi sintern minta bodor

Syair kemudian dilanjutkan dengan syair kembang Kates, Kenangan dan Jae Laos yang menandakan pagelaran Sintren akan segera berakhir, seperti berikut ;

Kembang kates gandul
Pinggire kembang kenanga
Kembang kates gandul
Pinggire kembang kenanga
Arep ngalor garep ngidul
Wis mana gageya lunga
Kembang kenanga

Pinggire kembang melati
Kembang kenanga pinggire
Kembang melati
Wis mana gageya lunga
Aja gawe lara ati
Kembang jahe laos
Lempuyang kembange kuning
Kembang jahe laos
Lempuyang kembange kuning
Ari balik gage elos sukiki menea maning

Syair Metu sing konjarah (keluar dari kurungan)

Clikung lawung klontongena bandanira (Intip lihatlah dengan hati-hati, berkumpulah, bebaskan belenggumu)
Clikung lawung klontongena bandanira (Intip lihatlah dengan hati-hati, berkumpulah, bebaskan belenggumu)
Ari sukma ngelontong, ngelontong salin busana (seandainya jiwa sudah terbebas, bebaslah ganti pakaianmu)
Simbar-simbar pati, lamun dadi ja kesuwen (simbar-simbar pati (wangsalan Cirebon : rambut mati (uban) ), seandainya sudah muncul janganlah malu)
Simbar-simbar pati, lamun dadi ja kesuwen (simbar-simbar pati (wangsalan Cirebon : rambut mati (uban) ), seandainya sudah muncul janganlah malu)
Tokena sing konjarah, tokena sing konjarah (keluarlah dari kurungan, keluarlah dari kurungan)
Nya bebet nya iket nya sabuk sakerise (bebet (kain yang diikatkan dipinggang), iket (kain yang diikatkan dikepala), sabuk beserta kerisnya)

Syair Sintren dibanda (sintren dibelenggu)

Ayu sintren terapena bandanira (ayo sintren siapkan belenggumu)
Ayu sintren tangan ditaleni (ayo sintren tangan diikat)
Badan ditaleni (badan diikat)
Arep manjing ning konjarah (mau masih ke kurungan)
Pangeranira lara tangis (pemimpinmu sedang menderita dan menangis)
Tangise wong keyungyun (tangisannya orang yang menarik hati)
Turun-turun sintren, sintrene widadari (datang-datang sintren, sintrennya bidadari)
Nemu kembang yun-ayunan, nemu kembang yun-ayunan (nemu kembang hendak dibawa kemana?)
Kembange cahaya indra, widadari temurunan (kembangnya cahaya indra, bidadari sedang datang)
Ngrajinga ning badanira (memasuki badanmu)
Syair Wari lais (air suci)

Syair Sintren Wari Lais (air suci) atau yang secara harafiah berarti pemuda dengan niat yang suci sering diperdengarkan dalam berbagai media seni selain Sintren, diantaranya adalah dalam kesenian Tarling Cirebon, lirik Wari Lais masih suka diperdengarkan lewat para penyanyi Tarling seperti mimi Dadang Darniah pada era 70an dan kemudian Diana Sastra.
Wari lais klontongena bandanira (air suci (pemuda dengan tujuan mulia) ) lepaskanlah belenggu dirimu)

Dunung ala dunung (ditempat-tempat manapun)
Dunung ala dunung (ditempat-tempat manapun)
Si Dunung ing bahu kiwa (tempat-tempat sudah menjadi tangan kiri (ekstrem kiri) (tuduhan belanda mengatakan rakyat itu pemberontak)
Pangeranira lara nangis (pimpinanmu sedang menderita dan menangis)
Syair Tambak-tambak Pawon (menyalakan dapur)

Sebelum tarian Sintren dimulai, untuk menghimpun masyarakat sekaligus memberitahu bahwa akan ada pagelaran tarian sintren, pesinden sintren di desa Kroya, kabupaten Indramayu bisanya melantunkan syair berikut ;

Tambak tambak pawon
Isie dandang kukusan
Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul
Setelah masyarakat sudah berkumpul, pesinden kemudian melanjutkan dengan syair selanjutnya
Turun sintrén, sintréné widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembangé si Jaya Indra
Widadari temurunan
Kang manjing ning awak ira
Turun-turun sintrén
Sintrené widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembangé si Jaya Indra
Widadari temurunan
Kembang katés gandul
Pinggiré kembang kenanga
Kembang katés gandul
Pinggiré kembang kenanga
Arep ngalor arep ngidul
Wis mana gagéya lunga
Kembang kenanga
Pinggiré kembang melati
Kembang kenanga
Pinggiré kembang melati
Wis mana gagéya lunga
Aja gawé lara ati
Kembang jaé laos
Lempuyang kembangé kuning
Kembang jaé laos
Lempuyang kembangé kuning
Ari balik gagé elos
Sukiki menéya maning
Kembang kilaras
Ditandur tengaé alas
Paman-bibi aja maras
Dalang sintrén jaluk waras

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini