Kecerdasan Agus Salim sebagai salah satu pahlawan nasional memang tidak diragukan lagi. Kemampuan bahasa yang beragam mengantarkan Agus Salim ke Saudi Arabia, sebagai Konsultan Belanda di Jeddah.
Sebelum berangkat ke Jeddah Agus Salim berjanji akan menikahi pujaan hatinya, Zainatun Nahar. Lima tahun berselang Agus Salim kembali ke tanah air dan menginjakan kakinya lagi di tanah kelahirannya Koto Gadang.
Kepulangannya kala itu, membuat para orang tua berlomba-lomba untuk menjodohkan anak gadisnya dengan Agus Salim. Karena Agus Salim memiliki paras yang tampan, anak dari keluarga terpandang, pintar, dan merupakan pegawai Belanda.
Tetapi Agus Salim tetap setia kepada cinta pertamanya, bahkan ia menerabas adat setempat. Sehari sebelum akad nikah berlangsung, Agus Salim meminta bertemu dengan Zainatun Nahar. Ia hendak memastikan terlebih dahulu bahwa sang calon tidak terpaksa mau dinikahinya.
Setelah tidak ada lagi keraguan dari calon istrinya, pada 12 Agustus 1912 pernikahan dilangsungkan dengan sangat meriah di Almatsier Pisang, Koto Gadang. Ada arak-arakan dan tabuhan rebana.
"Paatje menggunakan baju merah menyala dan kuning keemasan serta sorban, saya pakai kurung dengan tilakuang, dan penutup kepala berbahan bludru bersulam, khas Koto Gadang. Semua tampak indah sekali." Tutur Zainatun saat wawancara dengan Kustiniyati Mochtar yang dikutip dalam buku Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik.
Agus Salim yang dari kecil sudah akrab dengan hal kebarat-baratan saat mengenyam pendidikan, setelah menikah ia praktekkan kepada istrinya. Ia berani menggandeng dan mencium pipi istrinya di depan umum.
"Awalnya malu saat Paatje menggandeng dan mencium saya depan orang, Paatje mempraktekan keinginannya untuk mengangkat kedudukan wanita," Sambung Zainatun.
Paatje adalah panggilan anak-anak Agus Salim kepadanya, sedangkan Zainatun dipanggil Maatje.
Advertisement
Beberapa hari setelah menikah, terdapat kejutan yang tak terduga. Secara tiba-tiba ada seorang perempuan Arab datang ke rumahnya di Koto Gadang.
Perempuan Arab itu ternyata istri Agus Salim yang pertama. Saat ia tugas di Jeddah Saudi Arabia, ia menikahi perempuan Arab untuk merawatnya saat sakit. Pernikahan itu dikaruniai seorang anak perempuan, namun sayangnya meninggal saat bayi.
"Saat itu keluarga juga diberi tahu," Ujar Bibsy anak ke-8 Agus Salim.
Karena statusnya sudah menikah dengan Zainatun, Agus Salim berkeinginan untuk menceraikannya, tapi sang istri Arabnya menolak.
"Tapi akhirnya mereka berpisah baik-baik," tambah Bisbsy.
Kejutan setelah pernikahan tak sampai disitu saja. Lima hari setelah menikah, Agus Salim berhenti dari pekerjaannya di Bureu voor Openbare Werken atau Dinas Pekerjaan Umum Hindia Belanda karena merasa tak betah.
"Bagi orang Koto Gadang saat itu, berhenti dari dinas pemerintah adalah bencana besar," kata Zainatun.
"Kira-kira sama seperti mendengar kematian keluarga." tambahnya.
Kejutan Tak Terduga dari Agus Salim, Kedatangan Istri dari Arab Sampai Berhenti Kerja
Reporter Magang: Ita Rosyanti