Sidarto Danusubroto menjadi saksi hidup saat kondisi ekonomi Sukarno terpuruk. Kisahnya dimulai saat Sukarno secara tiba-tiba tidak dibolehkan lagi masuk ke Istana Merdeka. Peristiwa tersebut terjadi sekitar Mei 1967.
Tidak ada aba-aba, tanpa mengemasi barang-barangnya, Sukarno yang baru pulang membeli sate harus angkat kaki dari istana.
"Saya ingat, beliau habis makan sate sama saya di pinggir kali Cilincing. Barang-barang beliau sama sekali tidak sempat dibawa," ungkap Sidarto seperti tertulis dalam buku Heldy Cinta Terakhir Bung Karno.
Terusir dari Istana berarti hilang semua fasilitas protokoler. Salah satunya sekretaris presiden. Sidarto yang saat itu baru diangkat menjadi ajudannya, mendadak merangkap menjadi sekretaris.
Menurut Sidarto, Bung Karno sama halnya dengan tahanan kota, untuk mobilisasi Jakarta-Bogor saja harus dapat izin dari Pangdam VI Siliwangi dan Pangdam V Djayakarta. Sidarto yang setia, dengan telaten melakukan tugas tersebut.
"Jadi tugas saya, bolak-balik mengurus exit permit dan entry permit, Jakarta-Bogor. Sudah seperti akan pergi keluar negeri saja," ucap Sidarto.
Advertisement
Cari Uang buat Bung Karno
Pada penghujung Desember 1967, Bung Karno mulai berstatus tahanan rumah. Artinya tidak boleh lagi meninggalkan Wisma Yaso, tempat tinggalnya bersama sang istri, Yurike Sanger.
Saat menjadi tahanan rumah, keluarga dan kerabat sulit untuk menemui Sukarno. Bahkan untuk sekadar membesuk, harus mendapatkan izin dari otoritas yang berwenang.
Pada saat Sukarno dalam periode susah itu, Sidarto mendapatkan pengalaman tak terlupakan.
"Saya disuruh ke sana-ke mari mencari duit. Sebab, Bung Karno tidak pegang duit, beliau sering kehabisan uang untuk pegangan dan hidup sehari-hari," kenang Sidarto.
"Sewaktu disuruh mencari duit itulah, saya sempat bingung dari mana bisa memperolehnya. Sebab, semua orang yang dekat dengan Bung Karno sewaktu saya dekati malah lari semua. Mereka takut. Hanya satu orang yang masih setia."
Orang yang masih setia itu adalah Tukimin. Sukarno meminta Sidarto menemuinya. Dia adalah mantan pejabat rumah tangga Istana Merdeka.
Tanpa kesulitan, Sidarto mendapatkan 10.000 dolar Amerika dari Tukimin. Kesulitan justru dialami Sidarto saat ingin memberikan uang tersebut.
Tak kehilangan akal untuk bisa melewati geledahan penjaga, Sidarto memasukan uang tersebut ke kaleng biskuit. Sidarto meminta bantuan Megawati untuk mengantarkan kaleng biskuit tersebut kepada ayahnya.
"Mbak Mega yang masuk. Mbak Mega kan bisa beralasan untuk mengunjungi Ayahandanya," kenang Sidarto.
Advertisement
Sidarto Sang Ajudan Terakhir
Sidarto Danusubroto adalah ajudan terakhir Sukarno. Dia diangkat sejak 6 Februari 1967, Sidarto yang saat itu berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) ditugaskan menjadi ajudan Sukarno, menggantikan Kombes Pol Sumirat yang ditahan pasca Supersemar.
Keputusan diangkatnya Sidarto ditandatangani langsung oleh Sukarno. Namun, baru tiga bulan Sidarto menjalankan tugas, situasi politik nasional tengah memanas. Pada 12 Maret 1967, keluar TAP MPRS XXXIII/MPRS/1967 yang melucuti kekuasaan eksekutif Sukarno.
Meski demikian, Sidarto tidak ditarik dari posisinya sebagai ajudan. Sewaktu menghadap Kapolri, dia diperintah agar terus mendampingi Sukarno.
"Pemerintah memandang Sukarno perlu didampingi ajudan. Jadi saya melayani presiden yang ditahan" tutur Sidarto.
Pada 23 Maret 1968, turun surat resmi dari markas besar Angkatan Kepolisian (Mabes Polri) yang isinya berupa penarikan Sidarto dari posisinya.
"Saat kondisi kesehatan Bung Karno semakin lemah, fungsi ajudan tidak diperlukan lagi. Yang paling dibutuhkan adalah dokter dan perawat. Saya lalu diminta Panglima Angkatan Kepolisian (saat ini disebut Kapolri) Soetjipto Joedodihardjo untuk ditarik," jelasnya.
Dalam surat penarikan tersebut disampaikan bahwa kemungkinan akan dikirimkan pengganti Sidarto. Tapi pada faktanya, ajudan baru tidak pernah ada. Jadi Sidarto Danusubroto tercatat sebagai ajudan terakhir Sukarno.
Reporter Magang: Ita Rosyanti