Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pidato dan Sosok Mayor Isman yang Mengubah Pemikiran Romo Mangun

Pidato dan Sosok Mayor Isman yang Mengubah Pemikiran Romo Mangun Mas Isman. ©istimewa

Merdeka.com - Sejak muda dikenal sebagai pejuang idealis. Ikut melahirkan kesatuan Tentara Pelajar dan mempengaruhi hidup rohaniawan terkemuka, Y.B. Mangunwijaya.

Penulis: Hendi Jo

Ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan Mayor Jenderal (Purn) Isman menjadi pahlawan nasional pada 5 2015, banyak orang yang bertanya-tanya siapa sosok tersebut. Banyak kalangan yang mengaitkan Isman dengan seorang politisi senior dari partai tertentu.

Memang benar, Isman adalah ayah dari Hayono Isman, eks menteri pemuda dan olahraga di zaman Orde Baru. Namun tak banyak yang tahu sepak-terjang lelaki kelahiran Bondowo, 1 Januari 1924 itu.

Isman adalah salah seorang pemuda idealis di zamannya. Ketika Sekutu (yang diwakili tentara Inggris) menyerbu Surabaya, dia meninggalkan kehidupan sehari-harinya guna memimpin perlawanan ratusan anak muda pelajar.

Dalam buku Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (Bagian I) karya Dra. Irna H.N. Hadi Soewito disebutkan, kelompok perlawanan kaum pelajar itu mengambil sebuah gedung di Jalan Darmo No.49 sebagai markas besarnya.

"Makanya kelompok itu dikenal sebagai BKR (Badan Keamanan Rakyat) Darmo," tulis Irna.

Mas Isman dan Bilik Reyot

Ketika menjadi Pimpinan Umum BKR Darmo, secara resmi Isman dilantik oleh Komandan BKR Kota Surabaya, Sungkono pada 25 September 1945. Sebulan setelah pelantikan, BKR Darmo sudah mulai terlibat dalam pertempuran hidup-mati dengan tentara Inggris di palagan Surabaya. Tak sedikit, anggota BKR Darmo yang gugur terutama saat mereka bertempur mempertahankan kawasan Ambengan pada November 1945.

Usai Inggris pergi, dan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) mulai merajalela pada 1946, BKR Darmo berganti nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Pelajar lalu terakhir berubah lagi menjadi TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) Jawa Timur. Isman (dengan pangkat mayor) lantas didapuk menjadi komandannya, membawahi 5 batalyon:

Batalyon 1000 meliputi Mojokerto (pasukan ex. Surabaya dan sekitarnya)Batalyon 2000 meliputi Madiun dan sekitarnya termasuk Bojonegoro.Batalyon 3000 meliputi Kediri dan sekitarnya termasuk NganjukBatalyon 4000 meliputi Jember dan sekitarnya termasuk LumajangBatalyon 5000 meliputi Malang dan sekitarnya termasuk Pasuruan

Di kalangan anak buahnya, Mayor Isman dikenal sebagai sosok yang sederhana, egaliter dan sangat kekeluargaan terhadap anak-anak buahnya. Menurut Asmadi dalam bukunya: Sangkurdan Pena. Begitu besarnya sikap kekeluargaannya, hingga di kalangan TRIP dia tidak mau disebut sebagai 'pak', tapi cukup memanggilnya 'mas ", sebutan akrab untuk seorang kakak laki-laki dalam kultur Jawa.

"Anak-anak TRIP biasa memanggil komandan-nya dengan sebutan 'mas', termasuk saat memanggil komandan brigade kami, cukup dengan 'Mas Isman' saja," ujar mantan anggota Yon 5000 TRIP Malang tersebut.

Ketika memegang posisi sebagai komandan Brigade 17 Detasemen I TRIP Jawa Timur, kesederhanaan Isman tidak berubah. Alih-alih menuntut fasilitas lengkap, Mas Isman merasa cukup bekerja di sebuah ruangan sempit yang dindingnya terbuat dari bilik yang sudah hampir reyot.

"Meja kerjanya terbilang kecil, terbuat dari kayu berbentuk bulat dan sangat sederhana sekali…" kenang Asmadi.

Jangan Sebut Kami Pahlawan

Rohaniawan sekaligus budayawan Indonesia terkemuka, almarhum Y.B. Mangunwijaya termasuk pernah menjadi anak buah Isman, mewakili Pemuda Katholik. Dalam bukunya, Penziarahan Panjang Humanisme Mangunwijaya, Romo Mangun (panggilan akrab Y.B. Mangunwijaya) sempat memiliki kenangan khusus terhadap sosok komandannya tersebut.

Ceritanya, saat tentara Belanda hengkang dari Malang pada akhir 1949, bersama kawan-kawannya Mangunwijaya muda berbaris memasuki Malang. Layaknya pejuang-pejuang lainnya, Mangunwijaya muda saat itu ikut larut dalam kegembiraan dan rasa bangga kala orang-orang memanggil mereka sebagai pahlawan. Sebuah sebutan yang beberapa saat kemudian dibantah secara keras oleh Mas Isman dalam pidato perayaan itu.

"Jangan sebut kami pahlawan atau kesuma bangsa. Akibat perang, kami sudah belajar melukai dan membunuh.Akibat perang, kami telah membakar rumah-rumah. Tangan kami telah berlumuran darah. Kami sudah belajar hal-hal yang kotor. Kami adalah anak-anak muda yang tumbuh dalam ketidaknormalan. Kami tidak minta disanjung. Hanya satu permintaan kami: berilah kesempatan kepada kami untuk menjadi manusia normal kembali…Ya kami bukan pahlawan! Yang menjadi pahlawan adalah rakyat jelata, petani-petani yang menghidupi kami. Jika Belanda datang, kami lari. Memang bukan karena pengecut melainkan karena kekuatan tidak seimbang. Tapi rakyat tak bisa lari. Merekalah kemudian yang disiksa, diperkosa, dibunuh dan dibakar rumahnya. Merekalah yang berkorban…"

Begitu mendengar pidato Mas Isman itu, orang-orang yang bersorak sorai dalam mabuk kemenangan tiba-tiba langsung terdiam panjang. Termasuk Mangun, yang merasa kebenaran isi pidato seniornya tersebut.

"Malamnya saya tak bisa tidur memikirkan isi pidato Mas Isman itu…" kenang Romo Mangun.

Berhari-hari Mangun memikirkan terus pidato Mas Isman. Hatinya baru terbuka jika pahlawan sejati sebenarnya dalam revolusi adalah rakyat. Dia lantas banyak berdiskusi dengan orang-orang yang dia anggap memiliki pemahaman hidup lebih luas dibanding dirinya. Selalu dia bertanya: bagaimana caranya supaya dirinya bisa membalas jasa-jasa rakyat saat masa perang dulu?

Setelah lewat dialog dengan guru-gurunya di Sekolah Katholik dan perenungan yang sangat panjang, akhirnya Mangun memutuskan untuk menjadi seorang rohaniawan di Keuskupan. Dia juga berjanji bahwa selamanya selalu akan selalu berpihak kepada rakyat kecil dan tertindas. Janji yang selalu ditepatinya sampai dia meninggal secara mendadak pada 10 Februari 1999 .

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP