Kisah Haji Darip: Macan Klender Pelindung Pedagang Tionghoa dan Loyalis Bung Karno

Sabtu, 2 Juli 2022 05:07 Reporter : Merdeka
Kisah Haji Darip: Macan Klender Pelindung Pedagang Tionghoa dan Loyalis Bung Karno Haji Darip pada September 1945. RD Film-en Fotoarchief©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Kisah seorang loyalis Bung Karno yang berjuang tanpa pantang menyerah hingga dia tertangkap dan harus mengalami siksaan kejam di tahanan militer Belanda.

Penulis: Hendi Jo

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah DKI Jakarta mengganti Jalan Bekasi Timur Raya di kawasan Jakarta Timur menjadi Jalan Haji Darip. Kendati banyak menuai pujian dari berbagai kalangan terutama penggiat sejarah, namun tak banyak masyarakat Jakarta tahu siapa dan bagaimana kiprah orang yang menjadi tokoh di balik nama jalan baru tersebut.

Nama Haji Darip terbuhul dalam berbagai dokumen dan buku sejarah yang terkait dengan perjuangan rakyat Betawi selama revolusi kemerdekaan (1945-1949). Menurut sejarawan Robert B. Cribb, Haji Darip adalah seorang jagoan lokal yang sukses mengkombinasikan antara patriotisme dan kriminalitas.

2 dari 4 halaman

Pelindung Pedagang Tionghoa

Tahun 1945, Haji Darip membentuk Barisan Rakjat Indonesia (BARA). Dengan mengatasnamakan perjuangan, BARA merajalela di wilayah Klender dan sekitarnya. Sebagai korban, mereka kerap memeras masyarakat dari golongan Indo Belanda, Tionghoa dan etnis-etnis yang didentikan sebagai antek Belanda.

"Orang yang beruntung memiliki kulit berwarna akan dibiarkan hanya membayar setara dua gulden dengan mata uang di masa pendudukan Jepang lalu berteriak memekikan kata 'merdeka'," ungkap Cribb dalam buku Gangster and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and the Indonesian Revolution 1945-1949.

Tentu saja pemaparan miring tentang Haji Darip versi Cribb itu ditentang keras oleh keluarga sang haji. Menurut Achmad Khurriyani (75), salah seorang putra Haji Darip, alih-alih menjadi pemeras Haji Darip malah merupakan pelindung para para pedagang Tionghoa dari penjarahan yang dilakukan oleh para bandit setempat.

"Orang-orang Tionghoa itu datang ke rumah dan meminta foto bapak saya lalu memperbanyaknya. Mereka menempelkan foto bapak di pintu-pintu rumah dan toko-toko sehingga gerombolan bandit yang akan merampok langsung mengurungkan niat jahatnya begitu melihat foto bapak tersebut," ungkap lelaki yang dikenal sebagai Ustaz Uung itu.

3 dari 4 halaman

Jejak Sang Macan Klender

Yang jelas Haji Darip sangat populer di kalangan para pejuang. Beberapa bulan setelah memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Presiden Sukarno malah pernah sengaja datang mengunjungi Haji Darip di Klender. Itu terekam jelas dalam sebuah tayangan film dokumenter yang diproduksi oleh sebuah media Belanda.

"Bapak saya itu pernah memimpin barisan rakyat Betawi ke lapangan IKADA (pada 19 September 1945) untuk langsung mendukung Bung Karno," ujar Ustaz Uung.

Haji Darip membuktikan dukungannya kepada RI, saat dia bersama anak buahnya harus hijrah sampai ke Purwakarta menyusul jatuhnya Klender ke tangan tentara Inggris pada 23 November 1945.

Saat pengunduran diri dari Klender itu, di Cikarang, Haji Darip memutuskan untuk meleburkan BARA ke dalam BPRI (Barisan Pemberontak Rakjat Indonesia) yang dibentuk oleh Bung Tomo di Surabaya.

Sejak itulah, 'Macan Klender' berkeliaran di hutan-hutan Purwakarta. Bersama anak buahnya yang berjumlah sekitar 200 orang, Haji Darip kerap melakukan penghadangan dan penyerangan yang membuat pasukan Belanda kewalahan. Sayangnya, perlawanan pasukan Haji Darip harus terhenti pada akhir 1947.

4 dari 4 halaman

Menyerang Penjara

Ceritanya, saat akan menyusul Bung Karno ke Yogyakarta, pasukan Haji Darip diadang satu kekuatan pasukan Belanda yang cukup besar di daerah Sadang. Kendati awalnya bisa mengimbangi, namun lambat laun amunisi pasukan Haji Darip pun habis. Dalam situasi seperti itulah, Haji Darip kemudian berhasil ditangkap oleh militer Belanda.

Haji Darip lantas dibawa ke sel Polisi Militer di Kebayoran, Jakarta. Di penjara tersebut, Haji Darip mengalami berbagai siksaan kejam dan perlakuan tak manusiawi dari militer Belanda. Pada 1978, kepada jurnalis Titiek WS dari Majalah Dewi, Haji Darip mengeluhkan jika bekas siksaan itu masih terus membekas seumur hidup.

"Dia kehilangan sebagian pendengarannya dan sering menderita sakit kepala…" ungkap Titiek dalam Majalah Dewi edisi tahun ke-3 (1978).

Tidak lama di Kebayoran, Haji Darip lalu dipindahkan ke Penjara Glodok. Akhir 1949, dua anak buah Haji Darip bernama Ismail dan Gozali Buntung, memimpin sekelompok pejuang menyerbu Penjara Glodok. Mereka berhasil membebaskan Haji Darip dan memulangkannya kembali ke Klender, Jakarta Timur.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini