Ketika Putra Pangdam Siliwangi Lolos dari Amuk Massa

Selasa, 12 Oktober 2021 05:31 Reporter : Merdeka
Ketika Putra Pangdam Siliwangi Lolos dari Amuk Massa Kiki Adjie dan Bondol Ismail Adjie ketika berkisah kepada penulis. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Digeruduk Barisan Marhaen, putra Panglima Kodam VI Siliwangi sempat dipukuli dan disekap dalam panser.

Penulis: Hendi Jo

BANDUNG, 19 Agustus 1966. Pagi sekali Kiki Adjie sudah sampai di SMP Negeri 2 yang terletak di Jalan Sumatra. Begitu masuk ke halaman sekolahnya tersebut, dia langsung bergabung dengan kawan-kawannya. Kiki ingat hari itu para murid dikerahkan untuk kerja bakti membersihkan lingkungan dan mengecat gedung sekolah. Kegiatan belajar-mengajar diliburkan. Mereka masuk khusus hanya untuk kerja bakti saja.

"Saya waktu itu duduk di kelas tiga," kenang lelaki kelahiran Sibolga pada 1950 itu.

Saat asyik mengecat pagar sekolah, tiba-tiba dari ujung Jalan Sumatra muncul ratusan orang dengan membawa spanduk, parang, tombak dan golok. Sambil berteriak-teriak "hidup Bung Karno", mereka mengintimidasi dan bahkan memukuli setiap lelaki yang mereka jumpai di jalan.

"Mereka beraksi dengan dikawal oleh beberapa panser dari kesatuan ARSU (Artileri Serangan Udara)," ungkap Kiki.

Demi menyaksikan pemandangan tersebut, sebagian siswa SMP Negeri 2 Bandung langsung ambil langkah seribu. Sedang sebagian lagi hanya menghindar masuk ke dalam gedung sekolah, termasuk Kiki. Namun alih-alih menghentikan pengejaran, massa yang menyebut diri sebagai Barisan Marhaen itu malah ikut merangsek juga. Beberapa di antaranya langsung menangkap Kiki dan memukulinya.

"Ini anak KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia)! Ini anak KAPPI! Bunuh aja! Bunuh aja!" teriak massa.

Kiki yang sadar ada dalam bahaya, langsung meronta. Guna menyelamatkan diri, dia pun ikut berteriak "hidup Bung Karno". Kontan teriakan itu sedikit melonggarkan amarah mereka. Dengan diringi massa berjumlah puluhan, Kiki dan seorang kawannya kemudian dimasukan ke dalam panser.

Setelah puas memporak-porandakan SMP Negeri 2 Bandung, massa kemudian bergerak ke arah Jalan Aceh. Kendati sudah berada di dalam panser, Kiki dan kawannya tak lepas jua dari teror. Sepanjang jalan badan panser terus dipukuli dengan parang dan teriakan "bunuh anak KAPPI" seolah tak mau berhenti.

Dalam suatu momen, seorang demonstran naik ke atas panser dengan membawa batu sebesar kepala bayi. Setelah membuka tutup bagian atas, dia melemparkan batu itu ke arah Kiki dan kawannya.

"Saya memang berhasil mengelak, tapi teman saya kena kepalanya. Berdarah-darahlah dia," kenang Kiki.

Di tengah kepanikan itulah, dari balik jendela kecil di dalam panser, Kiki melihat sekumpulan anak buah ayahnya tengah menonton pawai demonstrasi tersebut. Dia mafhum bahwa dirinya tengah berada di depan gedung Kodam VI Siliwangi. Tanpa banyak cakap, dia langsung meloncat keluar dan berlari kencang ke arah gedung Kodam.

Sontak para demonstran mengejar Kiki sambil mengacung-acungkan parang. Sementara itu, para prajurit Siliwangi yang tengah menonton baru sadar bahwa bocah yang sedang diburu itu adalah anak dari panglimanya. Secara spontan mereka langsung turun dan mengeluarkan pistol masing-masing.

"Dor! Dor! Dor! Mundur kalian! Mundur kalian!" teriak Letnan Kolonel Utut, salah satu staf Mayor Jenderal Ibrahim Adjie yang tak lain adalah ayah dari Kiki.

Massa tercekat. Mereka lalu mundur dan berbalik. Tak ada respons dari unit panser yang mengawal para demonstran itu. Andaikan para prajurit itu melakukan perlawanan sudah pasti akan terjadi banjir darah di muka gedung Kodam Siliwangi siang itu.

Kiki berhasil diselamatkan. Namun dia sangat menyesal tidak bisa ikut membawa kawannya yang terluka parah dan tertinggal di dalam panser. Hingga kini, Kiki tak tahu bagaimana nasib dia selanjutnya.

"Jika ingat itu saya sungguh menyesal. Tapi dalam kondisi seperti itu, saya juga bingung bagaimana membawa dia kabur dari dalam panser," ujar putra ke-2 Ibrahim Adjie tersebut.

Pangdam VI Siliwangi sangat khawatir dan berang dengan kejadian itu. Dia lantas menetapkan sejak hari itu anak-anaknya harus dikawal dua prajurit Kudjang (pasukan elit Kodam Siliwangi) jika akan pergi kemana pun, termasuk ke sekolah.

Sejarah mencatat memang pada hari itu kelompok pro Presiden Sukarno melakukan pamer kekuatan keliling Bandung. Mereka menyerukan protes akan upaya Angkatan Darat yang dari hari ke hari terus mengkebiri kekuasaan Presiden Sukarno

"Aksi itu menimbulkan bentrokan yang hebat dengan para mahasiswa Bandung anti Presiden Sukarno," tulis Abdullah Mustappa dalam Ragam Jurnalistik Sunda Melawan Komunis. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini