Sentra ikan asap di Kota Semarang akan dikembangkan jadi wisata

Jumat, 12 Januari 2018 17:27 Reporter : Muhammad Hasits
ikan asap semarang. ©2018 Merdeka.com/Humas Pemkot Semarang

Merdeka.com - Kuliner Mangut kepala ikan manyung telah lama menjadi salah satu kuliner favorit Kota Semarang yang diburu oleh masyarakat. Tak hanya itu, setiap wisatawan mulai dari artis hingga pejabat sering menyempatkan mencicipi kuliner mangut kepala ikan manyung jika singgah ke Kota Semarang.

Besarnya potensi olahan mangut ikan manyung sebagai daya tarik Kota Semarang, pada Jumat (12/1), Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi blusukan ke sentra pengolahan ikan asap di Bandarharjo, Semarang Utara. Tak hanya berkeliling, wali kota Semarang yang akrab disapa Hendi tersebut juga mengumpulkan sejumlah warga dan tokoh masyarakat untuk berdiskusi.

Salah satu yang menjadi perhatian Hendi adalah terkait infrastruktur jalan Lodan yang menjadi akses ke sentra ikan asap Bandarharjo. "Untuk perbaikan jalan Lodan kami anggarkan di tahun 2018 sebesar Rp 5 miliar," kata Hendi.

Hendi berharap dengan adanya perbaikan infrastruktur jalan, sentra ikan asap di Bandarharjo bisa menjadi salah satu destinasi wisata Kota Semarang yang mudah diakses. Selain itu, mengingat posisi sentra ikan asap Bandarharjo terletak di pesisir Kota Semarang, Hendi juga bertekad untuk memantapkan penanggulangan rob dan banjir yang lebih kuat di daerah tersebut.

"Kemudian tanggul di Kalibaru yang saat ini masih berupa tanah juga akan kami perkuat dengan konstruksi fisik yang lebih memadai," katanya.

Hendi juga berpesan bila mengembangkan sentra ikan asap menjadi salah satu destinasi wisata tak bisa hanya menjadi urusan pemerintah saja. "Kalau kami cermati, sebenarnya Bandarharjo ini perkembangannya cukup pesat, karena sekarang tidak ada rob tinggi lagi seperti dulu. Tapi waktu saya keliling, kok banyak sekali sampah yang dibiarkan di saluran, kalau ini dibiarkan maka tinggal menunggu waktu, pasti banjir lagi," kata Hendi.

"Panjenengan harus sadar bahwa walaupun pembangunan berjalan terus, tapi tidak ada yang mau merawat, maka pasti tidak maksimal, sehingga kerja baktinya harus diaktifkan lagi sesering mungkin," katanya. [has]

Topik berita Terkait:
  1. Kuliner Indonesia
  2. Semarang
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.