Temuan DNA Tertua di Dunia Ungkap Kehidupan di Kutub Utara 2 Juta Tahun Lalu

Kamis, 8 Desember 2022 15:34 Reporter : Hari Ariyanti
Temuan DNA Tertua di Dunia Ungkap Kehidupan di Kutub Utara 2 Juta Tahun Lalu Kutub utara. ©2012 Awi.de

Merdeka.com - DNA tertua di dunia yang pernah ditemukan mengungkap ekosistem di Greenland atau sekitar Kutub Utara 2 juta tahun lalu. Menurut DNA tersebut, saat itu Kutub Utara dipenuhi oleh populasi mastodon atau spesies mamalia bergading besar dari genus Mammut.

DNA tersebut, yang ditemukan di dalam sedimen di Peary Land, Greenland, menunjukkan bagaimana kehidupan di periode yang lebih hangat dalam sejarah Bumi.

Bentang alam, yang sekarang menjadi gurun kutub yang keras, pernah menampung pepohonan, karibu, dan mastodon. Beberapa tumbuhan dan hewan yang tumbuh subur di sana sekarang ditemukan di lingkungan Kutub Utara, sementara yang lain hanya ditemukan di hutan boreal yang lebih beriklim sedang.

"Apa yang kami lihat adalah ekosistem tanpa analog modern," kata Eske Willerslev, ahli genetika evolusioner Universitas Cambridge dan penulis senior studi tersebut, yang diterbitkan di Nature, dikutip dari laman Scientific American, Kamis (8/12).

DNA purba yang baru dianalisis berasal dari formasi batuan kaya fosil di Peary Land yang disebut Kap København, yang mengawetkan sedimen dari daratan dan muara sisi laut yang dangkal. Formasi tersebut, yang sebelumnya diperkirakan berusia sekitar 2 juta tahun oleh para ahli geologi, menghasilkan banyak sekali fosil tumbuhan dan serangga, tetapi hampir tidak ada tanda-tanda mamalia.

Analisis DNA sekarang mengungkapkan 102 genera tanaman yang berbeda, termasuk 24 yang tidak pernah ditemukan menjadi fosil dalam formasi, dan sembilan hewan, termasuk kepiting tapal kuda, kelinci, angsa, dan mastodon.

Willerslev mengatakan temuan baru ini "mengejutkan", karena tidak ada yang mengira mastodon tersebar sejauh itu di utara.

Para peneliti mulai mengumpulkan sedimen dari Peary Land pada 2006, tapi perlu waktu bertahun-tahun bagi teknologi untuk mengejar ambisi mereka.

"Setiap saat kami ada kemajuan dalam ekstraksi DNA dan merangkai teknologi, kami berusaha melihat kembali sampel-sampel ini, dan kami gagal dan gagal lagi," jelas Willerslev.

Selama bertahun-tahun, tim tidak bisa mengekstraksi DNA dari sampel.

Akhirnya dua tahun lalu, para peneliti berhasil mengekstraksi DNA yang telah rusak parah tersebut. Mereka lalu bisa membandingkan fragmen DNA dengan genom spesies modern. Kesamaan dalam penguraian genom mengungkap beberapa spesies yang tertinggal dalam DNA tersebut merupakan nenek moyang spesies modern.

Willerslev mengatakan, 2 juta tahun lalu situs Kap København adalah garis pantai berhutan tempat sungai mengalir ke muara. Sungai itu mengandung fragmen DNA dari daratan ke lingkungan laut, di mana DNA itu diawetkan. Itulah mengapa para peneliti menemukan bukti kepiting tapal kuda—sebuah keluarga yang tinggal lebih jauh ke selatan saat ini—bersama DNA dari karibu. Mereka juga menemukan bukti karang, semut, kutu, dan lemming.

Tumbuhan yang mendominasi bentang alam ini termasuk willow dan birch, yang ditemukan di bagian selatan Greenland saat ini. Ada juga pohon yang sekarang hanya ditemukan di hutan beriklim sedang, seperti poplar dan cedar, menurut penulis lain studi ini, Mikkel Pedersen, ahli geografi fisik di Universitas Kopenhagen.

Suhu rata-rata antara 11 dan 19 derajat Celcius lebih tinggi dari hari ini. Tapi Greenland berada di garis lintang yang sama seperti sekarang—artinya lanskap kuno ini bermandikan kegelapan 24/7 selama hampir setengah tahun. Fakta bahwa tumbuhan dapat bertahan hidup meski dalam waktu lama tanpa sinar matahari adalah bukti kekuatan adaptasi evolusioner, jelas Willerslev.

Kelompok organisme yang hidup di Greenland 2 juta tahun lalu juga mampu bertahan dan menghasilkan keturunan, seperti karibu modern, yang kini hidup di kondisi Kutub Utara yang jauh lebih dingin. Willerslev mengatakan, mempelajari urutan genetik hewan purba ini dapat mengungkapkan adaptasi yang dapat membantu spesies Kutub Utara bertahan hidup saat ini karena perubahan iklim yang disebabkan manusia. [pan]

Baca juga:
Ilmuwan Berhasil Hidupkan Virus 'Zombie' yang Terjebak 50.000 Tahun dalam Es
Korea Selatan Mulai Operasikan Bus Tanpa Sopir
Semut Tentara Tertua Ditemukan dalam Batu Amber Berusia 35 Juta Tahun
Tuai Kecaman, Seorang Pejabat Klaim Peradaban China Lebih Tua dari Mesir Kuno
Arkeolog Temukan Mumi Langka Berlidah Emas, Ternyata Kisah di Baliknya Mencengangkan
Difabel Jadi Parastronot Pertama di Dunia
Awalnya Dikira Batu Berisi Emas, Tapi Ternyata Nilainya Jauh Lebih Berharga

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini