Stephen Hawking di mata keluarga sampai NASA

Rabu, 14 Maret 2018 15:54 Reporter : Ira Astiana
Stephen Hawking di mata keluarga sampai NASA Stephen Hawking. © Theguardian.com

Merdeka.com - Ilmuwan terkemuka inggris Stephen Hawking meninggal dunia di usia 76 tahun hari ini. Dia menghembuskan napas terakhir di kediamannya di Cambridge, Inggris, dengan tenang.

Kematian Hawking meninggalkan luka mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga sejumlah pihak yang turut merasakan manfaat dari teori-teori yang diciptakan Hawking.

Anak-anak Hawking, Lucy, Robert, dan Tim, mengatakan bahwa sang ayah merupakan sosok luar biasa yang akan selalu dirindukan. Dia juga dianggap sebagai ayah yang sangat menyayangi keluarga dan orang sekitarnya.

"Hawking adalah ilmuan hebat dan pria dengan pekerjaan luar biasa. Warisan yang ditinggalkannya bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Keberanian, ketekunan, kecemerlangan, dan humornya telah menginspirasi orang-0rang di seluruh dunia," kata mereka, dikutip dari laman Reuters, Rabu (14/3).

"Dia pernah berkata, 'alam semesta tidak akan menjadi lebih baik jika tidak ada orang-orang yang kalian cintai'. Kami kan merindukannya selamanya," lanjut mereka.

Penemu World Wide Web (www), Tim Barners, juga menyatakan ungkapan serupa. Barners merasa dirinya telah kehilangan sosok yang benar-benar menginspirasi.

"Kami telah kehilangan pikiran kolosal yang memiliki semangat luar biasa. Beristirahatlah dengan tenang, Hawking," kata Barners.

Sementara itu, Wakil Rektor dari Universitas Cambridge, Profesor Stephen Toope juga mengungkapkan kesannya terhadap Hawking dan bagaimana dia akan mengingat Hawking selama sisa hidupnya.

"Profesor Hawking adalah sosok unik yang akan diingat kehangatan dan kasih sayangnya tidak hanya oleh orang-orang di Cambridge tapi juga di seantero dunua. Sumbangsihnya yang luar biasa terhadap pengetahuan ilmiah, ilmu sains, hingga matematika akan menjadi warisan yang tak terlupakan. Karakternya menginspirasi jutaan orang dan akan selalu dirindukan," ungkapnya.

Salah seorang rekan Hawking di Trinity College yang kni menjadi astronom, Profesor Lord Martin Rees, menceritakan sosok Hawking yang penuh semangat saat pertama kali menjalani masa perkuliahan.

"Saat saya daftar jadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Cambridge pada 1964, saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang dua tahun lebih senior. Dia goyah saat berdiri dan sulit bicara. Dialah Stephen Hawking. Dia baru saja didiagnosis menderita penyakit degeneratif saat itu. Dia divonis tidak akan bisa menyelesaikan PhDnya, tetapi yang luar biasa adalah dia bertahan hidup sampai 76 tahun," kata Rees yang kini menjadi Profesor Emeritus Kosmologi dan Astrofisika di Universitas Cambridge.

"Tragedi yang dialami Hawking di usia 22 tahun tidak membuat ekspektasinya menurun. Dia sendiri mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya sejak saat itu adalah anugerah. Namanya akan selalu dikenang dalam sejarah sains. Dunia terinspirasi oleh sosoknya yang melawan segala rintangan dengan tekad luar biasa," lanjutnya.

Terakhir, NASA pun menyampaikan pernyataan terkait berpulangnya Hawking.

"Teori-teorinya membuka segala kemungkinan agar kita dan dunia bisa menjelajahinya. Semoga Anda terus terbang seperti pahlawan di dunia microgravity, sebagaimana yang Anda katakan kepada astronot di Space Station pada 2014 lalu." [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini